Hardi Budiyana
Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Published : 16 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Ineransi Alkitab sebagai Dasar Kurikulum Pendididikan Kristen Hardi Budiyana
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 3, No 2 (2021): Maret 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v3i2.92

Abstract

Inerrancy means the Bible is infallible. Because the Bible was revealed by God the Holy Spirit Himself. Even though the researcher is a sinner; however, the initiator is a God who cannot do wrong. The Holy Spirit uses all the individual potentials (shortcomings and strengths) of the Bible writers and is completely under the leadership and control of the Holy Spirit, so that what the authors of the books of the Bible write do not come from the author, but from God concerning the Word of God himself. A Christian can accept this inerrant biblical quality, so he must also accept other biblical qualities. This study uses a descriptive qualitative method regarding the Christian education curriculum that must be based on the inerrancy of the Bible. Biblical inerrancy emphasizes that the Bible is the Word of God, the Bible was written without errors because the idea of writing came from God. The curriculum is structured based on the inerrancy of the Bible with the aim of Christian education so that learners know God's work of salvation in and through the Lord Jesus alone, so that they believe that Jesus is God, so that those who believe have eternal life and their lives are changed by the Holy Spirit through the power of the Bible. The power of the Bible is because the Bible is the Word of God. Nothing can survive under the sovereignty of God's written Word, which is the Bible. Therefore, the Christian religious education curriculum is built based on the Bible in order to achieve its goals.Ineransi berarti Alkitab tidak mungkin salah. Karena Alkitab diwahyukan oleh Allah Roh Kudus sendiri. Walau penelitinya adalah orang berdosa; namun, inisiatornya adalah Allah yang tidak mungkin berbuat salah. Roh Kudus menggunakan semua potensi individual (kekurangan dan kelebihan) penulis Alkitab dan secara utuh berada dalam pimpinan dan kontrol Roh Kudus, sehingga yang ditulis oleh penulis kitab dalam Alkitab bukanlah berasal dari penulis, melainkan dari Allah mengenai Firman Allah sendiri. Orang Kristen dapat menerima sifat Alkitab yang ineransi ini, maka ia pasti juga menerima sifat-sifat Alkitab yang lain. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif mengenai kurikulum pendidikan  Kristen harus didasarkan pada ineransi Alkitab.  Ineransi Alkitab menekankan Alkitab adalah Firman Tuhan, Alkitab ditulis tanpa ada kesalahan karena ide dari tulisan berasal dari Allah. Kurikulum disusun berdasar pada ineransi Alkitab dengan tujuan Pendidikan Kristen agar pembelajar mengenal karya keselamatan Allah di dalam dan melalui Tuhan Yesus saja, supaya percaya bahwa Yesuslah Allah, sehingga yang percaya beroleh hidup yang kekal dan hidupnya diubah oleh Roh Kudus melalui kuasa Alkitab. Kuasa Alkitab adalah karena Alkitab adalah Firman Allah. Tidak ada yang dapat bertahan di bawah kedaulatan Firman Tuhan yang tertulis, yaitu Alkitab. Karena itu kurikulum pendidikan Agama Kristen dibangun berdasarkan Alkitab agar mencapai tujuan.
Roh Kudus Dalam Proses Pembelajaran Pendidikan Kristen Mewujudkan Pengajaran Kristen Yang Mengandung Nilai Kekal Hardi Budiyana
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 1, No 1 (2018): September 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v1i1.5

