Aquari Mustikawati
Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

PERSPEKTIF MASYARAKAT BENUAQ TERHADAP HUTAN DAN ALAM SEMESTA DALAM CERITA RAKYAT Aquari Mustikawati
LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan Vol 18, No 2 (2023): LOA
Publisher : Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/loa.v18i2.6705

Abstract

AbstrakTulisan ini bertujuan menggambarkan cara pandang masyarakat Benuaq terhadap hutan dan alam semesta dalam cerita rakyat mereka. Cara pandang suku Benuaq tersebut dapat ditemukan dalam cerita rakyat “Si Kerongo”, “Budai Meratapi Kijang”, “Bullu”, “Bulau Mate”, “Tatau Kilip dan Ilmu Adat dari Langit”, dan “Asal-Usul Tepung Tawar”. Permasalahan tulisan ini dirumuskan dalam dua bagian, yaitu (1) bagaimana cara pandang masyarakat Benuaq terhadap hutan dalam cerit rakyatnya? dan (2) bagaimanakah cara pandang mereka terhadap alam semesta yang tertyang dalam cerita rakyatnya? Tulisan ini adalah tulisan kualitatif menggunakan metode deskripstif. Analisis dilakukan dengan teknik analisis konten atau analisis isi.  Teori yang digunakan adalah antropologi budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Benuaq (1) menganggap hutan sebagai bagian dari kehidupan mereka sehingga mereka mengelola hutan secara bijak, dan (2) menjaga keharmonisan alam semesta dengan cara menaati tata krama dan adat istiadat. Tulisan ini menunjukkan bahwa cerita rakyat masyarakat Benuaq memiliki banyak nilai-nilai budaya, terutama tentang cara pandang mereka tentang pengelolaan lingkungan dan menyeimbangkan kehidupan antarmanusia dan kehidupan spiritual. Kata kunci: cara pandang, hutan, alam semesta, cerita rakyat AbstractThis article aims to describe the Benuaq people's perspective on the forest and the universe in their folklore. Those perspective depicted in the folklore of "Si Kerongo", "Bullu", "Bulau Mate", "Tatau Kilip dan Ilmu Adat dari langit", and "Asal-usul tepung Tawar". The problem of this paper is formulated in two parts, (1) how do the Benuaq people view the forest in their people's stories? and (2) how do they view the universe as depicted in their folklore? This article is a qualitative article using descriptive methods. Analysis is carried out using content analysis techniques or content analysis. The theory used is cultural anthropology. The results of the research show that the Benuaq (1) regard the forest as part of their life so that they manage the forest wisely, and (2) maintain the harmony of the universe by obeying manners and customs. This paper shows that the folklore of the Benuaq people has many cultural values, especially regarding their perspective on environmental management and balancing human life and spiritual life. Keywords: perspective, forest, universe, folktales   
ADAPTASI LINGKUNGAN MASYARAKAT PENDATANG DALAM CERITA RAKYAT BONTANG Aquari Mustikawati
Aksara Vol 30, No 1 (2018): Aksara, Edisi Juni 2018
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v30i1.125.59-73

Abstract

Kota Bontang letaknya bersebelahan dengan Selat Makassar. Letak geografis tersebut memungkinkan Bontang sebagai wilayah tujuan migrasi dari wilayah sekitarnya. Oleh sebab itu, masyarakat di wilayah Bontang bagian pesisir didominasi oleh pendatang yang berasal dari Sulawesi dan Kutai. Perbedaan kondisi daerah dengan daerah asal memaksa para pendatang melakukan beberapa adaptasi lingkungan. Tulisan ini berusaha menjelaskan adaptasi masyarakat pendatang yang tinggal di daerah Bontang terhadap lingkungan baru melalui cerita rakyatnya. Dengan menggunakan pendekatan antropologi dan teori ekologi budaya, tulisan ini menganalisis proses pemertahanan lingkungan dan budaya masyarakat pendatang sebagai adaptasi yang tinggal di daerah tersebut. Analisis dilakukan dengan cara mendeskripsikan cara-cara adaptasi masyarakat terhadap lingkungan dalam cerita rakyatnya. Bagi masyarakat agraris adapatasi yang silakukan adalah beradaptasi dengan lahan pertanian dengan menggunakan teknologi yang sesuai dengan pola daerah baru. Sementacentra itu, masyarakat bahari berusaha beradaptasi dengan menggunakan teknologi yang berhubungan dengan  kelautan. Adaptasi yang dilakukan masyarakat pendatang tersebut selain bertujuan untuk kebertahanan hidup mereka di daerah baru juga secara tidak langsung telah menciptakan ketahanan budaya dari tempat asal mereka di tempat baru, yaitu wilayah Bontang. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sebagai daerah tujuan pendatang, Bontang mengalami berbagai perkembangan budaya  sebagai hasil dari adaptasi lingkungan yang dilakukan para pendatang.