Muhammad Tasrif
Institut Teknologi Bandung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Study On Rice Production Enhancement In Bandung District Nuraeni Arumsari; Muhammad Tasrif
Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 17 No. 1 (2019): JURNAL EKONOMI PEMBANGUNAN
Publisher : Pusat Pengkajian Ekonomi dan Kebijakan Publik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/jep.v17i1.7495

Abstract

Agricultural enterprises have a very high dependence on land. If the availability of agricultural land is threatened, the agricultural products are threatened. The development of a region also requires land, but sometimes due to land constraints, there is a lot of conversion of agricultural land, including rice fields that ultimately impact on rice production. Bandung Regency is one of the areas that cannot be separated from the problem of development and conversion of agricultural land, meanwhile Bandung Regency is one of the contributors to the availability of food crops, one of them is rice. The government's target to be self-sufficient in food and make Indonesia as the world's food granary in 100 years of Indonesia's independence makes Bandung Regency must join efforts to increase rice production in the midst of widespread land use. This research was conducted to model the dynamics of rice production in Bandung regency. The approach used is system dynamics methodology that can contribute in understanding a problem built through dynamic hypothesis. Through the system dynamics method, a model developed illustrating the increase in rice production by identifying the various related elements and patterns of interrelationships between them. With the help of the model, several policy scenarios can be designed to increase rice production. The results showed that rice production if not intervened by policy, the rate of growth will decrease, especially if the over of fixed land functions still occur. The policy of using new varieties, namely INPARI 42 with a delay time of 3 years implementation, coupled with pest prevention policies, availibility and affordability fertilizers, and irrigation improvement can encourage the growth rate of rice production in Bandung Regency.
PROGRAM STUDI MAGISTER TEKNOKULTUR DI ITB: MENJADIKAN MANUSIA BERKEADABAN? Muhammad Tasrif
Jurnal Sosioteknologi Vol. 14 No. 3 (2015)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2015.14.3.1

Abstract

ABSTRAKTeknokultur yang dalam definisinya mengandung konsep saling-hubungan (feedback atau interdependent) antara teknologi dan kebudayaan mengindikasikan bahwa seorang lulusan Program Pendidikan Magister Teknokultur seharusnya memahami benar makna saling-hubungan tersebut. Dengan demikian, materi-materi mata kuliah yang perlu ditawarkan dalam Prodi Magister Teknokultur haruslah dapat mewujudkan pemahaman yang benar itu. Pada gilirannya melalui pemahaman ini, pemaknaan implikasi dari konsep saling-hubungan dalam konteks pola-pola kehidupan sosial dapat diperoleh dengan jelas (clear dan distinct). Suatu fenomena (fenomena teknokultur) menyangkut dua aspek: struktur dan perilaku. Perilaku suatu fenomena ditentukan oleh strukturnya. Ada dua macam struktur, struktur fisik dan struktur pembuatan keputusan. Keputusan-keputusan yang dibuat manusia, pada hakikatnya merupakan salah satu tahap terpenting dalam suatu siklus tertutup proses belajar manusia akan suatu fenomena yang menjadi fokus perhatiannya. Dalam proses belajar yang primitif, keputusan dihasilkan oleh suatu model mental, yang mana budaya memainkan perannya dalam model mental ini. Banyak kekurangan yang dijumpai dalam proses belajar yang hanya mengandalkan model mental. Salah satu kekurangannya adalah ketidakmampuan model mental membangun pemahaman yang lengkap akan keberadaan perilaku kompleksitas dinamis (dynamic complexity) suatu fenomena teknokultur.  Agar proses belajarnya efektif, proses belajar yang berdasarkan model mental itu perlu dilengkapi dengan suatu model ekplisit. Model eksplisit yang diperlukan adalah suatu model yang dapat mengakomodasi konsep saling-hubungan dalam suatu fenomena teknokultur serta implikasinya terhadap pola-pola kehidupan sosial. Paradigma berpikir sistem (systems thinking) dan metodologi system dynamics (dinamika sistem) dapat dipertimbangkan sebagai mata kuliah wajib yang diberikan di Prodi Magister Teknokultur ITB.Kata kunci: struktur, perilaku, model mental, systems thinking, system dynamics