Sondang Martini Siregar
Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

SITUS-SITUS MEGALITIK DI DESA PADANGRATU KABUPATEN OKU SELATAN (GAMBARAN ADAPTASI LINGKUNGAN) Sondang Martini Siregar
Forum Arkeologi VOLUME 31, NOMOR 2, OKTOBER, 2018
Publisher : Balai Arkeologi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2841.153 KB) | DOI: 10.24832/fa.v31i2.539

Abstract

The purpose of this study was to determine the environmental adaptation in Padangratu Village with the target of megalithic sites and their relationship with the physical environment in Padangratu Village. The method used is a qualitative method and a semi-macro space study. which examines the relationship between megalithic and environemental in Padangratu Village. The results show that the megalithic sites in Padangratu Village were Jurun, Langkat, Putor, Bumijawa and Tanjung sites located at an altitude of 400-1032 meters/asl. The community supporting the megalithic tradition in the village of Padangratu had adapted to the environment by establishing megalithic buildings near water sources (springs and siring) and on soils containing volcanic weather and choosed locations that provide sources of megalithic building materials. The occupational periods of megalithic sites in the village Padangratu was the 10th century AD, this was based on the relative date of the ceramic findings from these sites. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui adaptasi lingkungan di Desa Padangratu dengan sasaran situs-situs megalitik dan hubungannya dengan lingkungan fisik di Desa Padangratu. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dan studi ruang semi makro. yang mana menguji hubungan antara megalitik dan environemental reliks di Desa Padangratu. Hasilnya menunjukkan bahwa situs-situs megalitik di Desa Padangratu adalah situs Jurun, Langkat, Putor, Bumijawa dan Tanjung terletak di pada ketinggian 400 – 1032 meter/dpl. Masyarakat pendukung tradisi megalitik di Desa Padangratu sudah berdaptasi dengan lingkungan dengan mendirikan bangunan megalitik di dekat sumber air (mata air dan siring) dan pada tanah mengandung lapukan vulkanik dan memilih lokasi yang menyediakan sumber material bangunan megalitik.. Periode okupasi situs-situs megalitik di Desa Padangratu pada abad ke-10 M, hal ini berdasarkan pertanggalan relatif dari temuan keramik dari situs-situs tersebut.
PARADIGMA DALAM ILMU ARKEOLOGI Sondang Martini Siregar
ISTORIA: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 15, No 2 (2019): ISTORIA Edisi September 2019, Vol. 15, No.2
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.423 KB) | DOI: 10.21831/istoria.v15i2.26781

Abstract

ABSTRAKArkeologi merupakan ilmu yang mempelajari masa lampau melalui benda yang ditinggalkannya. Pada mulanya muncul dari kegemaran orang mengumpulkan harta karun selanjutnya berkembang dengan rasa ingin tahu yang besar mengenai masa lampau. Kajian arkeologi tidak dapat berdiri sendiri karena memerlukan ilmu bantu di dalam penelitian arkeologi yang bertujuan menyusun sejarah kebudayaan, memahami perilaku manusia dan mengetahui proses perubahan kebudayaan. Maka penelitian dianggap berhasil apabila semakin banyak para ahli dalam berbagai disiplin ilmu terlibat dalam penelitian arkeologi.Kata Kunci: paradigma, ilmu, arkeologiABSTRACTArcheology is the study of the past through the objects it left behind. In the beginning, arises from the passion of people collecting treasure and then develop with great curiosity about the past. Archeological studies cannot stand alone because they require knowledge in archeological research aimed at compiling cultural history, understanding human behavior, and knowing the process of cultural change. Then the research is considered successful if more and more experts in various disciplines are involved in archeological research.Keywords: paradigm, science, archeology
PERSEBARAN SITUS-SITUS HINDU-BUDDHA DAN JALUR PERDAGANGAN DI DAERAH SUMATERA SELATAN (INDIKASI JEJAK-JEJAK PERDAGANGAN DI DAERAH ALIRAN SUNGAI MUSI) Sondang Martini Siregar
Kindai Etam : Jurnal Penelitian Arkeologi Vol. 2 No. 1 (2016): Kindai Etam
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (689.255 KB) | DOI: 10.24832/ke.v2i1.5

