Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi koping dan kesejahteraan subjektif pada istri korban perselingkuhan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Pengambilan responden dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling. Adapun metode pengumpulan data yakni melalui wawancara dan observasi. Teknik analisa data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan atau verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perselingkuhan yang dilakukan oleh pasangan merupakan stressor yang memicu timbulnya kecenderungan stres pada ketiga subjek. Respon distress yang dirasakan yakni berbentuk emosi, pikiran, perilaku, dan fisik dimana hal tersebut dirasakan ketiga subjek dalam rentang waktu yang berlainan. Dalam menghadapi perselingkuhan suami ketiga subjek menggunakan strategi coping jenis problem focused coping dan emotional focused coping. Hal tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu yang berada dalam diri masing-masing subjek. Sementara itu, evaluasi subjektif yang dirasakan ketiga subjek menunjukkan perbedaan. Subjek RM cenderung merasakan kesejahteraan subjektif yang rendah di awal terungkapnya perselingkuhan hingga saat ini. Kemudian subjek AN cenderung merasakan kesejahteraan subjektif yang rendah di awal perselingkuhan, namun saat ini telah mulai membaik (cenderung tinggi). Sementara itu, pada subjek SB dirinya merasakan sejahtera meskipun merasakan berbagi afek negatif karena perselingkuhan suami. Evaluasi tersebut dipengaruhi oleh kriteria subjektif yang dimiliki subjek SB dimana dirinya akan merasa bahagia dan puas jikalau anaknya merasa bahagia. Di sisi lain, hasil penelitian menunjukkan bahwa anak merupakan faktor dominan yang membuat ketiga subjek tetap mempertahankan pernikahannya.