This Author published in this journals
All Journal Al-MUNZIR
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

FUNGSI QIRᾹAT TERHADAP MAKNA AYAT AL-QUR’AN (Khusus Juz Ke-30) AMRI AMRI
Al-MUNZIR No 1 (2016): VOL.9. NO. 1 MEI 2016
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (605.14 KB) | DOI: 10.31332/am.v9i1.777

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk membuktikan kebenaran teori yang menyatakan bahwa fonem (bunyi) atau qirāat (bacaan) secara umum berfungsi membedakan makna kata.Untuk membuktikan kebenaran teori tersebut, penulis menggunakan pendekatan ilmu qirāat dan pendekatan terjemah Al-Qur’an, dengan metode analisis deskriptif, verifikatif dan argumentatif.Dan hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan fonem (bunyi) atau qirāat (bacaan) ayat-ayat Al-Qur’an yang terdapat pada juz ke-30, ternyata lebih banyak tidak berfungsi membedakan makna. Dari 37 surah yang terdapat pada juz ke 30, hanya 7 surah yang terdapat perbedaan qirāat di dalamnya yang berfungsi sebagai pembeda makna, yaitu: surat Al-Takwīr/81, Al-Infițār/82, Al-Muțaffifīn/83, Al-Insyiqāq/84, Al-Gāsyiyah/88, Al-Fajr/89, dan Al-Balad/90. Ada 23 surah yang terdapat pada juz ke 30 yang terdapat perbedaan qirāat di dalamnya yang tidak berfungsi sebagai pembeda makna. Ada 7 surah yang tidak terdapat perbedaan qirāat di dalamnya, yaitu: Surat Al-Ḍuhā/93, Al-Tīn/95, Al-`Ᾱdiyāt/100, Al-`Aṣr/103, Al-Fīl/105, Al-Kauṡar/108, dan al-Nās/ 114. Kata kunci: Qirāat, fungsi qirāat. 
AKHLAK KEPADA AL-QUR’AN AMRI AMRI
Al-MUNZIR No 1 (2017): VOL 10 NO.1 MEI 2017
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (581.05 KB) | DOI: 10.31332/am.v10i1.795

Abstract

Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa manusia sejak lahir membawa dua potensi yaitu: potensi kefasikan dan potensi ketaqwaan. Kedua potensi ini memiliki keseimbangan, tidak berat sebelah. Perkembangan kedua potensi tersebut tergantung kepada manusia itu sendiri. Jika menusia itu mengembangkan potensi ketaqwaannya, maka dia menjadi orang yang bertaqwa dan berakhlak terpuji. Dan jika manusia itu mengembangkan potensi kafasikannya, maka dia menjadi orang yang fasik dan berakhlak tercela. Jadi, akhlak itu terbagi dua macam yaitu: akhlak yang terpuji dan akhlak yang tercela. al-Qur’an merupakan firman Allah yang berisi tiga ajaran pokok yaitu: aqidah, ibadah dan akhlak. Terdapat beberapa ayat al-Qur’an yang mengisyaratkan bahwa manusia harus berakhlak kepada al-Qur’an dan terdapat pula beberapa Hadis yang mengisyaratkan hal itu. Di samping itu, terdapat juga riwayat yang menjelaskan bahwa sahabat Rasulullah saw berdoa setelah menamatkan bacaan al-Qur’an.Kata-kata kunci : Akhlaq, al-Qur’an, Fasiq, Taqwa