Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Kaidah Kaidah Hukum Islam Tentang Siyasah Syariyah Usman Musthafa
Al Ahkam Vol. 13 No. 1 (2017): Januari-Juni 2017
Publisher : Fakultas Syariah UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37035/ajh.v13i1.1819

Abstract

Pemimpin dalam konteks politik (politik Islam), memiliki peran penting dalam gerak kenegaraan. Ia sangat menetukan dalam penentuan hitamputihnya suatu negara. Jika ia kebetulan seorang pemimpin yang baik maka kebijakan-kebijakan yang dibuatnya bersifat arif. Artinya kebijakan-kebijakan itu banyak berpihak pada rakyat kecil.Tetapi jika pemimpin itu seorang yang kurang baik maka kebijakan-kebijakan yang dibuatnya diperkirakan kurang berpihak pada rakyat kecil.Karena pentingnya seorang pemimpin dalam kontek sini, maka ulama-ulama terdahulu menaruh perhatian serius kepada seorang pemimpin. Hal itu dapat dilihat misalnya, pada masa kejayaan Islam, pemimpin sering diberi gelar yang dikesani sangat berlebihan. Di samping memberikan gelar yang dikesani berlebihan itu, para ulama member persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi oleh calon pemimpin dan pemimpin. Kedua hal ini merupakan bukti betapa pentingnya seorang pemimpin.Kata Kunci :Pemimpin, rakyat, Negara.
Kaidah-Kaidah Fikih dan Masalah Fikih Kontemporer Usman Musthafa
Al Ahkam Vol. 12 No. 1 (2016): Januari-Juni 2016
Publisher : Fakultas Syariah UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37035/ajh.v12i1.2795

Abstract

.
Ijtihad Politik Neo-Modernis Kajian tentang Relasi Antara Islam dan Negara Masa Orde Baru Usman Musthafa
Al Ahkam Vol. 11 No. 2 (2015): Juli-Desember 2015
Publisher : Fakultas Syariah UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37035/ajh.v11i2.2850

Abstract

.
Implikasi Kriminal Identitas Tadlis dalam Pernikahan: Tinjauan Hukum Islam Tentang Pembatalan Pernikahan dan Tanggung Jawab Pelaku Tedy Subrata; Usman Musthafa; Agus Prihartono; Itang; Sayehu
Bulletin of Community Engagement Vol. 6 No. 1 (2026): Bulletin of Community Engagement
Publisher : CV. Creative Tugu Pena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51278/bce.v6i1.1791

Abstract

This study examines the criminal implications of tadlis of identity (concealment or deception of identity) in marriage, focusing on its relationship to marriage annulment and the legal responsibility of the perpetrator under Islamic law and Indonesian positive law. The research discusses acts of concealing or falsifying identity, marital status, age, or other administrative data that form the basis for the validity of a marriage contract and its official registration. Using a normative legal research method with statutory, conceptual, and case approaches, this study analyzes primary legal materials, including the Indonesian Marriage Law, the Compilation of Islamic Law (KHI), the new Indonesian Criminal Code (Law of the Republic of Indonesia Number 1 of 2023), and the Population Administration Law, as well as secondary materials such as court decisions and Islamic legal literature on fraud (tadlis). The findings reveal that identity tadlis constitutes a form of fraud that undermines the essential elements of consent and honesty in the marriage contract (ijab qabul), thereby serving as a strong legal basis for marriage annulment under both Islamic law (as fasakh) and positive law (Article 27 paragraph (2) of the Indonesian Marriage Law and Article 72 paragraph (2) of the Compilation of Islamic Law). Furthermore, perpetrators may incur criminal liability when such acts fulfill the elements of document forgery, manipulation of population administration data, or concealment of lawful impediments to marriage, particularly under Articles 402–403 of the new Criminal Code. Consequently, the resolution of identity fraud cases in marriage should be approached through an integrated perspective encompassing Islamic law, family law, and criminal law, as marriage annulment and criminal sanctions address different yet complementary legal functions.