Khaerul Wahidin
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SYEKH NURJATI CIREBON

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Implementasi Nilai Sufistik Dalam Peningkatan Imtak Jamaah Masjid Raya At Taqwa Cirebon Vidi Briliansyah; Sunanta Sunanta; Sri Wulandari; Khaerul Wahidin
Jurnal sosial dan sains Vol. 1 No. 5 (2021): Jurnal Sosial dan Sains
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3313.479 KB) | DOI: 10.59188/jurnalsosains.v1i5.99

Abstract

Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di satu sisi menciptakan peradaban modern yang menjanjikan kemajuan dan kemudahan bagi kehidupan. Hegemoni ilmu pengetahuan dan teknologi yang melahirkan revolusi industri dan informasi menyediakan produk yang melimpah dan mempertajam karakter konsumtif manusia untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Di sisi lain, kemajuan dan hegemoni mengabaikan kebutuhan akan keamanan, cinta, martabat, kebebasan, kebenaran, dan keadilan. Karena peradaban yang tinggi menyebabkan manusia terabaikan dan terasing dari Tuhan, lingkungan, komunitas, bahkan dari dirinya sendiri yang pada akhirnya menimbulkan bencana dan krisis yang mengganggu. Untuk menyiasati, Tasawuf diyakini bisa menjadi solusi untuk menetralkan kekacauan. Penerapan tasawuf di era modern harus dipraktikkan dalam bingkai syari'ah dengan mengakui pemahaman transformasi tasawuf. Tidak bisa dipraktekkan dengan mengedepankan maqamat dan ahwal saja tetapi dengan memodifikasi tasawuf menjadi dinamis dan inklusif agar dapat dicerna oleh kecerdasan spiritual. Kecerdasan spiritual adalah jalan menuju Tasawuf, yaitu eksplorasi kehidupan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Sejarah dan Ajaran Tarekat Syattariyyah di Keraton Keprabonan Ahmad Azhari; Musthofa Musthofa; Khaerul Wahidin
Jurnal sosial dan sains Vol. 1 No. 5 (2021): Jurnal Sosial dan Sains
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1444.18 KB) | DOI: 10.59188/jurnalsosains.v1i5.100

Abstract

Tarekat Syattariyah adalah satu dari sekian banyak tarekat yang berkembang di Indonesia. Tarekat ini didirikan oleh Syah Abd-Allah al-Syattar (w.890 H/1485 M) yang berasal dari daerah India. Masuk ke Indonesia di bawa oleh Syaikh Abdurrauf bin Ali al-Jawi al-Sinkili (1024-1105 H/1615-1693 M). Ia adalah seorang Ulama ahli hukum Islam (fiqh) sekaligus ahli tasawuf yang bermukim di Kerajaaan Islam Aceh pada sekitar Abad 17. Di sana Ia menjadi seorang Qadi (hakim Islam) pada zaman pemerintahan Sultanah Safiyatuddin (1645-1675).[1] Kemudian tarekat ini masuk ke daerah Jawa Barat, di sebarkan oleh Syaikh Abdul Muhyi (1071-1151 H/1650-1730 M) dari Pamijahan Tasikmalaya, yang merupakan murid dari Syaikh Abdurrauf bin Ali al-Jawi ketika ia belajar di Makkah.[2] Lalu melalui penelitian kami di Cirebon, di ketahui bahwa dari Pamijahan Tasikmalaya Tarekat Syattariyah kemungkinan masuk ke lingkungan Keraton Cirebon di bawa oleh Kyai Soleh Kertabasuki yang kemudian mengajarkan kepada Kyai Muhammad Arjaen, seorang Qadi di Keraton Kanoman Cirebon. Hal ini berdasarkan informasi yang terdapat pada Kitab Dadalan Tarekat Syattariyah Petarekan Ratu Raja Fatimah Keraton Kanoman Cirebon (Kitab panduan bertarekat lembaga tarekat Ratu Raja Fatimah dari Keraton Kanoman Cirebon) pada keterangan mengenai silsilah Tarekat Syattariyah.[3] Alasan kami menulis tentang Tarekat Syattariyah di lingkungan Keraton Cirebon adalah karena mengingat posisinya sebagai tarekat yang telah sangat lama di amalkan oleh komunitas Keraton Cirebon khususnya dan sebagian masyarakat Cirebon pada umumnya sehingga sedikit banyak telah mempengaruhi pola keberagamaan mereka. Oleh sebab itu, keberadaan Tarekat Syattariyah ini tidak dapat dipisahkan dengan sejarah perjalanan Keraton Cirebon yang dahulu merupakan salah satu basis penyebaran Islam di tanah Jawa.