Aseng Yulias Samongilailai
Sekolah Kristen Ketapang 1, Jakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Mari Kawan, Kita Bersahabat Aseng Yulias Samongilailai
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 10 No 2 (2021): Januari-Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51828/td.v10i2.36

Abstract

Amsal 17:17 merekam dengan baik tentang seorang sahabat yang sangat mengagumkan dan tulisan ini bertujuan untuk menemukan makna dibalik teks tersebut. Dalam kerangka itu tulisan ini juga memuat upaya reinterpretasi terhadap kata צרה yang oleh Lembaga Alkitab Indonesia diterjemahkan sebagai “kesukaran”. Pendekatan yang digunakan dalam tulisan ini adalah historical background dan grammatical analysis. Melalui kedua pendekatan tersebut penulis menemukan makna dari figur seorang sahabat menurut Amsal 17:17 yakni sahabat adalah ia yang ikut terjun merasakan kemalangan atau situasi yang sangat sulit dari sahabatnya namun pada saat yang sama ia juga mengalami kesulitan dalam dirinya karena cintanya kepada sang sahabatnya, ia bergumul tentang bagaimana ia sendiri akan menempatkan dirinya (melahirkan dirinya) bak seorang saudara bagi sahabatnya. Temuan berikutnya, dari hasil penelusuran terhadap kata “kesukaran” yang berangkat dari kata צרה penulis mengusulkan agar sebaiknya diterjemahkan dengan kata “kemalangan” atau “kesengsaraan” atau tetap pada arti “kesukaran” namun dengan sense “kemalangan” atau “kesengsaraan”.
Studi Gramatikal Galatia 2:11-14: Patutkah Menegur Pemimpin Rohani? Aseng Yulias Samongilailai
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 4, No 2 (2020): April 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v4i2.254

Abstract

Abstract. Rebuking a spiritual leader is hardly easy, that it seem to be disrespecting someone who had been anointed by God. That is what makes more Christians keep quiet despite knowing that their spiritual leader is mistaken. Through the grammatical analysis of Galatians 2: 11-14 the writer tried to prove the propriety of a person rebuking a spiritual leader. Through this study it could be concluded that the spiritual leader deserves to be rebuked if he/ she has deviated from the the truth of the Gospel he/she himself/ herself taught.Abstrak. Menegur seorang pemimpin rohani tidaklah mudah, di mana upaya tersebut seringkali dianggap sebagai tidak menghormati orang yang telah diurapi Tuhan. Hal itulah yang membuat lebih banyak orang Kristen diam saja meskipun mengetahui  pemimpin rohaninya berbuat salah. Melalui analisis gramatikal Galatia 2:11-14 penulis hendak membuktikan kepatutan seseorang menegur pemimpin rohaninya. Melalui kajian ini dapat disimpulkan bahwa pemimpin rohani patut untuk ditegur dengan keras apabila telah menyimpang dari kebenaran Injil yang diajarkannya sendiri.