Achmad Gozali
IAI Bunga Bangsa Cirebon

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Layanan Bimbingan Dan Konseling Berbasis Teknologi Informasi Pada Masa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) Achmad Gozali
Coution : journal of counseling and education Vol 1 No 2 (2020): Coution
Publisher : Universitas Islam Bunga Bangsa Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47453/coution.v1i2.117

Abstract

Government policy in opposing the Covid-19 pandemic with the aim of preventing and breaking the chain of transmission of Covid-19 discusses the application of PSBB (Large-Scale Social Restrictions) and conducting learning in networks (brave) in the field of education. Likewise the implementation of guidance and counseling services is done online or online by utilizing rapidly developing technology. The technology that was originally used in counseling is only as a supporting tool to facilitate data collection, data processing, needs assessment, and service support, now internet-based technology has become a major need that influences the success in implementing counseling and guidance services during the PSBB. Accordingly, the survey results show that the number of internet users aged 10-14 years was 66.2%, aged 15-19 years 91% which were the most users (APJII, 2018) and in 2020 the literacy age of 15 years and over was 96 % ranks the top of internet users. This can be used as a benchmark that the age of ramaja or students is a potential age of using the internet, which means that between counselor and counselee has the potential to be able to carry out interactive communication. So there needs to be adjustments and guidelines for guidance and counseling services based on information technology, so that counseling service activities remain effective and optimal. In the implementation of BK services that are carried out by using several applications from various platforms and technologies, it is necessary to pay attention to several things including potential, obstacles or challenges, strengths, weaknesses, and code of ethics in implementing information technology-based guidance and counseling services. Abstrak Kebijakan pemerintah dalam menghadapi pandemi Covid-19 dengan tujuan untuk mencegah dan memutus rantai penularan Covid-19 diantaranya yaitu menerapkan PSBB (Pembatasan Social Berskala Besar) dan melakukan pembelajaran dalam jaringan (daring) pada institusi pendidikan. Begitupun pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling (BK) dilakukan secara daring atau online dengan memanfaatkan teknologi yang sedang berkembang pesat. Teknologi yang semula digunakan dalam konseling hanya sebagai sarana pendukung untuk mempermudah dalam menghimpun data, mengolah data, asesmen kebutuhan, dan pendukung pelayanan, kini teknologi yang berbasis internet menjadi kebutuhan utama yang mempengaruhi keberhasilan dalam pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling pada masa PSBB. Sejalan dengan itu, hasil survey menunjukkan bahwa jumlah pengguna internet usia 10-14 tahun 66,2%, usia 15-19 tahun 91% yang merupakan pengguna terbanyak (APJII, 2018) dan pada tahun 2020 usia literasi yaitu 15 tahun ke atas sebesar 96% menempati urutan puncak pengguna internet. Hal tersebut dapat dijadikan tolak ukur nahwa usia remaja merupakan usia potensial menggunakan internet, yang artinya antara konselor dan konseli berpotensi untuk dapat melakukan komunikasi interaktif. Sehingga perlu ada penyesuaian dan pedoman terhadap layanan bimbingan dan konseling berbasis teknologi informasi, agar kegiatan layanan BK tetap terlaksana secara efektif dan optimal. Dalam pelaksanaan layanan BK yang dilakukan dengan menggunakan beberapa aplikasi dari berbagai platform dan teknologi tersebut perlu memperhatikan beberapa hal diantaranya adalah hambatan atau tantangan, kelebihan, kelemahan, dan kode etik dalam menerapkan layanan bimbingan dan konseling berbasis teknologi informasi.
Pengembangan Model Layanan Penguasaan Konten Berbasis Ajaran Islam untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Achmad Gozali
Coution : journal of counseling and education Vol 1 No 1 (2020): Coution
Publisher : Universitas Islam Bunga Bangsa Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47453/coution.v1i1.82

Abstract

Motivation to learn is one of the main factors in learning. Students who are less motivated to learn more likely to avoid learning and academic failure. So that the necessary services to treat the condition, such as mastery of content services based on Islamic teachings attribution exercise. The purpose of this study are to: 1) know the description of service implementation mastery of content; 2) determine the level of motivation to learn; 3) generate a service model based content mastery Islamic teaching to enhance learning motivation; 4) determine the effectiveness of the model in increasing motivation to learn. This study uses research and development methods with research steps include: preliminary studies, design a hypothetical model, due diligence hypothetical model, repair hypothetical model, field tests, hypothetical model finished product; and test the effectiveness of the model. The results showed that 1) the service content mastery been implemented in schools, but not in accordance with the work program; 2) the level of student motivation before being treated with an average in the category fairly and less; 3) generate a service model based content mastery Islamic teaching to improve students' motivation in high school, which consists of eight components, namely the rational, vision and mission, objectives, content, support systems, stages of implementation, evaluation, and follow-up; 4) the service model mastery of Islamic teachings based content effectively to improve student motivation. Keywords: Motivation; Learning; Atribution Retraining. Abstrak Motivasi belajar merupakan salah satu faktor utama dalam belajar. Siswa yang kurang termotivasi belajar cenderung akan menghindari kegiatan belajar dan mengalami kegagalan akademik. Sehingga diperlukan layanan untuk mengatasi kondisi tersebut, misalnya layanan penguasaan konten tentang latihan atribusi berbasis ajaran Islam. Tujuan penelitian ini yaitu untuk: 1) mengetahui gambaran pelaksanaan layanan penguasaan konten; 2) mengetahui tingkat motivasi belajar; 3) menghasilkan model layanan penguasaan konten berbasis ajaran Islam untuk meningkatkan motivasi belajar; 4) mengetahui tingkat keefektifan model dalam meningkatkan motivasi belajar. Penelitian ini menggunakan metode penelitian pengembangan dengan langkah penelitian, meliputi: studi pendahuluan, merancang model hipotetik, uji kelayakan model hipotetik, perbaikan model hipotetik, uji lapangan, model hipotetik hasil akhir produk; dan uji efektivitas model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) layanan penguasaan konten pernah dilaksanakan di sekolah, namun belum sesuai dengan program kerja; 2) tingkat motivasi belajar siswa sebelum diberi perlakuan yaitu rata-rata pada kategori cukup dan kurang; 3) menghasilkan model layanan penguasaan konten berbasis ajaran Islam untuk meningkatkan motivasi belajar siswa di SMA, yang terdiri dari 8 komponen, yaitu rasional, visi dan misi, tujuan, isi, dukungan sistem, tahapan pelaksanaan, evaluasi, dan tindak lanjut; 4) model layanan penguasaan konten berbasis ajaran Islam efektif untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Kata Kunci: Motivasi Belajar; Latihan Atribusi; Layanan Penguasaan Konten.