This Author published in this journals
All Journal ARISTO
Jusuf Harsono
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PERLAWANAN KULTURAL MASYARAKAT SOMOROTO TERHADAP SKETSA SEJARAH ASAL USUL KOTA PONOROGO OLEH PEMERINTAH KABUPATEN PONOROGO Jusuf Harsono
ARISTO Vol 3, No 2 (2015): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.524 KB) | DOI: 10.24269/ars.v3i2.2

Abstract

Ponorogo sebagai sebuah obyek kajian seni budaya sudah sering dilakukan olehberbagai pihak namun sebagai sebuah obyek kajian dengan berbagai perspektif belum banyakdilakukan. Penelitian dengan judul: Perlawawanan cultural masyarakat Somoroto atas sketsasejarah asal - usul Ponrogo oleh Pemerintah Kabupaten Ponorogo, adalah salah satu penelitiian yang dimaksudkan untuk mengkaji peristiwa budaya dari berbagai perspektifyaitu: social - budaya, sejarah dan poltik. Penelitian ini bermaksud mencari penjelesantentang latar belakang atau motif hingga masyararakat Somoroto menyelenggarakan kirabpusaka Grebeg Tutup Suro dengan semangat swadaya setiap tahun yang penyelenggaraanyaterpisah dengan agenda yang dilaksanakan oleh Pemkab Ponorogo. Fenomena social-budayaini diteliti dengan metode Interview dan Observasi. Key Informan penelitian ini terdiri daritokoh masyarakat Somoroto, pejabat Pemkab Ponorogo, penonton kirab dan warga umumPonorogo. Para tokoh dimintai informasinya karena para tokoh yang terdiri dari para waroktersebut adalah para penggagas kegiatan budaya tersebut. Intepretative - understandingadalah metode analisa yang digunakan dalam penelitian ini mengingat tidak semua data bisadidapatkan dengan menggunakan metode yang lain. Penelitian ini menghasilkan sebuahkesimpulan penting yaitu : Pertama, bahwa masyarakat Somoro dengan kegiatan KirabPusakanya telah melakukan perlawanan kulturalnya untuk menuntut hak sejarahnya. Kedua,adanya potensi konflik yang cukup tinggi karena kegiatan kegiatan budaya yang tidak dikajilebih jauh.