Abdul Haris Haris
STAI NW Samawa Sumbawa Besar

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Kepemimpinan (Leadership) dalam Pondok Pesantren, Madrasah dan Sekolah (Tinjauan Manajemen) Abdul Haris Haris
Al-Munawwarah : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 9 No. 2 (2017): September
Publisher : LP3M Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Wathan SAMAWA SUMBAWA BESAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.675 KB)

Abstract

Salah satu faktor yang sangat menentukan kesuksesan setiap institusi atau organisasi adalah pemimpin. Maka membicarakan pemimpin tidak akan ada habisnya, lebih-lebih ketika membicarakan mengenai kepemimpinan di lembaga pendidikan. Maju dan mundurnya lembaga pendidikan tidak terlepas dari kualitas dan gaya kepemimpinan yang digunakan atau diterapkan oleh pimpinannya. Oleh karena itu, setiap pemimpin di lembaga pendidikan baik di lembaga pendidikan seperti pondok pesantren, sekolah dan madrasah harus benar-benar memahami tugas dan tanggungjawabnya dengan baik. Setiap corak lembaga pendidikan tentunya memiliki gaya kepemimpinan tersendiri, masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahannya, pondok pesantren misalnya, yang dipimpin oleh kiai, cendrung lebih otoriter, karena semua keputusan yang dilakukan lebih sering difikirkan sendiri tanpa melibatkan banyak peran serta masyarakat. Disebabkan juga oleh budaya di Indonesia yang masih kental budaya paternalistiknya, maka kiai adalah tokoh sentral sekaligus pemimpin yang menjadi rujukan semua keputusan dan bagaimana jalannya pondok pesantren. Berbeda dengan sekolah, kepemimpinannya lebih demokratis, karena semuanya telah diatur dengan jelas bagaimana suksesi kepemimpinan, dan semua orang yang memenuhi kualifikasi untuk menjadi pemimpin di sekolah memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi pemimpin. Kepemimpinan di sekolah juga sebenarnya bisa dibilang sebagai kordinator dalam menjalankan semua kegiatan dan program kerja lembaga pendidikannya dalam usaha mencapai tujuan, karena pada akhirnya yang bekerja adalah semua jajaran pendidik dan tenaga kependidikan yang ada di sekolah tersebut. Sedikit berbeda dengan madrasah, karena madrasah berbentuk semi sekolah umum dan semi pondok pesantren, maka corak kepemimpinannya juga memiliki gaya tersendiri, namun bagaimanapun, madarasah sekarang sudah lebih mirip dengan sekolah umum biasa. Maka kualifikasi seorang pemimpin yang ada dilembaga pendidikan umum seperti sekolah harus juga dimiliki oleh seorang pemimpin dilembaga pendidikan seperti madrasah, selain dari pada itu, gaya kepemimpinan di sekolah juga harus dibantu dengan gaya kepemimpinan yang ada di pondok pesantren dimana seorang kiai sangat dihormati karena memang memiliki kelebihannya tersendiri, seorang pemimpin di madrasah harus memiliki kharisma dan kemampuan lebih di atas kemampuan rata-rata masyarakat sekolahnya.
Keimanan sebagai Nilai Etika Inti Pendidikan Karakter Abdul Haris Haris
Al-Munawwarah : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 8 No. 2 (2016): September
Publisher : LP3M Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Wathan SAMAWA SUMBAWA BESAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (566.674 KB) | DOI: 10.12345/al-munawwarah.v8i2.3247

