Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pengaruh pH dan Jenis Pelarut terhadap Ekstraksi Batch Asam 6-Aminopenisilinat Lienda Aliwarga; Reynard Reynard; Iga Putri Yasmani; Mia Puspasari
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 18, No 2 (2019)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2019.18.2.5

Abstract

Abstrak. Asam 6-aminopenisilinat (6-APA) merupakan bahan dasar pembuatan penisilin semi-sintetis. Dalam skala komersial, 6-APA dapat diproduksi dengan cara enzimatis atau kimiawi. Pada umumnya, produksi 6-APA dilakukan secara enzimatis, yaitu dengan mengkonversi penisilin G menjadi 6-APA dengan bantuan penisilin asilase. Karena konversi merupakan reaksi kesetimbangan, maka produk yang didapat adalah campuran penisilin G, 6-APA, dan asam fenil asetat (PAA) sehingga untuk memperoleh 6-APA murni dilakukan proses ekstraksi, pemekatan, dan kristalisasi. Proses ini dipengaruhi oleh beberapa variabel operasi, yaitu temperatur, pH, dan jenis pelarut. Dalam penelitian ini akan dipelajari pengaruh pH dan jenis pelarut terhadap proses pemisahan 6-APA. Temperatur operasi adalah kondisi ruang dan perbandingan volume pelarut dengan volume larutan yang akan diekstraksi adalah 1:1. Variasi pH ekstraksi dilakukan antara rentang 2,0-5,0, sedangkan jenis pelarut yang digunakan adalah n-butil asetat, iso butil asetat, metil isobutil keton, dan iso amil asetat. Rentang pH terbaik untuk pemisahan 6-APA adalah 2,0-3,0 dengan pelarut metil isobutil keton. Pada kondisi ini, perolehan penisilin G adalah 98%, 6-APA 5%, dan PAA 99%. Sebagian besar 6-APA pada fase aquatik dapat diproses untuk pemurnian selanjutnya. Kata kunci: Penisilin G, 6-APA, PAA, ekstraksi, pelarut, pH. Abstract. Influence of pH and Solvent Types on 6-Aminopenicillinic Acid Batch Extraction. 6-aminopenicillinic acid (6-APA) is the raw material for producing semi-synthetic penicillin. In commercial scale, penicillin G is converted into 6-APA enzymatically by penicillin acylase. Due to the nature of equilibrium reaction, the products are in mixture solution of penicillin G, 6-APA, and phenyl acetic acid (PAA). In order to purify the targeted 6-APA, steps of extraction, concentration, and crystallisation are thereby compulsory. Extraction process is influenced by operation variables, among other things, temperature, pH, and solvent types. In this experiment, we observed the aspects of pH and solvent type, while temperature was set in room condition. Volume ratio of solvent to extracted solution was 1:1 and pH was varied between 2.0 and 5.0. There were four solvents tested: n-butyl acetate, isobutyl acetate, methyl isobutyl ketone, and isoamyl acetate. The results suggested that optimum process was attained from pH 2.0 to 3.0, using methyl isobutyl ketone as solvent. In this regard, the yield of penicillin G (98%), 6-APA 95%) and PAA (99%); hence, most of the 6-APA was concentrated within the aquatic phase, representing the ease of further process. Keywords: Penicillin G, 6-APA, PAA, extraction, solvent, pH. Graphical Abstract
PENGENDAPAN TITANIUM PADA LARUTAN PASIR BESI DALAM ASAM SULFAT Lienda Aliwarga; Reynard Reynard; Agnes Veronica Victoria
Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Vol 15, No 2 (2019): Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Edisi Mei 2019
Publisher : Puslitbang tekMIRA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (695.778 KB) | DOI: 10.30556/jtmb.Vol15.No2.2019.989

