Mouliza K.D Sweinstani
Pusat Penelitian Politik LIPI

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Mitos dan Realita Perempuan dalam Pemilu: Sebuah Pelajaran dari Situasi Politik Amerika di Era Polarisasi Mouliza K.D Sweinstani
Jurnal Penelitian Politik Vol 15, No 2 (2018): Konstelasi Politik di Tahun Elektoral
Publisher : Pusat Penelitian Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jpp.v15i2.756

Abstract

AbstrakTujuan dari penulisan tinjauan buku ini adalah untuk membedah buku yang ditulis oleh Danny Hayes dan Jennifer Lawless yang berjudul Women on the Run: Gender, Media, and Political Campaigns in Polarized Era. Buku ini ditulis oleh mereka sebagai respon dari situasi politik Amerika yang berkaitan dengan eksistensi perempuan dalam kehidupan politik Amerika Serikat khususnya dalam dua pemilu sela pada tahun 2010 dan 2014. Buku ini juga memberikan cara pandang baru terhadap area politik di era terpolarisasi di Amerika Serikat dengan berusaha membongkar pemahaman konvensional mengenai bias yang harus dihadapi oleh perempuan dalam dunia politik. Selain itu buku ini juga berusaha mencari tahu apa sebetulnya yang menjadi penyebab masih adanya pemahaman bias gender dalam area politik di Amerika Serikat. Hanya saja, simpulan dari buku ini perlu digunakan secara hati-hati agar pembaca tidak melakukan generalisasi atas kondisi politik yang telah dianggap netral gender dan tidak diskriminatif seperti yang terjadi di Amerika. Pembaca sebaiknya mengontekskan kondisi lanskap politik masing-masing agar dapat menghasilkan temuan yang mengelaborasi temuan Hayes dan Lawless. Dengan demikian, hal ini dapat memperkaya studi-studi tentang kampanye politik, media dan kandidat perempuan dalam kajian ilmu politik. Kata Kunci : era terpolarisasi, kampanye politik, netral gender, perilaku pemilih 
Pilihan Sistem Pemilu Dan Potret Keterwakilan Perempuan: Lesson Learned Sistem Pemilu Serentak 2019 Mouliza K.D Sweinstani
Jurnal Adhyasta Pemilu Vol. 2 No. 1 (2019): Jurnal Adhyasta Pemilu
Publisher : Badan Pengawas Pemilihan Umum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (663.12 KB) | DOI: 10.55108/jap.v2i1.33

Abstract

As a mechanism that turns voter preference into seats, the electoral system may have impact on women’s representation. Using qualitative methods through documentary study and analysis based on national vote recapitulation data, it is known that the simultaneous electoral system in Indonesia in 2019 provides a separate dilemma for women’s representation. Based on national recapitulation data, it is known that the potential of women elected in 2019 rose to 20.52 percent. However, this increase cannot be classified as a significant increase because elected women are still dominated by those from elite kinship. In addition, several elements of the electoral system such as the time of implementation, the district magnitude, the used of Pure Sainte Lague Formula and the stagnation of the affirmation policy make women have to work harder in the electoral districts to get as many votes as possible according to the laws of the Sainte Lague Pure formula. Therefore, this study suggests a commitment between political elements to be able to create a female- friendly electoral system so that the meaningful and substantive women representation can be achieved. In doing so, I recommend to consider the closed-PR List System and a voluntary gender quota within the party as the next electoral engineering.