Enang Harris S
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Faktor Penentu Keberhasilan Usaha Agro-Estate Tambak Udang Enang Harris S
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 3 No. 2 (1995): Desember 1995
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10.661 KB)

Abstract

Budidaya udang windu (Penaeus monodon) telah ditetapkanDepartemen Transmigrasi sebagai salah satu Pola Usaha Tani Tambak. Sampai sekarang (Juli 1995) sedikitnya te lah ada dua Tambak Inti Rakyat Transmigrasi yang sudah berjalan; TIR-Trans Jawai di Kalimantan Barat dan TIR-Trans Waworada di Nusa Tenggara Barat. Jauh sebelum kedua TIR-Trans te rsebut ada, hud idaya udang sesungguhnya telah banyak dikembangkan di Indones ia, diawali di daerah-daerah pertambakan ikan bandeng di pantai Utara Jawa, Sulawesi Selatan dan Aceh yang terusberkembang ke daerah-daerah lainnya. Kegiatan tersebut telahberJangsung kurang lebih satu setengah dekade. Pemilihan komoditas udang sesungguhnya merupakan pilihan yang tepat untuk komoditas akuakultur masa sekarang dan yang akan datIng karena sedikitnya 3 hal. Pertama, Indonesia sebagai negara kepulauan yang beriklim tropik basah dengan garis pantai yang sangat panjang, jelas memiliki potensi yang amat besar untuk pengembangan budidaya pantai termasuk budidaya udang windu. Kedua, budidaya udang windu memiliki karakteristik yang sarna dengan ciri-ciri yang diprediksi FAO (1989) sebagai akuakultur masa datang. Ciri tersebut adalah nilai komoditasnya relatif mahal; teknologi budidayanya akan rna kin hemat lahan dan air, serta memperhatikan dampak limbahnya terhadap lingkungan, bahkan estetika; produknya akan bersaing dengan bahan makanan relatif lux lainnya; bahan baku pakannya (khususnya tepung ikan) akan mengalami persaingan yang ketat dengan aktivitas lain. Ketiga, daya serap pasar dunia akan udang windu cenderung terus naik dengan harga yang relatif stabil bahkan cenderung naik. Import udang oleh Jepang dan Amerika (dua negara pengimpor terbesar dunia) dari tahun 1989 sid 1993 berturut-turut 490,27; 509,46; 541,49 dan 572,10 ribu ton (Asian Shrimp news No.9 Tahun 1994). Harga eksport udang Indonesia 1988 US$ 8,81 kg dan menurun pada tingkat terendah tahun 1989 US$ 7,2/kg, tapi tahun 1993 kembali jadi US$ 8,9/kg (Ditjen Perikanan 1994).