Abstract

Sejak kelahiran agama, keimanan telah menjadi kekuatan bagi perubahan aspek kehidupan yang lebih baik, tidak terkecuali aspek pendidikan. Pendidikan memerlukan keimanan sebagai kekuatan untuk melakukan perubahan. Inilah nilai keimanan dalam pendidikan. Urgensi keimanan dalam pendidikan semakin terlihat manakala pendidikan karakter digulirkan sebagai alternatif bagi terwujudnya keberhasilan pendidikan. Dengan demikian, kajian tentang substansi keimanan dalam pendidikan karakter mutlak diperlukan. Setelah kajian dilakukan, maka ditemukan bahwa nilai terkait dengan keyakinan manusia untuk menentukan sebuah pilihan yang akibat dari pilihan tersebut ia menjadi manusia yang bernilai atau tidak. Dalam Islam, nilai baik-buruk didasarkan pada petunjuk al-Qur’an yang dirumuskan dalam syariah melalui lima kategori hukum, yaitu wâjib, mandûb, haram, makrûh, dan mubâh. Nilai baik-buruk dalam Islam didasarkan pada keimanan kepada Allah yang merupakan inti tauhid. Dalam konteks pendidikan karakter, keimanan sangat diperlukan karena ia menjadi inti pendidikan karakter dalam membangun kesadaran manusia sehingga mereka mampu mewujudkan kehidupan yang lebih baik.
Manajemen dalam Perspektif Pendidikan Islam Abdul Haris Haris
Al-Munawwarah : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 8 No. 1 (2016): Maret
Publisher : LP3M Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Wathan SAMAWA SUMBAWA BESAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.302 KB)

Abstract

Manajemen adalah suatu bidang ilmu yang bersifat universal. Manajemen dipandang sebagai suatu seni untuk mendapatkan segala sesuatu dilakukan melalui orang lain. Pentingnya manajemen, tidak hanya dalam bidang di luar pendidikan saja, tetapi juga penting dalam bidang pendidikan Islam, karena itulah tulisan ini akan membahas tujuan-tujuan manajemen dalam perspektif pendidikan Islam.
Reformasi Pendidikan di Indonesia Abdul Haris Haris
Al-Munawwarah : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 10 No. 2 (2018): September
Publisher : LP3M Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Wathan SAMAWA SUMBAWA BESAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.128 KB) | DOI: 10.35964/al-munawwarah.v10i2.3271

Abstract

Tulisan ini mencoba untuk menguraikan permasalahan umum yang sering muncul dalam dunia pendidikan di Indonesia. Pendidikan yang sedianya menjadi jembatan untuk mewujudkan manusia yang seutuhnya tidak terlepas dari berbagai macam persoalan, mulai dari permasalahan sarana dan prasarana, kesenjangan antara apa yang dipelajari dan diajarkan di sekolah dengan permasalahan hidup yang terjadi di sekitar, tidak relevannya output dunia pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja, terbatasnya kesempatan untuk mengenyam pendidikan di skolah sampai dengan mirisnya nasib guru sebagai agen perubahan dalam lembaga pendidikan selalu menjadi penghias media massa baik cetak maupun elektronik. Untuk menyelesaikan berbagai macam persoalan tersebut tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan, dibutuhkan kesadaran dan kerjasama berbagai pihak agar permasalahan-permasalahan umum tersebut dapat dikikis perlahan-lahan, dengan harapan tujuan pendidikan yang diamanatkan oleh para founding fathers bangsa Indonesia dapat diwujudkan. Tulisan ini dengan segala keterbatasannya berusaha menguraikan berbagai macam persoalan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia sekaligus menawarkan langkah pemecahannya.
Pendidikan Karakter dalam Perspektif Islam Abdul Haris Haris
Al-Munawwarah : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 9 No. 1 (2017): Maret
Publisher : LP3M Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Wathan SAMAWA SUMBAWA BESAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (626.406 KB)

