Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

RELASI TRADISI SUNNI SYIAH Studi atas Tajhin Ressem pada Masyarakat Madura di Kota Pontianak Syarif Syarif
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 4 No. 1 (2017)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v4i1.1413

Abstract

Budaya masyarakat Madura Perantauan di Kota Pontianak begitu beragam, salah satunya tradisi tajhin ressem. Tradisi ini sangat dijaga oleh kalangan masyarakat Madura Perantauan. Tradisi tajhin ressem dikenal juga dengan tajhin peddis merupakan tradisi selametan khusus yang dilakukan untuk tolak-balak bagi kalangan masyarakat Madura hal lain juga merupakan sebagai salah satu kegiatan untuk mempererat tali silaturrahim masyarakat perantauan yang dikenal juga dengan tradisi ter-ater, namun ada sebagian kalangan yang mengatakan bahwa tajhin ressem berkaitan dengan wafatnya Sayyidina Husein yang wafat di Karbala.
Wajah Tafsir dalam Karya Ilmiah Dosen Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Se-Kalimantan Barat Tahun 2014-2017 Syarif Syarif
AT-TURATS Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/at-turats.v13i1.1140

Abstract

Karya tulis dalam dunia akademis adalah ruh dari kesarjanaan. Sedangkan ruh dari tradisi kesarjanaan muslim adalah mengutip ayat-ayat al-Quran yang kemudian ditafsirkan. Hal tersebut telah lumrah dilakukan oleh para dosen di lingkungan perguruan tinggi Islam. Penelitian ini berupaya menggambarkan corak penafsiran yang dilakukan oleh para dosen di sejumlah karya ilmiahnya, baik dalam bentuk buku, jurnal maupun artikel. Dengan menggunakan telaah kepustakaan di sejumlah perguruan tinggi di provinsi Kalimantan Barat ditemukan bahwa corak tafsir yang digunakan oleh para dosen adalah Tafsir Maudhu’i. Sedangkan jika dilihat dari pola narasinya lebih banyak mendekati pada pola Tafsir Bil Ra’yi serta digunakan dalam keilmuan multidisipliner.
Corak Pemikiran Islam Borneo (Studi Pemikiran Tokoh Muslim Kalimantan Barat Tahun 1990-2017) Syarif Syarif
AT-TURATS Vol 12, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/at-turats.v12i1.939

Abstract

Judul penelitian ini adalah Corak Pemikiran Islam Borneo (Studi Pemikiran Ke-Islam-an Tokoh Muslim Kalimantan Barat Tahun 1990-2017). Peneitian ini bertujuan untuk memetakan corak pemikiran keislaman yang dianut dan diamalkan oleh kaum muslimin di Kalimantan Barat, Adapun metode yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatann kualitatif.  Penelitian dilakukan secara lapangan di tiga Kabupaten dan dua di Kotamadya di Kalimantan Barat dengan karakter wilayah yang berbasis Kerajaan Islam dan Pusat Pendidikan. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Pengecekan keabsahan data mengunakan teknik ketekunan pengamatan, triangulasi, dan kecukupan refrensial. Analisis data kualitatif dengan ada tiga langkah, yaitu: reduksi data, display data, dan mengambil kesimpulan dan verifikasi. Penelitian ini bertujuan: 1) secara umum dapat memetakan corak pemikiran Islam yang dominan dipahami, dianut, dan diamalkan di Kalimantann Barat. 2) secara khusus dapat menjadi acuan kebijakan akademik oleh IAIN Pontianak dalam rangka mewujudkan visi dan misinya sebagai wadah kajian Islam dan Budaya Borneo. Penelitian ini menyimpulkan bahwa corak pemikiran Islam di Kalimantan barat adalah tasawwuf thariqah dan pembaharuan dengan sanad yang jelas berasal dari Arab, Jawa dan Madura peninggalan berupa teks (manuskrip) dan konteks (budaya dan bentuk bangunan tempat ibadah), gerakan mereka dapat ditemukan dalam bentuk majelis dan lembaga pendidikan madrasah dan pesantren.
The Style of Sufistic Interpretation: A Philological Study and Content Analysis of the Manuscripts By Three Popular Ulemas in West Kalimantan Syarif Syarif
Al-Albab Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Graduate Program of Pontianak Institute of Islamic Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1153.713 KB) | DOI: 10.24260/alalbab.v9i1.1563

Abstract

This paper aims to explain the content and inclination of the interpretive thoughts of the Sufi scholars in the Province of West Kalimantan. Among the Sufi scholars most popular in West Kalimantan in the 19th century and 20 were Ahmad Khatib al-Sambasi (1802-1879 AD), Muhammad Imran Basuni (1885-1953 AD) and Isma'il Mundu (1870-1957 AD). The works produced by these scholars are still in the form of manuncripts as the objects of study in this paper. This is a library research with philological and historical approaches. There are several stages in philological research including inventory, description of manuscripts, transfer of script and transfer of language. To support those four phases of philological research, the researcher employes content analysis in doing further exploration to the resermanuscripts. Very supprising, specific findings are presented. First, there are fifteen interpretations in the manuscript of Fathu Al-‘Arifin and eight in the Bidayatu Al-Tauhid Fi Ilmi Al-Tauhid. While in Mukhtasaru Al-Mannan Ala Aqidahti Al-Arahman, the contents of the interpretation are not found. Secondly, the patterns of interpretive thoughts used by Ahmad Khatib al-Sambasi and Muhammad Basuni bin Muhammad Imran contained in Fathu Al-‘Arifin and Bidayatu Al-Tauhid Fi Ilmi Al-Tauhid are of sufistic interpretation using the tahlili method. Whereas the thought pattern of Ismail Mundu's interpretation in Mukhtasaru Al-Mannan Ala Aqidahti Al-Arahman cannot be found. It is because the 20-pages manuscript consists of a summary that discusses the science of tawheed and Ismail Mundu did not quote any verses of the Qur'an in the manuscript.
Spiritual Education Mission in the Mufassirin Perspective Syarif Syarif
Al-Albab Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Graduate Program of Pontianak Institute of Islamic Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.496 KB) | DOI: 10.24260/alalbab.v8i2.1444

Abstract

Spiritual crisis is a factor leading to disorientation in today’s modern humans and the decline of morality of the nation. The low level of spirituality is caused by an educational approach that only focuses on the brain and ignores spiritual values. The Qur'an has actually affirmed the mission of spiritual education which should be used as a reference for the current education system. This article employs library research method through a comparison of the way the mufassirin interpret verses about the mission of spiritual education. The results show that the mission of spiritual education carried out by the Prophet Muhammad can be seen for example in Surat Al-Anbiya' verse 107, Surat Saba' verse 28 and Surat Al-Ahzab verse 21, namely rahmatan lil 'alamin (mercy to all creations). The prophet has brought evidence the truth to perfect the akhlậq, as well as to become the followers of uswah hasanah (perfect example) which must be imitated by all humans. Meanwhile, the stages of increasing spirituality in the Surat Luqman Verses 12-19, include: (1) instilling the tauhid values, (2) being filial to parents, (3) understanding the reciprocity of each deed, (4) command to worship, (5) introducing politeness in social life. Elements of spiritual education contained in Surat al-Muzzammil Verses 1-10 include qiyamul lail or night prayer, reciting the Qur’an in a tartil way, getting used to zikr, patience, jihad fi sabilillah or fighting on the path of Allah, and always praying and begging forgiveness from Allah.