Anis Fitriyah
Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Ibu dan Politik Pengasuhan Anak Penyandang Disabilitas Intelektual Anis Fitriyah
INKLUSI Vol. 7 No. 1 (2020)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.907 KB) | DOI: 10.14421/ijds.070104

Abstract

Parenting of children with intellectual disability is generally highlighted from the perspective of the mother’s psychological experience and contribution to parenting. In practice, only a few publications raise the issue from the perspective of the mother as a woman. This study aims to answer the question of how the politics of parenting and agency mothers in caring for children with intellectual disabilities in Yogyakarta. This study is based on ten months of fieldwork and the experience of ten mothers with intellectual disabilities children. The results showed: First, as caregivers without authority, mothers lack the right to educate children to be independent. Second, mothers are subject to the control of others who have a strong influence in determining the perceptions and processes of caring for the children. Mothers are often the ones to blame by professionals, activists, the community, families, and children when the care process does not go as they wish. Third, in terms of agency, mothers choose to educate the community, negotiate, and involve children in the creative activities. Fourth, the mother redefined the meaning of independence.[Pengasuhan anak penyandang disabilitas intelektual umumnya ditinjau dari perspektif pengalaman psikologis ibu dan kontribusinya dalam mengasuh. Praktiknya, hanya sedikit publikasi yang mengangkat isu pengasuhan dari perspektif ibu sebagai seorang perempuan. Kajian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan bagaimana politik pengasuhan dan agency ibu dalam mengasuh anak penyandang disabilitas intelektual di Yogyakarta. Penelitian ini mengacu ke sepuluh bulan kerja lapangan dan pengalaman sepuluh ibu dengan anak penyandang disabilitas intelektual. Makalah ditulis dengan pendekatan fenomenologi dan dianalisis dengan teori feminist ethics. Hasil penelitian menunjukkan: Pertama, sebagai pengasuh tanpa otoritas, ibu tidak mendapat hak melatih anak menjadi independen. Kedua, ibu menjadi sasaran kontrol para profesional yang memiliki pengaruh kuat dalam menentukan persepsi dan proses pengasuhan anak penyandang disabilitas intelektual. Ibu sering kali menjadi pihak yang disalahkan oleh para profesional, aktivis organisasi difabel, masyarakat, keluarga, dan anak ketika proses pengasuhan tidak berjalan sebagaimana harapan mereka. Ketiga, dalam hal agency, ibu memilih melakukan edukasi kepada masyarakat, bernegosiasi, dan mengikutsertakan anak pada ajang kreativitas. Keempat, ibu meredefinisi makna independensi. ]