This Author published in this journals
All Journal Aksara Aksara
Saksono Prijanto
Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur 13220, Jakarta, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MAKNA KEJANTANAN DAN KESETIAAN DALAM NAGASASRA DAN SABUK INTEN KARYA S.H. MINTARDJA Saksono Prijanto
Aksara Vol 26, No 2 (2014): Aksara, Edisi Desember 2014
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1561.416 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v26i2.158.169-186

Abstract

Prosa silat Nagasasra dan Sabuk Inten mengungkapkan konsep kearifan lokal,khususnya dalam konteks kebudayaan Jawa. Hal itu tercermin melalui sikap bijaksana dan kasih sayang para tokoh pendekar golongan putih. Dalam kebudayaan Jawa diyakini bahwa ucapan, tindakan, perbuatan, dan perilaku yang dianggap baik dan pantas adalah yang bijaksana dan penuh kasih sayang. Dengan pendekatan semiotik, melalui analisis sintaksis naratif, analisis semantik naratif, serta analisis tematik, makna prosa silat NSI akan terungkap secara utuh. Hasil penelitian membuktikan bahwa kejantanan dari tokoh utama dan kesetiaan tokoh utama terhadap Kesultanan Demak mendominasi keseluruhan cerita silat NSI. Kejantanan dan kesetiaan Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Begawan Manikmaya, dan Jaka Tingkir terungkap dengan jelas sewaktu mereka secara ikhlas mempertaruhkan jiwa raga untuk merebut kembali Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten dari tangan para pendekar golongan hitam.
MAKNA KEJANTANAN DAN KESETIAAN DALAM NAGASASRA DAN SABUK INTEN KARYA S.H. MINTARDJA Saksono Prijanto
Aksara Vol 26, No 2 (2014): Aksara, Edisi Desember 2014
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v26i2.158.169-186

Abstract

Prosa silat Nagasasra dan Sabuk Inten mengungkapkan konsep kearifan lokal,khususnya dalam konteks kebudayaan Jawa. Hal itu tercermin melalui sikap bijaksana dan kasih sayang para tokoh pendekar golongan putih. Dalam kebudayaan Jawa diyakini bahwa ucapan, tindakan, perbuatan, dan perilaku yang dianggap baik dan pantas adalah yang bijaksana dan penuh kasih sayang. Dengan pendekatan semiotik, melalui analisis sintaksis naratif, analisis semantik naratif, serta analisis tematik, makna prosa silat NSI akan terungkap secara utuh. Hasil penelitian membuktikan bahwa kejantanan dari tokoh utama dan kesetiaan tokoh utama terhadap Kesultanan Demak mendominasi keseluruhan cerita silat NSI. Kejantanan dan kesetiaan Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Begawan Manikmaya, dan Jaka Tingkir terungkap dengan jelas sewaktu mereka secara ikhlas mempertaruhkan jiwa raga untuk merebut kembali Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten dari tangan para pendekar golongan hitam.