Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pertumbuhan Rumput Laut Jenis Gelidium Spinosum pada Kepadatan Bibit Berbeda di Media Tanam Substrat Buatan Karung Goni di Pantai Karapyak Pangandaran Hadiani, Prayekti Diftania; Anggraeni, Santi Rukminita; Sunarto, Sunarto; Diana, Skalalis
Jurnal Kelautan Nasional Vol 19, No 3 (2024): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkn.v19i3.13805

Abstract

Gelidium merupakan salah satu jenis rumput laut penghasil agar yang masih mengandalkan populasi alam dan belum dapat didomestikasi. Perubahan iklim dam eksploitasi dapat menyebabkan kepunahan populasi. Budidaya dengan substrat buatan diharapkan dapat menjadi alternatif metode domestikasi Gelidium. Karung goni merupakan serat alam dengan kekuatan mekanik yang baik yang mudah dijumpai sebagai limbah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kemampuan tumbuh Gelidium pada substrat karung goni yang ditanam dengan kepadatan bibit berbeda. Penelitian ini menggunakan eksperimen rancangan acak lengkap dengan 3 perlakuan berbeda yaitu 25 gram, 50 gram, dan 75 gram dengan ukuran karung goni sebesar 30 cm x 30 cm. Kepadatan bibit ini mengacu pada perlakuan jumlah total bibit yang ditanam pada setiap substrat karung goni. Pertumbuhan Gelidium diamati selama 45 hari melalui pengukuran berat bibit dan panjang talus. Suhu, salinitas dan pH perairan dipantau selama penelitian. Perairan lokasi penelitian menunjukkan kondisi yang sesuai namun berfluktuasi sehingga mempengaruhi pertumbuhan rumput laut. Rata-rata suhu adalah 24,3-28,5 oC, salinitas 32-35 ppt dan  pH 8,07-8,96. Hasil analisis varians menunjukkan bahwa kepadatan 25 gram menunjukkan pertumbuhan terbaik ditinjau dari pertambahan panjang talus yaitu menunjukkan nilai signifikan 0,004 (Sig.) < 0,05 (α). Gelidium menunjukkan rata-rata berat yang menurun dikarenakan hilangnya sampel bibit rumput laut yang disebabkan oleh faktor perairan dan omnivora laut. Penelitian lanjutan substrat buatan masih diperlukan penyeempurnaan agar dapat menunjang domestikasi dan budidaya rumput laut alam yang berkelanjutan.
PENGARUH HUJAN TERHADAP PENYU YANG MENDARAT UNTUK BERTELUR DI KAWASAN KONSERVASI PANTAI PANGUMBAHAN Ismail, Mochamad Rudyansyah; Sunarto, Sunarto; Diana, Skalalis; Tamir, Muhammad Fauzan
Akuatika Indonesia Vol 11, No 1 (2026): Jurnal Akuatika Indonesia (JAkI)
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan Universitas Padjadjaran, Grha. Kandaga (P

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jaki.v11i1.57668

Abstract

Penyu yang melakukan peneluran memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap cahaya, pergerakan, dan kebisingan di lingkungan sekitar. Adapun faktor yang dapat mempengaruhi sensitivitas penyu di luar kemampuan penjagaan oleh pihak konservasi, yaitu faktor alam seperti hujan. Fenomena hujan dapat menimbulkan gangguan seperti kebisingan suara serta cahaya yang dapat mengganggu kenyamanan penyu saat melakukan pendaratan dan berujung pada kegagalan peneluran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh hujan terhadap penyu yang mendarat untuk bertelur di Kawasan Konservasi Pantai Pangumbahan. Metode pengambilan data pada penelitian ini menggunakan metode survei teknik observasi dan pengumpulan data sekunder. Observasi dilakukan selama 2 minggu di Pantai Pangumbahan untuk mengetahui tingkah laku penyu saat kondisi hujan dan tidak hujan. Data sekunder terdiri dari data citra curah hujan selama satu tahun pada tahun 2022 yang diunduh melalui perangkat lunak GsMAP, serta data penyu yang berhasil maupun gagal bertelur selama satu tahun pada tahun 2022 yang diambil dari logbook Balai Konservasi Pantai Pangumbahan. Kemudian tingkah laku penyu saat hujan dan tidak hujan dianalisis secara deskriptif, sementara pada data citra curah hujan dan persentase penyu yang berhasil bertelur dilakukan analisis statistik metode korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa curah hujan dan persentase keberhasilan penyu bertelur memiliki korelasi yang kuat dengan nilai koefisien korelasi (r) sebesar -0.6542, yang artinya semakin tinggi curah hujan di Pantai Pangumbahan maka semakin rendah tingkat keberhasilan peneluran penyu di pantai tersebut. Penyu yang bertelur saat kondisi hujan cenderung menghabiskan durasi yang lebih singkat, memilih lokasi yang agak jauh dari area vegetasi, serta memiliki sensitivitas yang lebih rendah dibandingkan penyu yang bertelur saat kondisi tidak hujan.