Abstract

Pendidikan sangat menentukan terhadap pembentukan watak, kepribadian, karakter dan budi pekerti warga. Oleh karenanya, fenomena kejahatan, tindak criminal, perbuatan asusila dan penggunaan narkoba, baik oleh warga masyarakat maupun anak didik, maka pendidikan dianggap yang paling bertanggung jawab. Di Indonesia sendiri, berbagai penyelewengan dan kejahata juga kerap terjadi, mulai dari korupsi, bullying, narkoba di lingkungan sekolah dan lain-lain. Terjadinga berbagai penyelewengan dan kejatan tersebut menandakan rendahnya akhlak, budi pekerti dan karakter bangsa. Menyadari hal itu pemerintah melalui Kemendiknas mencanangkan, salah satunya adalah model Pendidikan karakter untuk meningkatkan karakter dan budi pekerti warga bangsa. Ini bukan berarti sebelunya tidak ada pendidikan karakter namun pemerintah lebih menekankan pendidikan karakter secara tersiste. Langkah awal pemerintah dimulai dari lembaga sekolah maupun madrasah dengan menyisipkan nilai karakter bangsa ke dalam persiapan dan proses pembelajaran. Guru dalam hal ini menjadi kunci atas keberhasilan penerapan pendidikan karakter ini sebab gurulah yang secaralangsung berhadapan dengan peserta didik. Guru dalam hal ini dituntut untuk menyiapkan perangkat pembelajaran dan kemudian melaksanakan pendidikan berkarakter di kelas. Namun, sementara ini kenyataannya guru masih belum siap secara utuh untuk melaksanakan pendidikan karakter ini. Kebanyakan guru bisa menyisipkan nilai karakter bangsa pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran tapi ditak bisa sepenuhnya melaksanakan dalam kelas. Sementara ini potret pendidikan yang bisa dikatakan eksis dalam membina karakter adalah sistem pendidikan di pesantren atau sekolah-sekolah yang diasramahkan.
Peranan Nabi Muhammad sebagai Pembangun Masyarakat Madani dan Peletak Dasar Peradaban Islam Abdul Haris Haris
Al-Munawwarah : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 10 No. 1 (2018): Maret
Publisher : LP3M Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Wathan SAMAWA SUMBAWA BESAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.517 KB)

Abstract

Bagi setiap muslim, mempelajari dan memahami kehidupan dan perjuangan Muhammad Rasulullah SAW merupakan keniscayaan, dan mengikuti ajarannya adalah kewajiban. Artikel ini berusaha untuk menyegarkan kembali sekilas sejarah perjuangan Muhammad Rasulullah SAW, yang penulis mulai dari menjelaskan kondisi bangsa arab pra-Islam baik dari segi geografis, sosial, ekonomi, politik serta agama atau kepercayaan bangsa arab. Dalam usahanya mewujudkan masyarakat madani, nabi Muhammad menanamkan semangat persaudaraan (al-ikha), persamaan (al-musawah), toleransi (al-tasamuh), musyawarah (al-tasyawur), tolong menolong (al-ta’awun), dan keadilan (al-adalah), keenam semangat tersebutlah yang kemudian dewasa ini dicirikan sebagai corak masyarakat madani, yang semua hal tersebut telah diperjuangan dalam kehidupan masyarakat arab di sekitarnnya, baik saat beliau belum diangkat menjadi rasul maupun setelah diangkat menjadi rasul. Tulisan ini memang tidak menyajikan uraian yang rinci dan detail, namun telah diupayakan untuk memberikan gambaran yang utuh sekalipun hanya dalam garis besar. Rujukan yang digunakan untuk tulisan ini diharapkan bisa sedikit membantu pembaca untuk memperluas wawasan dan mengetahui lebih jauh kehidupan dan perjuangan beliau.
Pendekatan Al-Qur’an dalam Merubah Mental Buruk Anak Akibat Kecanduan Game Online Abdul Haris; Febitio Ramadhanu
Al-Munawwarah : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 11 No. 2 (2019): September
Publisher : LP3M Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Wathan SAMAWA SUMBAWA BESAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35964/al-munawwarah.v11i2.3791

