John Mansford Prior
Dosen Teologi Kontekstual Pada Program Pascasarjana STFK Ledalero, Maumere - Flores

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

KEHADIRAN, KESABARAN, KETEKUNAN MISI DALAM SEBUAH PUSAT PERDAGANGAN MANUSIA Prior, John Mansford
Jurnal Ledalero Vol 13, No 1 (2014): MANUSIA MEMPERDAGANGKAN MANUSIA
Publisher : Ledalero Institute of Philosophy and Creative Technology (IFTK Ledalero), Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31385/jl.v13i1.64.21-44

Abstract

This essay looks at human trafficking as the underbelly of an unregulated global economy. Using data collated by the UN and studies undertaken by independent research institutes, the global pattern of trafficking is outlined before focusing on Southeast Asia, a key hub in this modern form of slavery. Key characteristics and motivations are delineated with reference to UN definitions and legislation in Southeast Asia. Attention is given to the global need for cheap labour, sex workers and the widespread trafficking of children. Then, the phenomenon is seen through the eyes of faith drawing on four key biblical attitudes: upholding human dignity (protection), reaching to the heart (prevention), naming the sin (prosecution), and extending Gospel community (partnering). Kata-kata Kunci: Ekonomi global, perdagangan manusia, perdagangan perempuan dan anak-anak, undang-undang Asia Tenggara, perlindungan, pencegahan, jaringan berbasis iman.
EDITORIAL - TOLAK TIPU, LAWAN LUPA: PEMBANTAIAN MASSAL 1965-1966 Prior, John Mansford
Jurnal Ledalero Vol 14, No 1 (2015): Tolak Tipu, Lawan Lupa
Publisher : Ledalero Institute of Philosophy and Creative Technology (IFTK Ledalero), Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31385/jl.v14i1.6.3-10

Abstract

Waktu duduk di bangku SMP/SMA (1958-1963), sejarah politik masih disoroti dari perspektif para penguasa seperti kaisar dan raja, presiden dan perdana menteri. Dan memang pada masa itu penuturan sejarah politik sering digariskan oleh pihak yang berkuasa, pihak yang menang. Tapi, ketika mempelajari sejarah sosial di sekolah yang sama, kami diantar ke dalam getir gerak rakyat yang tertekan-tertindas, seperti pemberontakan kaum tani pada abad ke-13, urbanisasi besar-besaran pada abad ke-18, tuntutan serikat-serikat buruh dan pendirian koperasi kredit perdana pada abad ke-19, dan pembentukan Partai Buruh pada awal abad ke-20. Gurunya lain-lain; jelas juga pelajaran yang satu mempertanyakan pelajaran yang lain. Sejarah sosial mengikis kehebatan para raja sambil memperdepankan posisi rakyat biasa, dengan segala hasrat, strategi dan taktik juangnya. Dalam bahasa Alkitab: bukan sejarah dari perspektif raja Daud dan Solomo (sudut Deuteronomistik), tetapi sejarah sebagaimana disoroti nabi Amos, Hosea dan Yesaya (pihak nurani rakyat). Sebetulnya, sebagian besar sejarah masyarakat Allah dalam Alkitab ditulis dari pihak rakyat yang kalah. Tentu Bupati, Gubernur dan Presiden main peran dalam masyarakat. Namun, sejarah lebih teranyam oleh rupa-rupa kisah dari masyarakat biasa. Maka timbul pertanyaan: kajian sosial dan analisis politik mestinya dinilai dari pihak mana, pihak siapa? Pihak yang berkuasa atau pihak rakyat yang dikuasai? Bisakah kita menulis kembali sejarah NTT, umpamanya, dari sisi mereka yang kalah, bahkan dari perspektif mereka yang pernah disingkirkan, mereka yang dikalahkan, dibisukan, dan selama ini dilupakan? Sanggupkah kita menolak tipu dan melawan lupa dan membaca ulang sejarah kita dengan nurani rakyat yang murni? Pada tahun 2012 sutradara Joshua Openheimer menayangkan film Jagal. Selama dua jam penuh sejumlah pelaku premen dengan bangga merekonstruksi pembunuhan-pembunuhan yang mereka lakukan pada tahun 1965/1966 “atas nama negara”. Para psikolog menyatakan bahwa manusia mampu membunuh sesamanya hanya jika sasarannya sudah distigmatisasi dan di-dehumanisasi. Manusia tidak bisa membunuh sesamanya begitu saja, akan tetapi kita siap menghabisi obyek-obyek dan benda-benda yang kotor lagi najis, rela melibatkan diri dalam aksi “pembersihan lingkungan”. Nyatanya, pemutaran film Jagal berhasil membuka tabir yang selama lima puluh tahun menutup peristiwa pembantaian tragis-brutal tahun 1965/1966 dari ingatan kita, dari memoria bangsa kita. Jelas, sejarah resmi tahun 1960an disusun oleh para pemenang, oleh Orde Baru, bukan oleh mereka-mereka yang dikorbankan supaya Suharto bisa naik tahta. Mana ada buku sekolah yang mengingatkan kita bahwa rezimnya dikonsolidasikan dalam lautan darah, dan didirikan di atas jenazah ratusan ribu korban.
IMIGRAN DAN PERANTAU YANG “GAGAL” DAN PULANG KAMPUNG: Sebuah Firman yang Membangkitkan dari Kitab Rut Prior, John Mansford
Jurnal Ledalero Vol 14, No 2 (2015): HIV : Pesawat Tempur Siluman NTT
Publisher : Ledalero Institute of Philosophy and Creative Technology (IFTK Ledalero), Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31385/jl.v14i2.19.287-305

