Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Model Pembelajaran Seni Musik dalam Bentuk Ansambel untuk Siswa Sekolah Menengah Pertama R. Taryadi, Tri Wahyu Widodo, dan Bambang Riyadi
EKSPRESI Vol 9, No 1 (2009)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekp.v0i0.441

Abstract

Music Education Model in Ensemble Form for Junior High School Students. There are two music education models applied in Junior High School, namely lecturing and task assigning. These two methods are unattractive for the students. Now, there is a new model that developing, the music ensemble model. The model is considered more interes11ng and interactive. However it still weak in terms of the instruction techniques. This writing describes a model of students group work in learning music. It is assumed that the model will promote the students' creativity, and also students ' aesthetic, ethic and artistic sensitiveness so that it will support the pupils' character building and other lessons as well. Keywords: Method, technique, music ensamble.
Pembinaan Kelompok Band Pelestari Koesplus Melalui Metode Drill di Srihardono, Pundong, Bantul Dilla Octavianingrum; R. Taryadi; Royyan Al Fawaz
Jurnal Pengabdian Seni Vol 3, No 2 (2022): NOVEMBER 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v3i2.8190

Abstract

Pengabdian dilakukan dengan pembinaan kepada kelompok Band Pelestari Koesplus yang berada di Kelurahan Srihardono, Pundong, Bantul. Kelompok kesenian ini terbentuk dengan maksud melestarikan lagu-lagu Koes Plus dan Koes Bersaudara yang melegenda sampai saat ini. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu terdapat permasalahan, yaitu kaderisasi pelaku seni yang sedikit terhambat dikarenakan kurang minatnya remaja untuk melestarikan kesenian setempat. Tujuan diadakannya pengabdian untuk meningkatkan kesadaran masyarakat sekitar tentang pelestarian kesenian yang dimiliki dan peningkatan kualitas seni. Pengabdian dilakukan dengan menggunakan pendekatan pengembangan masyarakat secara partisipatif. Hasil dari kegiatan pengabdian ini adalah terlaksananya pembelajaran bermain musik (band) menggunakan metode drill dengan materi lagulagu Koesplus. Penyampaian teknik bermain musik secara benar dan latihan terprogram dapat meningkatkan keterampilan dalam bermain musik. Kegiatan pengabdian berjalan dengan baik dengan antusiasme masyarakat yang tinggi dan diharapkan program pengabdian dalam bentuk P3Wilsen menjadi program tahunan untuk daerah setempat.
Peran Fingering Pada Teknik Pizzicato Dan Harmonics Dalam Reinterpretasi Karya Maurice Ravel Anugrah Zigana Sani; R Taryadi; Djohan Salim
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 1 (2023): Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui peran fingering pada teknik pizzicato dan harmonics dalam upaya reinterpretasi terhadap repertoar Tzigane karya Maurice Ravel. Sering kita jumpai bahwa solois menerapkan penjarian yang berbeda dari penjarian yang sudah ditentukan dalam partitur. Tidak hanya itu, perbedaan juga terjadi antara solois yang satu dan yang lainnya meskipun memainkan karya yang sama. Penelitian ini menggunakan teori yang meliputi fingering, pizzicato, harmonic dan interpretasi yang nantinya akan membantu dalam proses realisasi pada dinamika, warna suara dan artikulasi sebagai bentuk dari reinterpretasi seorang solois.  Metode Penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Kasus yang digunakan adalah teknik pizzicato dan harmonics pada repertoar Tzigane karya Maurice Ravel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fingering pada teknik pizzicato mempengaruhi keberhasilan solois dalam merealisasikan reinterpretasi melalui teknik. Sedangkan fingering pada teknik harmonics dapat mendukung solois dalam merubah atau menguatkan kesan musikal tertentu berdasarkan rancangan reinterpretasi (blueprint).Kata kunci : fingering, pizzicato, harmonics, reinterpretasi, Maurice Ravel. ABSTRACTThe Role Of Fingering In Pizzicato And Harmonics Techniques In Reinterpretation Of Maurice Ravel's WorksThe purpose of this study was determine the role of fingering in the pizzicato technique and harmonics in an effort to reinterpret Maurice Ravel's Tzigane repertoire. We often find that the soloist applies fingering that is different from the fingering that has been determined in the scores. Not only that, differences also occur between one soloist and another even though they play the same work. This Study used the theory that includes fingering, pizzicato, harmonics and interpretation, which will help the process of realizing dynamics, timbre and articulation as a form of reinterpretation by a soloist. The research method used is a qualitative method with a case study approach. The case used is the pizzicato technique and harmonics in Maurice Ravel's Tzigane repertoire. The results of the study show that fingering in the pizzicato technique influences the success of the soloist in realizing reinterpretation through technique. Meanwhile, fingering in harmonics techniques can support soloists in changing or strengthening certain musical impressions based on reinterpretation designs (blueprints).Keywords: fingering, pizzicato, harmonics, reinterpretation, Maurice Ravel.
Pembinaan Kelompok Band Pelestari Koesplus Melalui Metode Drill di Srihardono, Pundong, Bantul Dilla Octavianingrum; R. Taryadi; Royyan Al Fawaz
Jurnal Pengabdian Seni Vol 3, No 2 (2022): NOVEMBER 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v3i2.8190

Abstract

Pengabdian dilakukan dengan pembinaan kepada kelompok Band Pelestari Koesplus yang berada di Kelurahan Srihardono, Pundong, Bantul. Kelompok kesenian ini terbentuk dengan maksud melestarikan lagu-lagu Koes Plus dan Koes Bersaudara yang melegenda sampai saat ini. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu terdapat permasalahan, yaitu kaderisasi pelaku seni yang sedikit terhambat dikarenakan kurang minatnya remaja untuk melestarikan kesenian setempat. Tujuan diadakannya pengabdian untuk meningkatkan kesadaran masyarakat sekitar tentang pelestarian kesenian yang dimiliki dan peningkatan kualitas seni. Pengabdian dilakukan dengan menggunakan pendekatan pengembangan masyarakat secara partisipatif. Hasil dari kegiatan pengabdian ini adalah terlaksananya pembelajaran bermain musik (band) menggunakan metode drill dengan materi lagulagu Koesplus. Penyampaian teknik bermain musik secara benar dan latihan terprogram dapat meningkatkan keterampilan dalam bermain musik. Kegiatan pengabdian berjalan dengan baik dengan antusiasme masyarakat yang tinggi dan diharapkan program pengabdian dalam bentuk P3Wilsen menjadi program tahunan untuk daerah setempat.