Sholihan Sholihan
IAIN Walisongo Semarang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

DECLARATION TOWARD A GLOBAL ETHIC OF THE PARLIAMENT OF THE WORLD’S RELIGIONS AND BUILDING WORLD PEACE Sholihan Sholihan
Jurnal Theologia Vol 23, No 1 (2012): PEMIKIRAN ISLAM
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2012.23.1.1758

Abstract

Tulisan ini  membahas Etika Global Deklarasi Parlemen Agama-agama Dunia dan signifi­kan­sinya bagi penciptaan dunia yang damai, dalam pengertiannya sebagai  negative peace ataupun positive peace. Ada beberapa nilai yang harus ada dalam dunia yang damai, yaitu: non-keke­rasan, kesejahteraan ekonomi, keadilan sosial, keseimbangan ekologis, dan kesetaraan, khu­sus­­nya keseteraan gender. Nilai- nilai ini pulalah yang dipromosikan oleh Deklarasi Etika Global  yaitu, komitmen pada budaya non-kekerasan dan hormat pada kehidupan,  komitmen pada bu­daya solidaritas dan tata ekonomi yang adil, komitmen pada budaya toleransi dan hidup yang benar, dan komitmen pada budaya per­samaan hak dan kemitrasejajaran antara laki-laki dan perempuan. Dengan demikian jelaslah signifikansi deklarasi etika global bagi upaya penciptaan dunia yang damai
Al-Hikmah Al-Muta‘Âliyyah Pemikiran Metafisika Eksistensialistik Mulla Shadra Sholihan Sholihan
Ulumuna Vol 14 No 1 (2010): Juni
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/ujis.v14i1.226

Abstract

Among the meritorious figures that develop the illuminative thought initiated by Suhrawardi is Shadr al-Dîn al-Shirazi, also known as Mulla Sadra. He is well known with his thought of al-Hikmah al-Muta'âliyyah or transcendent theosophy, an effort of harmonizing revelation, gnosis, and philosophy. He inflame an idea where the logic buried in the sea of light gnosis. He called the synthesis—one that he considered to be the particular basis of three major paths to truth for man, namely: revelation (wahy or shar'), intellection ('aql), and mystical vission (Kashf)—as al-Hikmah al-Muta‘âliyyah or transcendent theosophy. He has managed to make synthesis between deductive method of the Peripatetic, method of illumination, method of the odyssey of ‘irfân or Sufism, and method of Kalam. When his thought is compared with existentialistic thought of West, then there is a point of similarities among them not only in terms of technical language, but also in substantive matters.