Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Analysis of Constructed Swamp Forest Vegetation as A Phitoremediation Agent in Coal Mining, South Kalimantan Citra Rahmatia; Iwan Hilwan; Irdika Mansur; Ihsan Noor
Media Konservasi Vol 24 No 1 (2019): Media Konservasi Vol. 24 No. 1 April 2019
Publisher : Department of Forest Resources Conservation and Ecotourism - IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (492.339 KB) | DOI: 10.29244/medkon.24.1.29-39

Abstract

Coal mining activities could potentially interfere with the environment. One of the environmental disturbances in coal mining activities is theformation of acid mine drainage (AMD). AMD management can be done passively through the construction of swamp forest. The constructed swampforest system uses organic material in the form of cow manure which serves as a growing plants’ medium. Phytoremediation is an attempt to usevplant species in the accumulation of heavy metals. This study was aimed to know the AMD management system passively and identify the diversity ofplants in artificial swamp forests. Purposive sampling method with a sample size of 2 x 2m in 10 plots/compartments was used to identify the plantdiversity in constructed swamp forest. The observation was made both before and after AMD flowed. Constructed swamp forest consist of 6compartments (2 sediment pond compartments and 4 swamp compartments). The results of the vegetation analysis found that before the AMD flowed,21 species are still capable growing naturally in constructed swamp forest, however, it became 15 after the AMD flowed. Cyperus iria, Fimbristylisgriffithii, Scirpus juncoides, Ludwigia hyssopifolia, Cyperus platystylis and Monochoria vaginalis are six dominant species that can be used asphytoremediation agent in constructed swamp forest.Keywords: Acid Mine Drainage, constructed swamp forest, phytoremediation
Aktivitas Harian Rusa Totol (Axis Axis) di Taman Hutan Kota Muhammad Sabki Kota Jambi Hendra Kurniawan; Thoriq DevisHoriansa; Dinda Tri Agustina; Citra Rahmatia
Jurnal Riset Rumpun Ilmu Tanaman Vol. 4 No. 1 (2025): April : Jurnal Riset Rumpun Ilmu Tanaman
Publisher : Pusat riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jurrit.v4i1.5570

Abstract

Wild deer populations have declined owing to poaching and habitat loss. Conservation in captive outside deer's native environment can prevent extinction and maximize sustainable use. IUCN classifies Spotted Deer (Axis axis) as least concern. The Muhammad Sabki City Forest Park contains 5 Spotted Deer (Axis axis) from PTPN 6, 1 Male and 4 Female, presented to Jambi City Government. Captivity (ex-situ conservation) can optimize and maintain Spotted Deer use to rebuild the population. The research used Focal Animal Sampling and Continuous Recording in Muhammad Sabki City Forest Park in Jambi City in June 2024. Male and female deer were observed for data collection. Observation and computation took 10 hours with 15-minute intervals and 5 sessions.
PEMANFAATAN TUMBUHAN OBAT OLEH KOMUNITAS SUKU ANAK DALAM DI DUSUN DWI KARYA BAKTI KECAMATAN PELEPAT KABUPATEN MUARO BUNGO Hendra Kurniawan; Citra Rahmatia; Amelia Retno Eka Putri; Riko Kurniawan; Juliana Juliana
Jurnal Hutan Tropis Vol 14, No 2 (2026): Jurnal Hutan Tropis Volume 14 Nomer 2 Edisi Juni 2026
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v14i2.26038

Abstract

Pemanfaatan tumbuhan obat oleh masyarakat adat merupakan bagian dari sistem pengetahuan lokal yang menghadapi ancaman erosi akibat perubahan sosial dan degradasi lingkungan, sehingga dokumentasi ilmiah menjadi sangat mendesak. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara mendalam pemanfaatan tumbuhan obat oleh komunitas Suku Anak Dalam (SAD) di Desa Dwi Karya Bakti, Kecamatan Pelepat, Kabupaten Muaro Bungo, Provinsi Jambi, dengan fokus pada identifikasi spesies, pola pemanfaatan berdasarkan kategori penyakit, serta dimensi sosial dan budaya yang melingkupinya. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif melalui wawancara mendalam dan dokumentasi terhadap 20 responden yang dipilih secara sensus, dan dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian mengidentifikasi 29 spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan untuk 11 kategori penyakit; kategori sakit kepala dan demam memiliki jumlah spesies tertinggi (9 spesies), dengan tumbuhan yang paling banyak digunakan antara lain durian (Durio zibethinus), brotowali (Tinospora sp.), sungkai (Peronema canescens), pasak bumi (Eurycoma longifolia), dan sembung (Blumea balsamifera), yang diolah melalui perebusan dan diminum sebagai ramuan; diikuti oleh kategori luka, bengkak, dan gatal (6 spesies), serta penyakit spesifik seperti maag, penawar racun, dan sakit telinga yang masing-masing hanya ditangani oleh satu spesies tumbuhan. Penelitian ini menawarkan kebaruan melalui pendekatan analisis berbasis kategori penyakit dalam kajian etnobotani komunitas adat terpencil, yang memberikan perspektif baru dalam memahami pola pemanfaatan tumbuhan obat secara adaptif; temuan ini berimplikasi pada pengembangan strategi konservasi hayati, validasi fitokimia tumbuhan prioritas, serta integrasi kearifan lokal ke dalam sistem kesehatan berkelanjutan di Indonesia.