This Author published in this journals
All Journal Humaniora
Hans Daeng
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Manggarai Daerah Sengketa antara Bima dan Goa Hans Daeng
Humaniora No 2 (1995)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1202.328 KB) | DOI: 10.22146/jh.1970

Abstract

Manggarai adalah salah satu dari lima kabupaten di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Dalam konsep tentang dinamika masyarakat dan kebudayaan ada pandapat yang mengatakan bahwa proses persebaran kebudayaan-kebudayaan secara geografis terjadi oleh perpindahan bangsa-bangsa (migrasi) di muka bumi. Jadi persebaran unsur-unsur kebudayaan (difusi) berjalan berbarengan dengan migrasi. Bila judul di atas dikaitkan dengan konsep dinamika masyarakat dan kebudayaan, maka dapat diajukan beberapa pertanyaan seperti: mengapa terjadi pertentangan antara Bima dan Goa, bagaimanakah cara-cara yang digunakan untuk merealisasi hasrat dan cita-cita masing-masing, apa akibatnya untuk Manggarai sendiri.
Upacara Sunat atau Gedho Logo pada Masyarakat Nage Hans Daeng
Humaniora No 1 (1995)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1003.936 KB) | DOI: 10.22146/jh.1984

Abstract

Tidak dihisapkannya seseorang sebagai anggota suatu kelompok etnik merupakan sesuatu yang fatal, karena orang yang bersangkutan tidak diberi peranan apa pun dalam masyarakat etnik itu. Untuk menjadi anggota kelompok etnik itu seseorang diharuskan mengikuti sejumlah upacara tertentu yang disebut upacara peralihan. Dalam upacara peralihan tersebut, pengikut upacara atau initiandus/initianda berkenalan dan belajar sejumlah penqetahuan dasar milik kelompok etniknya.Untuk menjadi anggota kelompok etnik tertentu seseorang diharuskan mengikuti sejumlah upacara tertentu yang disebut upacara peralihan. Dalam upacara peralihan tersebut, pengikut upacara atau initiandus/initianda berkenalan dan belajar sejumlah pengetahuan dasar milik kelompok etniknya. Seorang remaja lelaki yang menjelang menjadi pemuda (adolescens) akan diterima resmi sebagai anggota resmi masyarakat desanya bila sudah mengikuti dan mengalami upacara penyunatan yang diistilahkan tui, gedho logo atau gedho weka. Pada sub kelompok etnik Rendu dan Jawatiwa disebut tau nuwa.