Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERBEDAAN KETEBALAN FILTER ARANG AKTIF AMPAS KOPI DALAM MENURUNKAN KADAR BESI (Fe) PADA AIR BERSIH Yuliana Sarasati; Imam Thohari; Bambang Sunarko
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 9, No 4 (2018): Oktober 2018
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.51 KB) | DOI: 10.33846/sf.v9i4.288

Abstract

Karbon ampas kopi sebagai bahan baku pembuatan arang aktif dapat meminimalisir dampak timbunan ampas kopi. Penelitian ini bertujuan mengetahui kemampuan berbagai ketebalan filter arang aktif ampas kopi dalam menurunkan kadar Fe pada air bersih, menggunakan Pretest-Posttest with Control Group Design, dengan obyek larutan besi dari garam FeCl3 dialirkan ke filter arang aktif ampas kopi berukuran 4060 mesh dengan ketebalan 40 cm, 60 cm dan 80 cm pada kelompok perlakuan. Pada kelompok kontrol tidak dialirkan dalam filter arang aktif ampas kopi. Arang aktif yang dikarbonisasi pada suhu 500oC selama 20 menit dan diaktivasi dengan HCl 0,5 M selama 48 jam, memiliki kadar air (0,21%), kadar abu (0,11%) dan daya serap terhadap iodium (874,80 mg/g). Filter arang aktif ampas kopi menurunkan Fe awal dari 8,5 mg/l menjadi 6,02 mg/l pada ketebalan 40 cm (efektifitas penurunan 29,18%); 1,21 mg/l pada ketebalan 60 cm (efektifitas penurunan 85,76%); dan 1,04 mg/l pada ketebalan 80 cm (efektifitas peenurunan 87,76%). Diketahui bahwa filter dengan ketebalan 80 cm memberikan pengaruh paling signifikan terhadap rata-rata kadar besi yang dihasilkan. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah mutu arang aktif ampas kopi telah memenuhi SNI No. 063730-1995. Ketebalan 80 cm merupakan tingkat ketebalan filter yang paling optimal dalam menurunkan kadar besi. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dalam rangka pengembangan penelitian seperti penggunaan jenis ampas kopi yang lebih spesifik sebagai bahan pembuatan arang aktif, peningkatan suhu karbonisasi dan konsentrasi aktivator. Kata kunci: Ampas kopi, arang aktif, kadar besi dalam air bersih
HUBUNGAN KONDISI FISIK RUMAH, PERSONAL HYGIENE DENGAN KEJADIAN KUSTA TAHUN 2020 (Di Wilayah Kerja Puskesmas Talango, Kecamatan Talango, Kabupaten Sumenep) Ibnatil Fitriya; Umi Rahayu; Bambang Sunarko
GEMA LINGKUNGAN KESEHATAN Vol 19, No 1 (2021): GEMA Lingkungan Kesehatan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/kesling.v19i1.1295

Abstract

Penyakit kusta atau lepra merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium Leprae. Di Kabupaten Sumenep prevalensi kusta pada tahun 2018 didapatkan sebesar 3,35/10.000 penduduk yang artinya masih diatas target 1/10.000 penduduk dengan penemuan kasus baru sebanyak 385 orang. Kecamatan Talango menduduki peringkat kedua di Kabupaten Sumenep setelah Kecamatan Gayam dengan jumlah penderita tahun 2018 sebanyak 39 orang dan tahun 2019 sebanyak 13 orang. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan kondisi fisik rumah, Personal Hygiene dengan kejadian kusta tahun 2019 (Di Wilayah Kerja Puskesmas Talango, Kecamatan Talango, Kabupaten Sumenep).Penelitian ini merupakan observasional analitik dengan desain case control. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan pengukuran. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 52 orang dengan besar sampel kasus sebanyak 46 orang sehingga sampel kontrol 46 orang. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji Chi Square.Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara : kondisi fisik rumah dengan kejadian kusta (p=0,000), jenis lantai dengan kejadian kusta (p=0,001), kepadatan hunian dengan kejadian kusta (p=0,001), ventilasi dengan kejadian kusta (p=0,014) pencahayaan dengan kejadian kusta (p=0,001), kelembaban dengan kejadian kusta (p=0,001), personal hygiene dengan kejadian kusta (p=0,013), kebiasaan mandi dengan kejadian kusta (p-0,002), kebiasaan meminjam handuk dengan kejadian kusta (p=0,001) dan tidak ada hubungan antara jenis dinding dengan kejadian kusta (p=0,062), kebiasaan meminjam pakaian dengan kejadian kusta (p=0,331).Berdasarkan hasil penelitian, saran yang diberikan kepada masyarakat yaitu meningkatkan kebersihan perorangan dengan cara mandi tidak kurang dari 2x sehari, tidak menggukan handuk serta pakaian antar keluarga dan perbaikan kondisi lingkungan rumah yang bertujuan mengurangi potensi perkembangbiakan bakteri penyebab kusta.