Abstract

AbstrakPerkembangan kebudayaan masa kini, termasuk bidang pendidikan, cenderung mengarah kepada kebangkitan agama (spiritualitas). Ini merupakan trend global yang berkembang pesat setelah era tahun 1990-an. Agama yang diminati sekarang adalah agama yang menekankan dimensi spiritualitas, yaitu pengalaman-pengalaman yang bersifat supranatural.   Dalam dunia pendidikan sekarang, spiritualisme sering dipakai untuk mensuport metode-metode pembelajaran. Sebagai contoh adalah pemakaian metode-metode pembelajaran meditatif dan spiritualistik gerakan Abad Baru (New Age Movement). Sementara itu, spiritualitas juga menjadi trend dalam berkembangan kekristenan masa kini. Gerakan Karismatik berkembang mendunia. Aliran ini menekankan pentingnya pengalaman-pengalaman supranatural dalam pertumbuhan rohani. Proses pembelajaran Firman Tuhan, juga diyakini sebagai proses supranatural. Faktor Roh Kudus diyakini merasuki semua bidang pelayanan, termasuk pelayanan pendidikan. Timbullah banyak persoalan mengenai bagaimana peran Roh Kudus dalam pendidikan Kristen, khususnya pembelajaran. Kelompok Karismatik ekstrim meyakini dominasi pekerjaan Roh Kudus dalam segala aspek kehidupan dan pelayanan Kristen. Dalam kotbah – termasuk pengajaran Alkitab lainnya – Roh Kudus diyakini sebagai Pribadi yang memberi campur tangan sampai pada detil-detil kegiatan belajar. Pada prinsipnya, Roh Kudus bekerja dalam kehidupan dan pelayanan orang percaya. Pertumbuhan rohani Kristen merupakan karya Roh Kudus, mulai dari proses kelahiran baru oleh Roh Kudus, pendiaman oleh Roh Kudus, dan proses dipenuhi oleh Roh Kudus. Setiap pelayanan Kristen juga merupakan kegiatan yang dilakukan oleh karena pimpinan dan kekuatan dari Roh Kudus. Faktor Roh Kudus tidak boleh dilupakan dalam proses pembelajaran Kristen. Roh Kudus adalah representasi Kristus yang berkarya secara supranatural sebagai Guru Agung dalam proses pembelajaran. Roh Kudus yang telah mewahyukan bahan ajar (Alkitab) itu kini turut bekerja dalam proses pembelajaran untuk memberi penerangan (iluminasi) sehingga guru bisa mengajar dengan baik dan murid bisa belajar dengan baik pula. Roy B. Zuck memandang begitu pentingnya peran Roh Kudus sehingga tanpa Dia, pembelajaran tidak akan efektif (bahkan menjadi cenderung sekuler) walaupun ada guru dan bahan ajar berupa Alkitab. Roh Kudus dan pembelajaran dalam Pendidikan Kristen (PAK) mempunyai korelasi yang sangat kuat. Keberadaan dan peran Roh Kudus dalam PAK merupakan ciri pembeda PAK dibanding dengan pembelajaran sekuler. Namun, hal itu bukan berarti PAK merupakan proses pembelajaran yang total supranatural. PAK merupakan sebuah pembelajaran kontemporer yang berdimensi supranatural. Peran Roh Kudus yang merupakan representasi Kristus dalam PAK adalah sebagai Guru Agung. Pembelajaran dalam PAK ditangani secara tim oleh Roh Kudus dan guru PAK. Baik guru PAK maupun murid PAK sama-sama harus bergantung dalam pimpinan iluminatif dari Roh Kudus. Peran Roh Kudus juga dinyatakan dalam kasih karunia yang Dia berikan untuk meningkatkan kapasitas guru dan murid. Ada dimensi-dimensi yang harus dikembangkan secara akal budi. Tetapi, dalam hal dimensi spiritual, Roh Kudus harus merupakan satu-satunya Pribadi yang boleh mengisi dan memberi penguatan. Pendidikan Kristen adalah pendidikan yang empowered by Holy Spirit. 
Ineransi Alkitab sebagai Dasar Kurikulum Pendididikan Kristen Hardi Budiyana
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 3, No 2 (2021): Maret 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v3i2.92

