Pemanfaatan tumbuhan obat oleh masyarakat adat merupakan bagian dari sistem pengetahuan lokal yang menghadapi ancaman erosi akibat perubahan sosial dan degradasi lingkungan, sehingga dokumentasi ilmiah menjadi sangat mendesak. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara mendalam pemanfaatan tumbuhan obat oleh komunitas Suku Anak Dalam (SAD) di Desa Dwi Karya Bakti, Kecamatan Pelepat, Kabupaten Muaro Bungo, Provinsi Jambi, dengan fokus pada identifikasi spesies, pola pemanfaatan berdasarkan kategori penyakit, serta dimensi sosial dan budaya yang melingkupinya. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif melalui wawancara mendalam dan dokumentasi terhadap 20 responden yang dipilih secara sensus, dan dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian mengidentifikasi 29 spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan untuk 11 kategori penyakit; kategori sakit kepala dan demam memiliki jumlah spesies tertinggi (9 spesies), dengan tumbuhan yang paling banyak digunakan antara lain durian (Durio zibethinus), brotowali (Tinospora sp.), sungkai (Peronema canescens), pasak bumi (Eurycoma longifolia), dan sembung (Blumea balsamifera), yang diolah melalui perebusan dan diminum sebagai ramuan; diikuti oleh kategori luka, bengkak, dan gatal (6 spesies), serta penyakit spesifik seperti maag, penawar racun, dan sakit telinga yang masing-masing hanya ditangani oleh satu spesies tumbuhan. Penelitian ini menawarkan kebaruan melalui pendekatan analisis berbasis kategori penyakit dalam kajian etnobotani komunitas adat terpencil, yang memberikan perspektif baru dalam memahami pola pemanfaatan tumbuhan obat secara adaptif; temuan ini berimplikasi pada pengembangan strategi konservasi hayati, validasi fitokimia tumbuhan prioritas, serta integrasi kearifan lokal ke dalam sistem kesehatan berkelanjutan di Indonesia.