Abstract

Game online yaitu sesuatu (dalam video game) yang digunakan untuk bermain yang harus menggunakan jaringan internet. Dalam kertas kerja ini, beberapa hal yang akan dielaborasi dan ditelisik lebih dalam adalah pertama, apa sebenarnya game online tersebut, kemudian apa saja dampak negatif akibat kecanduan game online, selanjutnya akan diuraikan bagaimana cara melakukan pencegahan agar anak tidak kecanduan game online, dan terakhir bagaimana pendekatan Al-Qur’an yang dapat dilakukan pada anak untuk mengatasi mental buruk akibat kecanduan game online. Hal ini menjadi alasan yang kuat bagi penulis dalam menulis lembar kerja ini, sehingga dapat memberi pemahaman bagi pembaca terutama orang tua terhadap dampak negatif penggunaan gadget dan kecanduan game online. Dalam lembar kerja ini juga berisi tentang cara penanggulangan kecanduan game online dengan menggunakan pendekatan Al-Qur’an pada anak. Sehingga orang tua mengetahui langkah untuk mengatasi anak jika kecanduan game online. Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orang tua dalam mengatasi anak yang kecanduan game online adalah : Pertama tidak memberikan gadget pada anak meskipun anak menangis, Kedua Orang tua harus mendampingi dan mengawasi permainan yang dimainkan anak, Ketiga, Mengajak anak bermain permainan tradisional di alam bebas, Keempat, Mengikutkan anak pada kegiatan ekstrakurikuler dan olahraga, Kelima, Melakukan edukasi kepada anak tentang bahaya penggunaan gadget dan bahaya kecanduan game online. Dan terakhir memberikan motivasi pada anak dengan cara memberikan hadiah jika ia mendapatkan juara kelas di sekolahnya.
Strategi Pemasaran Perguruan Tinggi Keagamaan Islam dalam Meningkatkan Jumlah Mahasiswa Baru (Studi Kasus Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Wathan Samawa Sumbawa Besar Abdul Haris
Al-Munawwarah : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 12 No. 1 (2020): Maret
Publisher : LP3M Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Wathan SAMAWA SUMBAWA BESAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35964/al-munawwarah.v12i1.4199

Abstract

One of authentic evidence of the success of a college can be seen from the number of students, if the college has many students, it can be said that the college has been successful, as is the case with Islamic religious colleges such as Nahdlatul Wathan Samawa University. Nahdlatul Wathan Samawa Islamic College is the only Islamic religious college in Sumbawa. This research was conducted, the first was to find out how the marketing strategy of STAI Nahdlatul Wathan Samawa in increasing the number of new students, second, how was the impact of the marketing strategy of STAI Nahdlatul Wathan Samawa in increasing the number of new students, and third, what were the obstacles and solutions to the marketing strategy of STAI Nahdlatul Wathan Samawa in increasing the number of new students. The research approach used is a descriptive qualitative research with data retrieval using observation, interview and documentation techniques. The results showed that STAI Nahdlatul Wathan Samawa conducted socialization or marketing by going to schools to introduce study programs at STAI Nahdlatul Wathan Samawa, besides STAI Nahdlatul Wathan Samawa, socializing by distributing brochures, either manually or through social media by involving the New Student Admissions Committee, lecturers and students. The obstacle encountered in marketing or introducing study programs at STAI Nahdlatul Wathan as explained by the New Student Admissions Committee is the lack of interest in the Sumbawa people to study religion.
Peran Pemuda Nahdlatul Wathan dalam Meng-Counter Radikalisme dan Liberalisme dalam Mewujudkan Moderasi Beragama di Kabupaten Sumbawa Abdul Haris; Zainal Arifin
Al-Munawwarah : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 13 No. 1 (2021): Maret
Publisher : LP3M Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Wathan SAMAWA SUMBAWA BESAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35964/al-munawwarah.v13i1.5259

Abstract

As the next generation, Nahdlatul Wathan youth have an important role in realizing religious moderation in countering radicalism and liberalism in the Sumbawa district. Based on the background above, this article will aim to answer several questions, namely, what is the meaning of radicalism and liberalism, what is religious moderation like? And what is the role of Nahdlatul Wathan youth in countering Radicalism and Liberalism in Realizing Religious Moderation in Sumbawa Regency. This research is a descriptive qualitative research, in which researchers go directly to the field to collect data by observing and interviewing. The results of these observations and interviews illustrate that the efforts made by the Nahdlatul Wathan Youth in Countering Radicalism and Liberalism by activating studies and being involved in studies at the Nurul Huda Great Mosque of Sumbawa. The study presented Ustadz-Ustadz from Nahdlatul Wathan, Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah figures.