Abstract

Pemisahan titanium dari pasir besi akan menguntungkan karena titanium merupakan bahan dengan nilai ekonomi tinggi. Endapan titanium dapat diperoleh dari pasir besi melalui tahapan pelarutan, ekstraksi reaktif, dan pengendapan titanium. Pelarutan pasir besi asal Yogyakarta dengan asam sulfat 6 M selama 8 jam pada temperatur didih (110–115 °C), dengan perbandingan stoikiometri antara pasir besi dan asam sulfat sebanyak 1:4 dapat menghasilkan Fe(III) larut sebanyak 73,18%, Fe(II) 12%, dan Ti(IV) 28,86%. Pengurangan kadar besi dari larutan pasir besi dilakukan melalui ekstraksi menggunakan TBP (Tri-Buthyl Phosphate) 33,4% dengan perbandingan volume fase akuatik terhadap fase organik sebesar 1:1 untuk tiga kali pengulangan ekstraksi. Pengendapan dilakukan melalui pengaturan pH larutan, dengan penambahan larutan NaOH 15 M ke dalam larutan pasir besi. Konsentrasi awal titanium yang diamati antara 28.0-112.5 % w/v dan rentang pH 0 – 4. Hasil percobaan menunjukkan bahwa titanium dan besi mengendap bersama-sama sebanyak 100% dan semakin besar konsentrasi awal titanium, pH pengendapan semakin kecil. Keberadaan besi dalam larutan pasir besi memengaruhi kemurnian titanium dioksida yang diperoleh sehingga perlu diupayakan agar larutan pasir besi telah bebas besi sebelum pengendapan dilakukan.
PROSES PEMUTIHAN KAOLIN CICALENGKA UNTUK PELAPIS KERTAS Lienda Aliwarga
Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 13 No. 2 (2019): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/mipi.v13i2.3217

Abstract

Rata-rata bahan baku kaolin di Indonesia masih mempunyai derajat keputihan yang rendah padahal kaolin harus mempunyai derajat keputihan yang tinggi (>83%) untuk dapat digunakan sebagai pelapis dalam industri kertas. Untuk meningkatkan derajat keputihan dari bahan baku kaolin tersebut, proses pemutihan perlu dilakukan. Proses pemutihan kaolin telah banyak dilakukan oleh beberapa peneliti dengan menggunakan pemutih yang berbeda-beda. Warna kuning kecokelatan pada kaolin yang menurunkan derajat keputihan kaolin disebabkan oleh kandungan besi (III) oksida dalam kaolin. Pada proses pemutihan, terjadi reduksi besi (III) oksida menjadi besi (II) oksida yang lebih mudah larut dalam air sehingga lebih mudah dipisahkan dari padatan kaolin. Pada penelitian ini, pemutihan kaolin menggunakan Na2S2O4 dan EDTA sebagai pemutih. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh variabel operasi yaitu pH  dan temperatur terhadap derajat keputihan kaolin pada proses pemutihan menggunakan kedua pemutih tersebut. Hasil percobaan menunjukkan proses pemutihan menggunakan Na2S2O4 dan EDTA dapat meningkatkan derajat keputihan kaolin sehingga memenuhi spesifikasi untuk pelapis kertas pada beberapa kondisi operasi. Proses pemutihan berhasil meningkatkan derajat keputihan kaolin hingga mencapai 85,54% pada pH  12 dan temperatur 70oC.
PENGENDAPAN TITANIUM PADA LARUTAN PASIR BESI DALAM ASAM SULFAT Lienda Aliwarga; Reynard Reynard; Agnes Veronica Victoria
Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Vol 15 No 2 (2019): Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Edisi Mei 2019
Publisher : Balai Besar Pengujian Mineral dan Batubara tekMIRA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30556/jtmb.Vol15.No2.2019.989

Abstract

Pemisahan titanium dari pasir besi akan menguntungkan karena titanium merupakan bahan dengan nilai ekonomi tinggi. Endapan titanium dapat diperoleh dari pasir besi melalui tahapan pelarutan, ekstraksi reaktif, dan pengendapan titanium. Pelarutan pasir besi asal Yogyakarta dengan asam sulfat 6 M selama 8 jam pada temperatur didih (110–115 °C), dengan perbandingan stoikiometri antara pasir besi dan asam sulfat sebanyak 1:4 dapat menghasilkan Fe(III) larut sebanyak 73,18%, Fe(II) 12%, dan Ti(IV) 28,86%. Pengurangan kadar besi dari larutan pasir besi dilakukan melalui ekstraksi menggunakan TBP (Tri-Buthyl Phosphate) 33,4% dengan perbandingan volume fase akuatik terhadap fase organik sebesar 1:1 untuk tiga kali pengulangan ekstraksi. Pengendapan dilakukan melalui pengaturan pH larutan, dengan penambahan larutan NaOH 15 M ke dalam larutan pasir besi. Konsentrasi awal titanium yang diamati antara 28.0-112.5 % w/v dan rentang pH 0 – 4. Hasil percobaan menunjukkan bahwa titanium dan besi mengendap bersama-sama sebanyak 100% dan semakin besar konsentrasi awal titanium, pH pengendapan semakin kecil. Keberadaan besi dalam larutan pasir besi memengaruhi kemurnian titanium dioksida yang diperoleh sehingga perlu diupayakan agar larutan pasir besi telah bebas besi sebelum pengendapan dilakukan.