Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

POSISI PENTING ORANG DIFABEL DALAM MASYARAKAT | THE IMPORTANT PLACE OF PEOPLE WITH DISABILITIES IN SOCIETY Novriana Gloria Hutagalung
Jurnal Ledalero Vol 17, No 2 (2018)
Publisher : Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.576 KB) | DOI: 10.31385/jl.v17i2.149.159-176

Abstract

Abstract Making use of the haecceitas theory of Duns Scotus, this text critiques the statement that every person, and in fact everything created, and especially people with disabilities, have an individual uniqueness. This is based upon the uniqueness of the Triune God who is relational. “Normal” people have self control, can decide and make personal choices. They can stand on their own two feet, and they are not dependent on others. The individuality or personality of a disabled person is often reduced because the disabled person is regarded as one who cannot do “normal” activities without assistance. All living creatures are relational beings because they have been created by and in God who is relational. The Church witnesses, in the Athanasian Creed, to the belief that the Triune God is Three separate Persons while being One in Essence. Keywords: Disability, Uniqueness, Personality, Trinity Abstrak Dengan menggunakan teori haecceitas dari Duns Scotus, tulisan ini hendak mengulas kenyataan bahwa setiap manusia bahkan setiap ciptaan, secara khusus orang dengan disabilitas, memiliki ke-ini-an masing-masing yang bersumber dari ke-ini-an Allah Trinitas yang relasional. Seorang manusia yang ‘normal’ adalah orang yang menguasai diri, dapat memutuskan dan menentukan pilihan bagi diri, mandiri, dan tidak bergantung kepada orang lain. Individualitas ataupun kepribadian orang dengan disabilitas sering direduksi karena orang dengan disabilitas dianggap tidak dapat melakukan aktivitas secara ‘normal’ tanpa dibantu orang lain. Seluruh makhluk hidup adalah makhluk yang relasional karena diciptakan oleh dan dalam Allah yang relasional. Gereja menyaksikan iman, melalui Pengakuan Iman Athanasius, bahwa Allah Trinitas tidak bercampur dalam Tiga Pribadi (persona) dan tidak terpisah dalam Esensi-Nya (substantia). Kata kunci: Disabilitas, Ke-ini-an, Kepribadian, Komuni, Trinitas
Holy Grandeur Enough for All Novriana Gloria Hutagalung
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 2 No. 2 (2017): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2017.22.317

Abstract

Abstract Natural degradation is not merely a competition between ecology and economy. The destruction of nature is closely related to religiosity and human relationships to fellow human beings, the environment, and God. Ecotheology becomes a self-criticism of the classical doctrines of Christianity, which are considered to exalt humankind as the “crown of creation” and marginalize non-human creatures as commodities of economic value for human interests. Ecotheology seems to have talked too often about damaged nature, or evenextinct plants or animals, and forgetting the other side of the bountiful biodiversities, which is the holy beauty of nature. Ecotheology needs to ponder that God, the Holy Grandeur, who manifests the cosmic wisdom in the beauty of all creation, is enough for all.    Abstrak Degradasi alam bukan semata-mata persaingan antara ekologi dan ekonomi. Kerusakan alam sangat terkait dengan religiositas dan relasi manusia terhadap sesama manusia, lingkungan sekitar, dan Allah. Ekoteologi menjadi sebuah otokritik atas doktrin-doktrin klasik Kristen yang dianggap telah meninggikan manusia sebagai ciptaan termulia dan meminggirkan ciptaan non-manusia sebagai komoditas bernilai ekonomis bagi kepentingan manusia. Ekoteologi tampaknya terlalu sering berbicara mewakili alam yang rusak, tumbuhan, dan hewan-hewan yang telah punah atau bahkan rusak, dan melupakan sisi lain darikeanekaragaman alam semesta, yakni keindah-kudusan alam itu sendiri. Ekoteologi perlu merenungkan bahwa Allah, Sang Semarak Kudus, yang memanifestasikan hikmat-kosmis dalam keindah-kudusan seluruh ciptaan, cukup untuk segala ciptaan dalam kelimpahruahan.