Erinda Kartika Sari
Universitas Mulawarman

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Peranan Orang Tua Terhadap Pendidikan Seksual Pada Anak Retardasi Mental Ringan Usia 16-18 Tahun Erinda Kartika Sari
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 4, No 1 (2016): Volume 4, Issue 1, Maret 2016
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v4i1.3970

Abstract

Peranan orang tua dalam kaitannya dengan pendidikan anak adalah sebagai pendidik utama, maka dari itu tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan anak diantaranya memberikan dorongan atau motivasi baik itu kasih sayang, tanggung jawab moral, tanggung jawab sosial, tanggung jawab atas kesejahteraan anak baik lahir maupun batin, serta kebahagiaan dunia dan akhirat. Penelitian ini merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui peranan orang tua terhadap pendidikan seksual pada anak retardasi mental. Peran sebagai orang tua dapat dilihat dari apa saja yang diberikan selama ini kepada anak retardasi mental. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 3 orang sebagai subjek penelitian yaitu orang tua dari anak retardasi mental. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan snowball sampling. Data diambil dengan teknik wawancara mendalam dengan menggunakan indikator peran orang tua dan tahapan pendidikan seksual berdasarkan usia. Data yang diperoleh pada penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu peran orang tua sebagai pendidik, pengawas, teman, konselor, pendorong dan panutan cenderung kurang maksimal, hal ini dapat dilihat dari penyampaian tahapan-tahapan pendidikan seksual yang tidak semua tersampaikan serta pemahaman anak retardasi mental yang sukar berfikir secara abstrak, hanya hal-hal konkrit yang dapat difahami sehingga membuat orang tua hanya memberikan pengetahuan dasar dan tidak mendalam khususnya mengenai pendidikan seksual. Hal konkrit sekalipun butuh pengulangan kata kembali sehingga anak retardasi mental memahaminya. Oleh karena itu tahapan pendidikan seksual seperti permasalahan seksual tidak diberikan orang tua kepada anak retardasi mental.