Kajian ini merupakan bentuk studi “before and after” atas keberadaan industrialisasi pertambangan di Kabupaten Konawe Selatan. Pendekatan kualitatif dalam konteks paradigma “Phenomenologi” digunakan untuk mengembangkan telaah-telaah kritis reflektif atas berbagai fenomena, realitas dan hiperealitas yang mengemuka di wilayah pertambangan, melalui instrumen pengamatan, wawancara mendalam (deep interview) dan Focus Group Discussion (FGD). Analisis data sejak awal berlangsung dikembangkan dengan pendekatan “hermeneutik phenomenologik” (Muhadjir, 2011; Neuman, 2013). Hasil penelitian menunjukkan bahwa alam pedesaan di masa lalu adalah tak ubahnya seorang gadis cantik yang demikian elok dipandang mata. Namun ketika disorot dari sudut pandang filsafat materialisme Karl Marx, maka kini alam pedesaan tak mempesona lagi dan bahkan rongga hidung menjadi tersendat dan dada terasa sesak, ketika mendapat ciuman beracun dari kaum industriawan. Betapa tidak, satwa-satwa sebagai suatu realitas ekosistem telah digantikan oleh satwa-satwa baru, seperti peralatan raksasa penumbang pepohonan, penggali dan pengangkut tanah nikel serta mobil-mobil karyawan perusahaan yang lalulang seolah tak pernah berhenti dan tak kenal lelah dengan ekosistem khasnya tersendiri. Perkebunan dan persawahan, rumput laut, sumur-sumur dan sumber mata air yang menjadi andalan masyarakat selama ini, telah tertimpah malapetaka yang cukup dahsyat akibat dari penumbangan pohon-pohon raksasa dan galian tanah yang berlubang-lubang di sekitarnya. Sementara hasilnya hanya dinikmati oleh pemilik lahan. Kata kunci: industri, pertambangan dan sosial ekonomi