This Author published in this journals
All Journal Aksara Aksara
Dessy Wahyuni
Balai Bahasa Riau Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ARUS KESADARAN DALAM AGAMA KETUJUH Dessy Wahyuni
Aksara Vol 30, No 1 (2018): Aksara, Edisi Juni 2018
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (482.316 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v30i1.85.43-57

Abstract

Agama Ketujuh: Sebuah Prosa merupakan sebuah prosa pendek karangan Romi Zarman. Dalam prosa pendek ini, pengarang ingin mengungkap budaya matrilineal yang terdapat dalam masyarakat Minangkabau. Dalam menyajikan cerita, pengarang tidak menyampaikan informasi secara lugas, tetapi ia melakukannya dengan menghidupkan kembali para tokoh dalam roman legendaris, seperti Midun, Kacak, dan Tuanku Laras dalam Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati); Ramah, Musa, dan Mamak dalam Dijemput Mamaknya (Hamka); Samsul Bahri, Siti Nurbaya, dan ayahnya dalam Sitti Nurbaya (Marah Rusli); Poniem, Leman, serta keluarga matrilinealnya dalam Merantau ke Deli (Hamka); dan Hanafi dalam Salah Asuhan (Abdul Muis). Agama Ketujuh ini memperlihatkan kegelisahan Romi Zarman terhadap budaya matrilineal yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Melalui kajian dengan teknik arus kesadaran, terlihat tokoh dan karakterisasinya yang disajikan pengarang. Dengan penelusuran karakterisasi tokoh yang menggunakan teknik kolase melalui pendekatan psikologi sastra, peran mamak dalam budaya matrilineal dapat terkuak. Kajian yang menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui studi pustaka ini memperlihatkan bahwa pengarang menggunakan dua cara atau metode untuk menyajikan karakter (watak) para tokoh dalam karyanya. Metode pertama adalah metode langsung (telling) dan metode kedua adalah metode tidak langsung (showing). Simpulan dari kajian ini menunjukkan bahwa kedudukan adat dan budaya dalam masyarakat Minangkabau sangat kuat dan tidak bisa ditentang. 
ARUS KESADARAN DALAM AGAMA KETUJUH Dessy Wahyuni
Aksara Vol 30, No 1 (2018): Aksara, Edisi Juni 2018
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v30i1.85.43-57

Abstract

Agama Ketujuh: Sebuah Prosa merupakan sebuah prosa pendek karangan Romi Zarman. Dalam prosa pendek ini, pengarang ingin mengungkap budaya matrilineal yang terdapat dalam masyarakat Minangkabau. Dalam menyajikan cerita, pengarang tidak menyampaikan informasi secara lugas, tetapi ia melakukannya dengan menghidupkan kembali para tokoh dalam roman legendaris, seperti Midun, Kacak, dan Tuanku Laras dalam Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati); Ramah, Musa, dan Mamak dalam Dijemput Mamaknya (Hamka); Samsul Bahri, Siti Nurbaya, dan ayahnya dalam Sitti Nurbaya (Marah Rusli); Poniem, Leman, serta keluarga matrilinealnya dalam Merantau ke Deli (Hamka); dan Hanafi dalam Salah Asuhan (Abdul Muis). Agama Ketujuh ini memperlihatkan kegelisahan Romi Zarman terhadap budaya matrilineal yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Melalui kajian dengan teknik arus kesadaran, terlihat tokoh dan karakterisasinya yang disajikan pengarang. Dengan penelusuran karakterisasi tokoh yang menggunakan teknik kolase melalui pendekatan psikologi sastra, peran mamak dalam budaya matrilineal dapat terkuak. Kajian yang menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui studi pustaka ini memperlihatkan bahwa pengarang menggunakan dua cara atau metode untuk menyajikan karakter (watak) para tokoh dalam karyanya. Metode pertama adalah metode langsung (telling) dan metode kedua adalah metode tidak langsung (showing). Simpulan dari kajian ini menunjukkan bahwa kedudukan adat dan budaya dalam masyarakat Minangkabau sangat kuat dan tidak bisa ditentang.