Abstract

Di Sumatera Selatan berlangsung perdagangan  eksternal, yaitu perdagangan antarsamudra dan laut, dan perdagangan internal, yaitu perdagangan  antarsungai, cabang-cabang sungai dan danau. Kegiatan perdagangan tersebut menyebabkan masuk dan berkembangnya peradaban Hindu-Buddha di Sumatera Selatan. Permasalahan yang akan dibahas dalam artikel ini adalah bagaimana jalur perdagangan pada masa Hindu-Buddha di Sumatera Selatan?  Tujuan penelitian adalah mengetahui persebaran situs-situs Hindu-Buddha dan jalur perdagangan di Sumatera Selatan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan penalaran induktif. Penelitian ini didasari pemahaman bahwa Sumatera Selatan termasuk dalam jalur perdagangan internasional, kapal-kapal asing datang dari India dan Cina (Canton) bertemu di perairan pantai timur Sumatera. Selat Bangka merupakan pintu masuk kapal-kapal asing dan selanjutnya berlayar menyusuri perairan Sungai Musi. Situs Kota Kapur, Pulau Bangka merupakan bekas pelabuhan internasional, tempat kapal asing transit, dan kemudian berlayar menyusuri pantai timur Sumatera atau berlayar ke pedalaman Sumatera Selatan. Bekas dermaga ditemukan di situs Teluk Kijing, Bumiayu, dan Bingin Jungut. Hal ini menunjukkan bahwa pada ketiga situs tersebut pernah menjadi pelabuhan transit bagi kapal yang berlayar di perairan Sungai Musi beserta cabang-cabang Sungai Musi. Masuknya peradaban Hindu-Buddha diperkirakan dimulai pada abad ke-8 Masehi. Peradaban Hindu-Buddha tersebar di daerah hilir Sungai Musi sampai dengan hulu Sungai Musi.
Penempatan Bangunan Candi Tingkip, Lesung Batu dan Bingin Jungut pada Bentang Lahan Fluvial di Musi Rawas, Propinsi Sumatera Selatan Sondang Martini Siregar
Naditira Widya Vol 11 No 1 (2017): Naditira Widya Vol. 11 No. 1 April 2017
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2750.296 KB) | DOI: 10.24832/nw.v11i1.192

Abstract

Daerah Musi Rawas memiliki dataran aluvial yang membentang di daerah hulu Sungai Musi sampai dengan daerah hulu Sungai Rawas. Pada wilayah tersebut manusia berusaha berinteraksi dengan alam tidak hanya untuk bertahan hidup tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan ritualnya. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya bangunan candi di Tingkip, Lesung Batu dan Bingin Jungut pada abad ke-9 Masehi. Permasalahan dalam penelitian ini yaitu bagaimana bentuk adaptasi masyarakat pendukung bangunan candi dengan lingkungan fisik di situs Tingkip, Lesung Batu dan Bingin Jungut. Hal ini disebabkan bangunan candi didirikan harus mempertimbangkan lingkungan fisiknya, yaitu jenis tanah, keletakan candi dengan sumber air, sumber bahan bangunan candi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran bentuk adaptasi manusia pendukung bangunan candi dengan lingkungan fisik di situs Tingkip, Lesung Batu dan Bingin Jungut. Metode yang dipakai adalah metode kualitatif dangan analisis ruang sebaran bangunan candi dengan lingkungan fisiknya dan analisis laboratorium, yaitu uji sample tanah dari masing-masing profil tanah dari situs Tingkip, Lesung Batu dan Bingin Jungut. Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai bahan masukan untuk penyusunan strategi dan kebijakan yang berhubungan dengan pemanfaatan lahan pada bentang lahan fluvial. Keberadaan bangunan candi menunjukkan adanya sisa peradaban India di situs Tingkip, Lesung Batu dan Bingin Jungut dan  masyarakat pendukung candi mempertimbangkan lingkungan fisik dalam mendirikan bangunan candi pada ketiga situs tersebut.