Aquari Mustikawati
Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

PERSPEKTIF MASYARAKAT BENUAQ TERHADAP HUTAN DAN ALAM SEMESTA DALAM CERITA RAKYAT Aquari Mustikawati
LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan Vol 18, No 2 (2023): LOA
Publisher : Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/loa.v18i2.6705

Abstract

AbstrakTulisan ini bertujuan menggambarkan cara pandang masyarakat Benuaq terhadap hutan dan alam semesta dalam cerita rakyat mereka. Cara pandang suku Benuaq tersebut dapat ditemukan dalam cerita rakyat “Si Kerongo”, “Budai Meratapi Kijang”, “Bullu”, “Bulau Mate”, “Tatau Kilip dan Ilmu Adat dari Langit”, dan “Asal-Usul Tepung Tawar”. Permasalahan tulisan ini dirumuskan dalam dua bagian, yaitu (1) bagaimana cara pandang masyarakat Benuaq terhadap hutan dalam cerit rakyatnya? dan (2) bagaimanakah cara pandang mereka terhadap alam semesta yang tertyang dalam cerita rakyatnya? Tulisan ini adalah tulisan kualitatif menggunakan metode deskripstif. Analisis dilakukan dengan teknik analisis konten atau analisis isi.  Teori yang digunakan adalah antropologi budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Benuaq (1) menganggap hutan sebagai bagian dari kehidupan mereka sehingga mereka mengelola hutan secara bijak, dan (2) menjaga keharmonisan alam semesta dengan cara menaati tata krama dan adat istiadat. Tulisan ini menunjukkan bahwa cerita rakyat masyarakat Benuaq memiliki banyak nilai-nilai budaya, terutama tentang cara pandang mereka tentang pengelolaan lingkungan dan menyeimbangkan kehidupan antarmanusia dan kehidupan spiritual. Kata kunci: cara pandang, hutan, alam semesta, cerita rakyat AbstractThis article aims to describe the Benuaq people's perspective on the forest and the universe in their folklore. Those perspective depicted in the folklore of "Si Kerongo", "Bullu", "Bulau Mate", "Tatau Kilip dan Ilmu Adat dari langit", and "Asal-usul tepung Tawar". The problem of this paper is formulated in two parts, (1) how do the Benuaq people view the forest in their people's stories? and (2) how do they view the universe as depicted in their folklore? This article is a qualitative article using descriptive methods. Analysis is carried out using content analysis techniques or content analysis. The theory used is cultural anthropology. The results of the research show that the Benuaq (1) regard the forest as part of their life so that they manage the forest wisely, and (2) maintain the harmony of the universe by obeying manners and customs. This paper shows that the folklore of the Benuaq people has many cultural values, especially regarding their perspective on environmental management and balancing human life and spiritual life. Keywords: perspective, forest, universe, folktales   
ADAPTASI LINGKUNGAN MASYARAKAT PENDATANG DALAM CERITA RAKYAT BONTANG Aquari Mustikawati
Aksara Vol 30, No 1 (2018): Aksara, Edisi Juni 2018
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v30i1.125.59-73

Abstract

Kota Bontang letaknya bersebelahan dengan Selat Makassar. Letak geografis tersebut memungkinkan Bontang sebagai wilayah tujuan migrasi dari wilayah sekitarnya. Oleh sebab itu, masyarakat di wilayah Bontang bagian pesisir didominasi oleh pendatang yang berasal dari Sulawesi dan Kutai. Perbedaan kondisi daerah dengan daerah asal memaksa para pendatang melakukan beberapa adaptasi lingkungan. Tulisan ini berusaha menjelaskan adaptasi masyarakat pendatang yang tinggal di daerah Bontang terhadap lingkungan baru melalui cerita rakyatnya. Dengan menggunakan pendekatan antropologi dan teori ekologi budaya, tulisan ini menganalisis proses pemertahanan lingkungan dan budaya masyarakat pendatang sebagai adaptasi yang tinggal di daerah tersebut. Analisis dilakukan dengan cara mendeskripsikan cara-cara adaptasi masyarakat terhadap lingkungan dalam cerita rakyatnya. Bagi masyarakat agraris adapatasi yang silakukan adalah beradaptasi dengan lahan pertanian dengan menggunakan teknologi yang sesuai dengan pola daerah baru. Sementacentra itu, masyarakat bahari berusaha beradaptasi dengan menggunakan teknologi yang berhubungan dengan  kelautan. Adaptasi yang dilakukan masyarakat pendatang tersebut selain bertujuan untuk kebertahanan hidup mereka di daerah baru juga secara tidak langsung telah menciptakan ketahanan budaya dari tempat asal mereka di tempat baru, yaitu wilayah Bontang. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sebagai daerah tujuan pendatang, Bontang mengalami berbagai perkembangan budaya  sebagai hasil dari adaptasi lingkungan yang dilakukan para pendatang.             
RIJOQ: Attraction in the Maintenance of the Tunjung Language from Threat of Extinction Aquari Mustikawati; Nurul Masfufah
Tradition and Modernity of Humanity Vol. 3 No. 3 (2023): September
Publisher : TALENTA Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Tunjung language in Barong Tongkok District, West Kutai holds a wealth of knowledge and culture of its people. However, during the development, the vitality of Tunjung language has decreased and held an endangered status. Therefore, it needs revitalization efforts, one of the them is through local art of RIJOQ, that is Tunjung language folk song. The purpose of this research is to describe the form of RIJOQ and the strategy of revitalizing the Tunjung language through RIJOQ. Data collection was carried out by interview and literature study methods. Interviews were conducted by structured interviews with respondents based on prepared guidelines. The literature study was carried out using note-taking techniques in the form of RIJOQ lyrics data from documentation in the form of books and social media. The data analysis used a descriptive method with an anthropolinguistic approach. The findings from the results of this study are that the form of poetry and contents of RIJOQ has shifted from traditional to modern; there are extensions and additions to themes, such as romance, affairs, household; using everyday words that are easy to understand; with simpler structure. These findings serve as a reference for the revitalization process of the Tunjung language. The values contained in RIJOQ include belief, wise advice, mutual respect, mutual forgiveness, honesty, patience, and responsibility. The revitalization strategy is to provide space for peRIJOQ or singer of RIJOQ, especially the younger generation, by holding performances in traditional and official events, celebration by holding competitions regularly; provide guidance to RIJOQ groups in order to preserve the Tunjung culture and language; social control over the development of RIJOQ; conduct studies on RIJOQ, and popularize RIJOQ through media, such as radio, television, cd, Youtube, Facebook, Instagram, dan Google Play. Thus, the existence of RIJOQ not only provides a special attraction for the younger generation but also to preserve the Tunjung language.