Goenadi Nitihaminoto
Unknown Affiliation

Published : 27 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

BENTUK-BENTUK GERABAH KUBUR PETI BATU SOKOLIMAN: HUBUNGANNYA DENGAN TAHAP PENGUBURAN Goenadi Nitihaminoto
Berkala Arkeologi Vol. 10 No. 2 (1989)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v10i2.544

Abstract

Kompleks kubur peti batu di Gunung Kidul tersebut telah diteliti oleh J.L. Moens pada tahun 1934, kemudian dilanjutkan oleh van der Hoop pada tahun berikutnya. Kompleks kubur peti batu tersebut antara lain terdapat di Kajar, Sokoliman, dan Bleberan. Pada kubur peti batu di Kajar ditemukan 35 individu bertumpukan pada kedalaman 80 cm dengan bekal kubur berupa beberapa alat dari besi, antara lain arit. Temuan lain berupa cincin perunggu, sebuah mangkuk terakota berbentuk tempurung, dan ratusan mutisalah. Pada salah satu kerangka ditemukan sebilah pedang besi yang telah patah, dipegang di tangan kiri, sedangkan pada pedang itu sendiri masih melekat bekas-bekas tenunan kasar. Kubur peti batu yang di temukan di Bleberan berisi tiga rangka manusia bertumpukan dalam posisi terlentang dengan kepala di sebelah utara. Tiga buah benda besi terletak di atas dada rangka yang paling atas. Cincin tembaga, pisau besi, dan beberapa manik -manik tersebar di antara rangka-rangka tersebut (R.P. Soejono, 1984).
TEMUAN LEPAS BELIUNG PERSEGI DAN CARA-CARA MENCARI KONTEKSNYA Goenadi Nitihaminoto
Berkala Arkeologi Vol. 10 No. 1 (1989)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v10i1.536

Abstract

Pada umumnya beliung persegi ditemukan oJeh penduduk atau oleh petugas, baik dalam penelitian intensif maupun sebagai temuan permukaan. Temuan penduduk dan temuan permukaan pada umumnya tidak diketahui konteksnya dengan temuan lain, sehingga dianggap sebagai temuan lepas. Temuan dalam penelitian intensif pun kadang-kadang menghadapi kenyataan semacam ini, tetapi pada umumnya konteks temuan itu dapat diketahui dengan baik.
PERTANGGALAN RELATIF SITUS GUNUNGWINGKO (STUDI PENDAHULUAN) Goenadi Nitihaminoto
Berkala Arkeologi Vol. 10 No. 1 (1989)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v10i1.537

Abstract

Situs Gunungwingko berupa dua deret bukit pasir. Deretan pertama terletak di sebelah utara, sedangkan deretan kedua terletak di sebelah selatannya. Deretan bukit pasir pertama selanjutnya disebut B 1, sedangkan deretan bukit pasir kedua disebut B2. Penelitian di B1 telah dilakukan sebanyak 7 kelompok, yaitu B1 A-G dan penelitian di B2 telah dilakukan sebanyak 5 kelompok, yaitu 82 H-L.
GUA SONG AGUNG DI PACITAN: STUDI PENDAHULUAN TENTANG TEMUAN DAN MASA HUNIANNYA Goenadi Nitihaminoto
Berkala Arkeologi Vol. 9 No. 2 (1988)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v9i2.527

Abstract

Sebagian besar situs arkeologi di daerah Pacitan, Jawa Timur terletak di Kecamatan Punung. Di daerah ini ditemukan artefak-artefak yang hampir mewakili seluruh periodisasi prasejarah di Indonesia. Temuan alat-alat batu paleolitik ditemukan di Kali Baksoka, dan beberapa sungai di daerah Tabuhan. Temuan-temuan dari masa yang lebih muda di temukan pula di lembah Kali Baksoka, Ngrijangan, Teleng dan Gua Songterus di Tabuhan.
PEMBUATAN GERABAH TRADISIONAL DI PULAU BAWEAN: TINJAUAN TENTANG ASAL DAN HUBUNGAN SIMBIOTIK DENGAN BEBERAPA DAERAH DI INDONESIA Goenadi Nitihaminoto
Berkala Arkeologi Vol. 9 No. 1 (1988)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v9i1.494

Abstract

Pembuatan gerabah di pulau Bawean merupakan salah satu bentuk budaya tradisional yang masih hidup hingga saat ini. Secara umum dapat diperkirakan bahwa pengaruh hubungan antarsuku dengan daerah-daerah di luar pulau mengakibatkan perubahan teknik pembuatan gerabah di daerah itu. Teknik pembuatan gerabah dapat juga tidak mengalami perubahan, walaupun hubungan dengan daerah lain sudah berlangsung sejak lama dan intensif. Untuk mengungkapkan ada tidaknya perubahan-perubahan itu, perlu diadakan perbandingan teknik pembuatan gerabah dengan daerah-daerah yang sering mengadakan kontak dengan Bawean. Dengan demikian akan dapat diketahui sifat hubungan yang terjalin antara Bawean dengan beberapa daerah tersebut di atas.
TEMUAN DUA KAPAK PERUNGGU DARI TUBAN Goenadi Nitihaminoto
Berkala Arkeologi Vol. 2 No. 1 (1981)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v2i1.284

Abstract

Temuan benda-benda perunggu di Indonesia umumnya terdiri dari kapak, nekara, bejana, beberapa jenis senjata, area berbentuk manusia dan hewan serta perhiasan-perhiasan yang berupa hiasan telinga, gelang, cincin dan sebagaihya. Benda-benda itu ditemukan secara tersebar di beberapa daerah di Indonesia.
SEBUAH CATATAN TAMBAHAN TENTANG PREHISTORI IRIAN JAYA Goenadi Nitihaminoto
Berkala Arkeologi Vol. 1 No. 1 (1980)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v1i1.273

Abstract

Tulisan ini saya dasarkan atas tulisan R.P. Soejono yang berjudul Prehistori Irian Barat, ditufis tahun 1963. Tulisan ini dapat ditemukan dalam buku Penduduk Irian Barat dibawah redaksi Koentjaraningrat dan Harsja W. Bachtiar, halaman 39-54: Meskipun _tulisan tersebut hanya bersifat kompila tif, rasanya sudah cukup mewakili. Dalam kesernpatan ini saya ingin menambahkan tulisan itu berdasarkan hasil penelitian saya bersarna Dr. W.G. Solheim II, yang harnpir ineliputi seluruh Irian J aya. Dalam tulisan ini narna Irian Baral yang terdapat dalam tulisan tahun 1963 say a ganti dengan Irian J aya, sebuah nama yang djpakai sekarang.