Safrina Rovasita
SLB Yapenas

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Sharing Experience dan Resiliensi: Studi atas Facebook Group Orang Tua Anak Cerebral Palsy Safrina Rovasita
INKLUSI Vol. 4 No. 1 (2017)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (913.486 KB) | DOI: 10.14421/ijds.040106

Abstract

Cerebral Palsy is a brain disorder that affects a motor area. Parents who have a child with Cerebral palsy are usually sorrowful. They feel hopeless and inferior because of their inability to manage their stress, and their resilience is poor. The level of stress management for each parent is different. For that reason, parents join an online group created on the Facebook online. Among the typical objective of joining such groups is to share their experience of having children with cerebral palsy. Is there any positive effect of this sharing experience toward their resilience? This study used a mixed method to answer this question. The quantitative data are collected by using questionnaire with a scale of CD-RiSC resilience and scale of sharing experience Response. This quantitative data is then elaborated by interviewing the participants by using purposive sampling technique. The research found that the Facebook group indeed helps the parents in improving their resilience. It is achieved by additional information and knowledge they learn from the group.[Orang tua yang mendapati anaknya terfonis sebagai anak Cerebral Palsy mengalami kedukaan mendalam yang mengakibatkan ketidakpercayaan diri, dan putus asa. Hal itu diakibatkan ketahanan terhadap stres (resiliensi) rendah, oleh karena itu orang tua mengikuti sharing experiences penyandang Cerebral Palsy melalui Facebook Group orang tua anak Cerebral Palsy. Penelitian ini bertujuan menjawab pertanyaan adakah pengaruh sharing experiences penyandang Cerebral Palsy terhadap resiliensi orang tua anak Cerebral Palsy yang terhimpun dalam Facebook Group Orang Tua Anak Cerebral Palsy. Penelitian menggunakan methode kombinasi antara kuantitatif dan kualitatif. Penelitian menemukan bahwa Facebook Group berpengaruh pada peningkatan resiliensi orang tua anak cerebal palcy karena mereka mendapatkan pengetahuan dan informasi tambahan dari forum itu.]
Peningkatan Kemampuan Komunikasi Siswa Cerebral-Palsy Non-Vocal dengan Teknologi Informasi Safrina Rovasita
INKLUSI Vol. 5 No. 1 (2018)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (492.559 KB) | DOI: 10.14421/ijds.050104

Abstract

Communication skill is the ability to transfer information to others. Students with Cerebral-Palsy have difficulty in pronouncing consonants when communicating with others. This difficulty is the effect of neural motoric disorder in the brain. It makes the information cannot be transferred well. This action research tries to improve the communication skills of students with cerebral palsy by using netbooks and smartphones as a tool to communicate. As a classroom action research, this study was conducted in four cycles. There is no significant improvement of the student communication skills in the first and second cycles. The third cycle shows that students’ communication skills were improved. It is particularly when the subject has utilised a notebook or a smartphone. In the fourth cycle, the student’s communication ability increases dramatically.[Keterampilan komunikasi adalah kemampuan untuk mentransfer informasi kepada orang lain. Siswa dengan Cerebral Palsy mengalami kesulitan dalam mengucapkan konsonan (non-vokal) ketika berkomunikasi dengan orang lain. Kesulitan ini adalah efek dari gangguan saraf saraf di otak. Hal ini membuat informasi tidak dapat ditransfer dengan baik, karena kerusakan otak berdampak pada organ-organ bicara. Teknologi membuat segalanya lebih mudah dan penelitian ini mencoba meningkatkan keterampilan komunikasi siswa dengan cerebral palsy dengan menggunakan notebook sebagai alat untuk berkomunikasi. Penelitian ini dilakukan dalam empat siklus melalui desain Penelitian Tindakan Kelas. Tidak ada peningkatan keterampilan komunikasi siswa yang signifikan pada siklus pertama dan kedua. Siklus ketiga menunjukkan bahwa keterampilan komunikasi siswa meningkat ketika subjek sudah menggunakan notebook sebagai alat untuk berkomunikasi. Pada siklus keempat, kemampuan komunikasi siswa meningkat lebih banyak, di samping netbook, subjek juga menggunakan perangkat lain, yaitu telpon pintar.]