Abstract

This essay details how an “intuitive reading” of the Book of Ruth by a group of HIV carriers from Flores island, Indonesia, renewed their faith. The men caught the virus as economic migrants and then proceeded to give it to their wives on returning home sick. Rejected by family and by many members of the clergy, they have formed their own support group. Coming from the interior, most were not regular church goers before contacting the virus. Some years ago they began reading the Scriptures regularly once a month. They easily identified with Naomi and Ruth, with their failed migration, and with the tactics they were forced to use in order to survive on returning to Bethlehem. Members of the HIV support group, largely unsupported by the institutional Church or by their extended families, have discovered in reading the Bible together a liberating Word that has rekindled a deep personal faith in the God of compassion. Kata-kata kunci: HIV, perantau, migran, ODHA, Support Group, Syering, Kitab Suci, Rut.
EDITORIAL HIV: Pesawat Tempur Siluman NTT Prior, John Mansford
Jurnal Ledalero Vol 14, No 2 (2015): HIV : Pesawat Tempur Siluman NTT
Publisher : Ledalero Institute of Philosophy and Creative Technology (IFTK Ledalero), Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31385/jl.v14i2.14.211-216

Abstract

Seorang kenalan yang mengidap infeksi HIV pernah berkata,“Berstatus positif saya terima selaku berkat, berkat dari Tuhan yang paling baik bagi saya!” Bisakah, seorang penyintas HIV menyambut hasil tes positif bagai “berkat paling baik bagi saya”? Bukan bagai kutukan, bukan laksana pedang yang akan menohok dirinya seterusnya, seumur hidup? Tandasnya lagi, “Sebelum saya mengidap HIV saya hidup sembarangan, tapi kini saya hidup serba tertib. Dulu saya hanya ingat diri dan mengejar kenikmatan seketika, kesenangan sesaat, kepuasan sepintas. Kini saya bekerja keras untuk ibuku dan anak-anak kami yang masih kecil, yang sangat membutuhkan kehadiran saya.” Gaya hidupnya serta hasrat jiwanya sudah berbalik 180 derajat. Status positif menjadi berkat bagi dia, lebih lagi bagi istri dan anak-anak mereka.