This Author published in this journals
All Journal Forum Arkeologi
I Nyoman Sunarya
Balai Arkeologi Denpasar

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

UNSUR BUDAYA SINGASARI PADA TINGGALAN ARKEOLOGI DI BALI I Gusti Made Suarbahwa; I Nyoman Sunarya
Forum Arkeologi VOLUME 11, NOMOR 1, JANUARI 1998
Publisher : Balai Arkeologi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1281.696 KB) | DOI: 10.24832/fa.v11i1.652

Abstract

TINGGALAN ARKEOLOGI DI WILAYAH BADUNG SELATAN, WUJUD PERADABAN DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN I Nyoman Sunarya
Forum Arkeologi VOLUME 25, NOMOR 3, NOVEMBER 2012
Publisher : Balai Arkeologi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4694.025 KB) | DOI: 10.24832/fa.v25i3.605

Abstract

Archaeological remains are the forms of human adaptation patten to their environment, both biotic and abiotic. South Badung, especially Pecatu, Unggasan, and Jimbaran Vilagge have potencial archaeological remains to be developed as tourist destination. Most of the archaeological remains are located on coastal area which is steep karst cliff. This cliff also functioned to block any disaster caused by sea water for examples tsunami and storm. The problem of this study is how to keep and conserve the archaeological remains and its environment. The study is explanative and description research. The result of this study is that some archaeological remains in this area use as worship media (holly shine) which give positive effect to the environment management both biotic and abiotic. Tinggalan arkeologi merupakan wujud pola adaptasi manusia dengan lingkungan, baik biotik maupun abiotik. Badung selatan khususnya Desa Pecatu, Unggasan, dan Jimbaran memiliki tinggalan arkeologi yang cukup potensial dikembangkan sebagai obyek wisata. Sebagian besar tinggalan yang ada lokasinya pada sempadan pantai yang merupakan tebing karts yang sangat terjal. Tebing ini sekaligus sebagai benteng terhadap bencana alam yang diakibatkan oleh laut lepas, seperti tsunami dan badai. Bagaimana pentingnya menjaga, melestarikan tinggalan arkeologi dan lingkungannya di wilayah ini adalah permasalahan yang dibahas. Dengan menggunakan penelitian deskriptif eksplanatif, diperoleh hasil bahwa tinggalan arkeologi dimanfaatkan sebagai media pemujaan (bangunan suci) dan berdampak positif terhadap pengelolaan lingkungan baik biotik maupun abiotik.