Erni Marlina
Universitas Mulawarman Samarinda

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Internalisasi Nilai-Nilai Pancasila dan Rasa Cinta Tanah Air Pada Remaja Erni Marlina
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 4, No 4 (2016): Volume 4, Issue 4, Desember 2016
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v4i4.4244

Abstract

Penelitian tentang internalisasi nilai-nilai Pancasila dan cinta tanah air pada remaja di perbatasan Indonesia-Malaysia bertujuan untuk mengidentifikasi dan menggambarkan internalisasi nilai-nilai Pancasila dan cinta tanah air pada remaja di perbatasan Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Peneliti menggunakan teknik snowball sampling. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi dan wawancara dengan tiga subjek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga subjek menginternalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari mereka, meski tidak secara keseluruhan dan mencintai tanah airnya. Pada subjek pertama Nurmah, memiliki pengetahuan dan kesadaran akan pentingnya Pancasila, memiliki kemampuan menerapkan semua nilai-nilai Pancasila, bangga menjadi warga perbatasan, meski terkadang merasa malu dengan aksen yang digunakan, tetapi Nurmah tidak pernah berpikir untuk beralih kewarganegaraan. Subjek kedua, Ruslan, memiliki pengetahuan dan kesadaran akan pentingnya Pancasila, tetapi belum menerapkan nilai-nilai Pancasila kedua yang merendahkan agama lain. Ruslan bangga menjadi warga perbatasan dan mencintai tanah air dengan selalu mengikuti hari nasioanal, tetapi telah berpikir untuk beralih kebangsaan. Mata pelajaran ketiga Andi Kurnia, memiliki pengetahuan dan kesadaran akan pentingnya Pancasila, tetapi belum menerapkan nilai-nilai ketuhanan Pancasila yang tidak melakukan shalat lima waktu dan kemanusiaan yang belum bisa adil terhadap yang lain. Andi Kurnia juga merasa bangga menjadi warga perbatasan dan mencintai tanah air, tetapi memiliki pemikiran untuk beralih kebangsaan.