Sri Handayani
Universitas Terbuka

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

STUDI DESKRIPTIF ANALISIS TERHADAP BIMBINGAN GURU DALAM MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP IPA DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS V SD PADA PEMBELAJARAN IPA BERBANTUAN PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES Sri Handayani; Budiharto Budiharto; Triyoto Triyoto; Sumarno Sumarno
Jurnal Pendidikan Vol. 17 No. 1 (2016)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (616.199 KB) | DOI: 10.33830/jp.v17i1.258.2016

Abstract

Science Learning on the V kelas of SD Magersari Rembang Magelang is still centered on teachers using lecture methods, teachers less involving students to experiment, teachers less understanding the meaning of process skill approach and low student understanding seen in learning outcomes from 33 students only 9 students or 27% complete of 24 students or 73% of students who have not finished yet. To overcome this, improvements are made with the guidance of the teacher in applying the Process Skills Approach to improve Student Learning Results on IPA. The purpose of this study is to describe: (1) Teacher planning in learning with process skill approach to improve students 'learning outcomes on light material and their properties. (2) Learning outcomes through process skills approach to improve students' learning outcomes of light materials and their properties. (3) Student learning outcomes in the process skills approach, in light materials and their properties. The subject of this study was the students of V class which amounted to 33 people. Implementation of PTK used includes four stages, namely: 1) planning, 2) implementation, 3) observation, and 4) reflection. Data collection technique used: test, observation sheet and field note. The completeness of student learning outcomes in cycle I was 4l%, increased in cycle 2 to 64% and increased again in cycle III to 82% above the expected target of 80%. The result of this research shows that application of process skill approach can improve the result of science learning. Suggestions for teachers in implementing learning should use innovative learning models, so that student learning outcomes will improve according to the situation and local environmental conditions. Pembelajaran IPA pada siwa kelas V SDN Magersari Rembang masih berpusat pada guru menggunakan metode ceramah, guru kurang melibatkan siswa melakukan percobaan, guru kurang memahami arti pendekatan keterampilan proses dan rendahnya pemahaman siswa terlihat pada hasil belajar dari 33 siswa hanya 9 siswa atau27% siswa yang tuntas dari 24 siswa atau 73% siswa yang belum tuntas.Untuk mengatasinya, dilakukan perbaikan dengan bimbingan guru dalam menerapkan Pendekatan Keterampilan Proses untuk meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada IPA.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) Perencanaan guru dalam pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi cahaya dan sifat-sifatnya. (2) Pelaksaanaan pembelajaran melalui pendekatan keterampilan proses untuk meningkatkan hasil belajar siswa materi cahaya dan sifat-sifatnya. (3) Hasil belajar siswa dalam pendekatan keterampilan proses, pada materi cahaya dan sifat-sifatnya. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V yang berjumlah 33 orang. Pelaksanaan PTK yang digunakan meliputi empat tahapan, yaitu: 1) perencanaan, 2) pelaksanaan, 3) observasi, dan 4) refleksi. Teknik pengumpulan data yang digunakan: tes, lembar observasidan catatan lapangan. Ketuntasan hasil belajar siswa pada siklus I sebesar 4l%, meningkat pada siklus 2 menjadi 64% dan meningkat kembali di siklusIII menjadi 82% diatas target yang diharapkan yaitu 80%. Hasil penelitian inimenunjukkan bahwa penerapan pendekatan keterampilan proses dapat meningkatkan hasil belajar IPA. Saran untuk gurudalam melaksanakan pembelajaran sebaiknya menggunakan model pembelajaran yang inovatif, sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat sesuai situasi dankondisi lingkungan setempat.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAMS-ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) BERBANTUAN MEDIA GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS IV PADA MATERI PANAS Sri Handayani
Jurnal Pendidikan Vol. 15 No. 2 (2014)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33830/jp.v15i2.422.2014

Abstract

As one of the teaching method, cooperative learning can be applied in teaching Science in Elementary School. The class is arranged in small groups and the teacher gives the instructions based on the purpose of teaching and learning. Those small groups will do the assignments so that all of students can understand the matter. The Cooperative Learning can be applied in every stages of age. Cooperative Learning also opens the wide opportunity to work together in a group and solve the problem cooperatively, the competence that is expected to support the concept of working together. Recently, there are many teachers in Elementary School applied the reward and punishment as the Competition Method for teaching and giving remarks. In this method, the students are trying to be the best. The teacher also gives reward or punishment to motivate students. This technique is based on the Behaviorism Theory or Stimulus-Response. The main purpose of evaluation in Competition Method is to give the ranks from the top to the bottom. The categories can be divided into average students, the intelligent students and the failure students. The negative side of this method is that the students will spent almost of their twelve years of basic education phase to be the average students, without ever having the feeling of being the intelligent students. Meanwhile, the positive side is that it can improve the students motivation to be active in the classroom. Sebagai sebuah model pengajaran, pembelajaran kooperatif dapat diterapkan pada Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar. Kelas diatur ke dalam kelompok-kelompok kecil dan guru memberikan petunjuk berkenaan dengan tujuan yang hendak dicapai. Kelompok kecil ini bekerja melalui tugas hingga semua kelompok berhasil memahami dan menyelesaikan tugas tersebut. Pembelajaran kooperatif dapat diterapkan pada semua tugas dalam berbagai kurikulum untuk segala usia siswa. Pembelajaran kooperatif memberikan cara bagi para siswa mempelajari keterampilan hidup antar pribadi yang penting dan mengembangkan kemampuan untuk bekerja secara kolaboratif, perilaku yang secara khusus diinginkan oleh sebagian besar organisasi untuk mendukung konsep kerja sama. Dewasa ini yang terjadi di sekolah, banyak guru menggunakan sistem kompetisi dalam pengajaran dan penilaian siswa. Dalam model pembelajaran kompetisi, siswa belajar dalam suasana persaingan. Tidak jarang pula, guru memakai imbalan dan ganjaran sebagai sarana untuk memotivasi siswa dalam memenangkan kompetisi sesama siswa. Teknik imbalan dan ganjaran yang didasari oleh teori behaviorisme atau stimulus-respon ini, banyak mewarnai sistem penilaian hasil belajar. Tujuan utama evaluasi dalam model pembelajaran ini adalah menempatkan siswa dalam urutan mulai dari yang paling baik sampai dengan yang paling jelek. Pola penilaian biasanya, menempatkan sebagian besar siswa dalam kategori rata-rata, beberapa anak dalam kategori berprestasi, dan beberapa lagi sebagai calon tidak lulus. Akibat langsung pola penilaian semacam ini adalah sebagian besar anak harus melewati sedikitnya 12 tahun dalam masa hidup mereka sebagai anak yang rata-rata atau biasa-biasa saja. Siswa tidak pernah merasakan kebanggaan sebagai anak berprestasi. Secara positif, model kompetisi bisa menimbulkan rasa cemas yang bisa memacu siswa untuk meningkatkan kegiatan belajarnya. Sedikit rasa cemas memang mempunyai korelasi positif dengan motivasi belajar.