Rahmiati Tanudjaja
Seminari Alikitab Asia Tenggara

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Kontekstualisasi sebagai Sebuah Strategi dalam Menjalankan Misi : Sebuah Ulasan Literatur Rahmiati Tanudjaja
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 1 No 1 (2000)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.794 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v1i1.32

Abstract

Kata “kontekstualisasi” telah ditambahkan pada perbendaharaan kata dalam bidang misi dan teologi sejak diperkenalkan oleh Theological Education Fund (TEF) pada tahun 1972. Konteks pembicaraan tentang kontekstualisasi dalam diskusi TEF adalah pendidikan teologi di negara-negara dunia ketiga. Namun, para misiolog menyadari bahwa ide dari kontekstualisasi itu sendiri sebenarnya sudah ada jauh sebelum TEF bersidang, yaitu terdapat di Kitab Suci. Contohnya adalah inkarnasi Yesus Kristus, dan pendekatan Paulus pada waktu ia mengkomunikasikan injil kepada orang bukan Yahudi (Kis 17:16-34, 1Kor 9:19-23). Oleh karena itu tidaklah heran apabila ada di antara para misiolog yang beranggapan bahwa kontekstualisasi hanya merupakan istilah baru dari istilah-istilah yang telah ada dan dipakai sebelumnya. Istilah-istilah itu seperti indigenisasi, inkulturasi, akomodasi dan adaptasi. Selain itu di antara para misiolog dan teolog juga berbeda pendapat tentang apa yang perlu dikontekstualisasikan. Apakah Alkitabnya, teologinya, atau berita injilnya? Mereka juga mendiskusikan tentang sejauh mana proses kontekstualisasi itu boleh dilakukan. Apakah hanya isinya, bentuknya atau keduanya? Oleh karena itu, tulisan ini akan menjabarkan pengertian kontekstualisasi dan korelasi pengertian kontekstualisasi dengan aplikasi kontekstualisasi sebagai sebuah strategi misi. Bagian ini dibagi ke dalam tiga topik pembahasan: Pertama, pemaparan persepsi kontekstualisasi; kedua, hubungan antara kebudayaan dan worldview dengan kontekstualisasi; dan ketiga, penyajian model-model kontekstualisasi.