Abstract

Inerrancy means the Bible is infallible. Because the Bible was revealed by God the Holy Spirit Himself. Even though the researcher is a sinner; however, the initiator is a God who cannot do wrong. The Holy Spirit uses all the individual potentials (shortcomings and strengths) of the Bible writers and is completely under the leadership and control of the Holy Spirit, so that what the authors of the books of the Bible write do not come from the author, but from God concerning the Word of God himself. A Christian can accept this inerrant biblical quality, so he must also accept other biblical qualities. This study uses a descriptive qualitative method regarding the Christian education curriculum that must be based on the inerrancy of the Bible. Biblical inerrancy emphasizes that the Bible is the Word of God, the Bible was written without errors because the idea of writing came from God. The curriculum is structured based on the inerrancy of the Bible with the aim of Christian education so that learners know God's work of salvation in and through the Lord Jesus alone, so that they believe that Jesus is God, so that those who believe have eternal life and their lives are changed by the Holy Spirit through the power of the Bible. The power of the Bible is because the Bible is the Word of God. Nothing can survive under the sovereignty of God's written Word, which is the Bible. Therefore, the Christian religious education curriculum is built based on the Bible in order to achieve its goals.Ineransi berarti Alkitab tidak mungkin salah. Karena Alkitab diwahyukan oleh Allah Roh Kudus sendiri. Walau penelitinya adalah orang berdosa; namun, inisiatornya adalah Allah yang tidak mungkin berbuat salah. Roh Kudus menggunakan semua potensi individual (kekurangan dan kelebihan) penulis Alkitab dan secara utuh berada dalam pimpinan dan kontrol Roh Kudus, sehingga yang ditulis oleh penulis kitab dalam Alkitab bukanlah berasal dari penulis, melainkan dari Allah mengenai Firman Allah sendiri. Orang Kristen dapat menerima sifat Alkitab yang ineransi ini, maka ia pasti juga menerima sifat-sifat Alkitab yang lain. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif mengenai kurikulum pendidikan  Kristen harus didasarkan pada ineransi Alkitab.  Ineransi Alkitab menekankan Alkitab adalah Firman Tuhan, Alkitab ditulis tanpa ada kesalahan karena ide dari tulisan berasal dari Allah. Kurikulum disusun berdasar pada ineransi Alkitab dengan tujuan Pendidikan Kristen agar pembelajar mengenal karya keselamatan Allah di dalam dan melalui Tuhan Yesus saja, supaya percaya bahwa Yesuslah Allah, sehingga yang percaya beroleh hidup yang kekal dan hidupnya diubah oleh Roh Kudus melalui kuasa Alkitab. Kuasa Alkitab adalah karena Alkitab adalah Firman Allah. Tidak ada yang dapat bertahan di bawah kedaulatan Firman Tuhan yang tertulis, yaitu Alkitab. Karena itu kurikulum pendidikan Agama Kristen dibangun berdasarkan Alkitab agar mencapai tujuan.
Roh Kudus Dalam Proses Pembelajaran Pendidikan Kristen Mewujudkan Pengajaran Kristen Yang Mengandung Nilai Kekal Hardi Budiyana
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 1, No 1 (2018): September 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v1i1.5

Abstract

AbstrakPerkembangan kebudayaan masa kini, termasuk bidang pendidikan, cenderung mengarah kepada kebangkitan agama (spiritualitas). Ini merupakan trend global yang berkembang pesat setelah era tahun 1990-an. Agama yang diminati sekarang adalah agama yang menekankan dimensi spiritualitas, yaitu pengalaman-pengalaman yang bersifat supranatural.   Dalam dunia pendidikan sekarang, spiritualisme sering dipakai untuk mensuport metode-metode pembelajaran. Sebagai contoh adalah pemakaian metode-metode pembelajaran meditatif dan spiritualistik gerakan Abad Baru (New Age Movement). Sementara itu, spiritualitas juga menjadi trend dalam berkembangan kekristenan masa kini. Gerakan Karismatik berkembang mendunia. Aliran ini menekankan pentingnya pengalaman-pengalaman supranatural dalam pertumbuhan rohani. Proses pembelajaran Firman Tuhan, juga diyakini sebagai proses supranatural. Faktor Roh Kudus diyakini merasuki semua bidang pelayanan, termasuk pelayanan pendidikan. Timbullah banyak persoalan mengenai bagaimana peran Roh Kudus dalam pendidikan Kristen, khususnya pembelajaran. Kelompok Karismatik ekstrim meyakini dominasi pekerjaan Roh Kudus dalam segala aspek kehidupan dan pelayanan Kristen. Dalam kotbah – termasuk pengajaran Alkitab lainnya – Roh Kudus diyakini sebagai Pribadi yang memberi campur tangan sampai pada detil-detil kegiatan belajar. Pada prinsipnya, Roh Kudus bekerja dalam kehidupan dan pelayanan orang percaya. Pertumbuhan rohani Kristen merupakan karya Roh Kudus, mulai dari proses kelahiran baru oleh Roh Kudus, pendiaman oleh Roh Kudus, dan proses dipenuhi oleh Roh Kudus. Setiap pelayanan Kristen juga merupakan kegiatan yang dilakukan oleh karena pimpinan dan kekuatan dari Roh Kudus. Faktor Roh Kudus tidak boleh dilupakan dalam proses pembelajaran Kristen. Roh Kudus adalah representasi Kristus yang berkarya secara supranatural sebagai Guru Agung dalam proses pembelajaran. Roh Kudus yang telah mewahyukan bahan ajar (Alkitab) itu kini turut bekerja dalam proses pembelajaran untuk memberi penerangan (iluminasi) sehingga guru bisa mengajar dengan baik dan murid bisa belajar dengan baik pula. Roy B. Zuck memandang begitu pentingnya peran Roh Kudus sehingga tanpa Dia, pembelajaran tidak akan efektif (bahkan menjadi cenderung sekuler) walaupun ada guru dan bahan ajar berupa Alkitab. Roh Kudus dan pembelajaran dalam Pendidikan Kristen (PAK) mempunyai korelasi yang sangat kuat. Keberadaan dan peran Roh Kudus dalam PAK merupakan ciri pembeda PAK dibanding dengan pembelajaran sekuler. Namun, hal itu bukan berarti PAK merupakan proses pembelajaran yang total supranatural. PAK merupakan sebuah pembelajaran kontemporer yang berdimensi supranatural. Peran Roh Kudus yang merupakan representasi Kristus dalam PAK adalah sebagai Guru Agung. Pembelajaran dalam PAK ditangani secara tim oleh Roh Kudus dan guru PAK. Baik guru PAK maupun murid PAK sama-sama harus bergantung dalam pimpinan iluminatif dari Roh Kudus. Peran Roh Kudus juga dinyatakan dalam kasih karunia yang Dia berikan untuk meningkatkan kapasitas guru dan murid. Ada dimensi-dimensi yang harus dikembangkan secara akal budi. Tetapi, dalam hal dimensi spiritual, Roh Kudus harus merupakan satu-satunya Pribadi yang boleh mengisi dan memberi penguatan. Pendidikan Kristen adalah pendidikan yang empowered by Holy Spirit. 
Pelayanan Holistik Melalui Strategi Entrepreneurship bagi Pertumbuhan Gereja Lokal Hardi Budiyana; Yonatan Alex Arifianto
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 7, No 2: Juni 2021
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v7i2.46

Abstract

Holistic ministry is a comprehensive Christian ministry, which emphasizes the balance between spiritual and physical ministry. Holistic ministry is a service that is carried out as a whole, through the preaching of the gospel that can answer human needs spiritually and physically. One of the strategies used in the ministry of evangelism is to present Entrepreneurship teaching in Theological Colleges. Through a qualitative approach to literature and descriptive methods, the results show that entrepreneurs can equip and develop businesses or work in service places to be more successful in overcoming various problems faced by God's servants and congregations. In conclusion, Entrepreneurship is given to students with the aim of empowering their abilities and skills to develop natural resource businesses. AbstrakPelayanan holistik merupakan pelayanan Kristen yang bersifat menyeluruh, yang menekankan keseimbangan antara pelayanan rohani dan jasmani atau fisik. Pelayanan holistik merupakan pelayanan yang dilakukan secara utuh, melalui pemberitaan Injil yang dapat menjawab kebutuhan manusia secara rohani dan jasmani. Salah satu strategi yang dipakai dalam pelayanan penginjilan adalah dengan menyajikan pengajaran Entrepreneurship di Pergu-ruan Tinggi Teologi. Melalui pendekatan kualitatif literatur dan metode deskriptif, diperoleh hasil bahwa entrepreneur dapat membekali dan mengembangkan usaha atau kerja di tempat pelayanan agar lebih sukses dalam mengatasi berbagai masalah yang dihadapi oleh hamba Tuhan maupun jemaat. Kesimpulannya, Entrepreneurship diberikan kepada mahasiswa dengan tujuan memberdayakan kemampuan dan ketrampilan mengembangkan usaha sumber daya alam sekitar.
Strategi Pendidikan Kristen bagi Anak Berkebutuhan Khusus Slow Learner Benaya Dwi Cahyono; Hardi Budiyana
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 6, No 1 (2023): September 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v6i1.429

Abstract

Anak berkebutuhan khusus   adalah  individu  yang mempunyai   gangguan perkembangan dan kelainan yang dialami anak dan karakteristik yang berbeda dari individu lainnya. Sehingga dalam menangani Anak berkebutuhan khusus    tidak boleh disamakan dengan anak normal pada umumnya oleh karenanya dalam pembelajarannya harus dengan penanganan yang khusus dan terarah, hal ini bertujuan untuk tercapainya proses pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan Anak berkebutuhan khusus. Slow Learner sering digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai kemampuan kognitif di bawah rata-rata atau lamban belajar. Anak slow learner memiliki prestasi belajar di bawah rata-rata dari anak normal pada umumnya. Oleh karenanya dalam pembelajaran harus dengan metode yang khusus dan mudah dipahami karena setiap strategi pembelajaran terhadap anak berkebutuhan khusus berbeda satu dengan yang lainnya. Dalam kajian ini adalah metode penelitian memakai metode deskriptif kualitatif. Kajian ini memperoleh data melalui studi pustaka, data empiris dan menelusuri karya ilmiah para peneliti sebelumnya yang telah dipublikasikan terkait tema kajian serta pengamatan dan wawancara di sekolah yang menangani anak slow leaner.