Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Sejarah Hubungan Kekerabatan Masyarakat Kota Kendari La Ode Dirman
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 2 No 3 (2013): Volume 2 Nomor 3, Oktober 2013
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (709.197 KB) | DOI: 10.33772/etnoreflika.v2i3.57

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk (1) untuk mengidentifikasi hubungan kekerabatan raja-raja kerajaan-kerajaan di Sulawesi Tenggara; (2) untuk mengkritisi perkembangan jejaring sosial, budaya, ekonomi, dan politik di Kota Kendari; (3) mengkritisi perkembangan jejaring system kekerabatan masyarakat Kota Kendari; (4) untuk mengidentifikasi nilai-nilai apa saja yang dapat ditampilkan untuk menjahit jejaring hubungan kekerabatan di Kota Kendari. Penelitian ini dilakukan selama 3 bulan yakni bulan juli sampai dengan bulan september tahun 2011. Tempat penelitian di Kota Kendari. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan pendekatan structural. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode dokumen, metode pengamatan langsung, dan metode wawancara mendalam terhadap informan terpilih. Data yang telah dikumpulkan dianalisis secara kualitatif. Penelitian ini menemukan bahwa hubungan kekerabatan raja-raja kerajaan-kerajaan di Kota Kendari terbangun sejak awal berkembangnya hubungan dagang dan diplomasi antar kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan dan Tenggara bahkan meluas di Nusantara. Hubungan kekerabatan etnik-etnik di Kota Kendari terbangun melalui jejaring sosial melalui relasi sosial, budaya yaitu persamaan bahasa, falsafah, dan budaya fisik dalam bentuk bangunan yaitu arsitektur, ekonomi melalui jejaring perdagangan, dan politik silsilah raja-raja. Sistem kekerabatan masyarakat Kota Kendari telah berkembang sejak masa perdagangan di kawasan timur Indonesia, terbentuknya Kabupaten Sulawesi Tenggara, dan terbentuknya Provinsi Sulawesi Tenggara. Pada tonggak-tonggak sejarah itu inklud perkawinan antar keluarga yang membentuk o rapu, rapu, dan kapolo serta wititinae. Pada etnik-etnik di Kota Kendari terbentuk nilai-nilai: Kebersamaan dalam satu o rapu yang saling memeberi dan menerima. Nilai kapolo kebersamaan keluarga-keluarga yang berhubungan satu dengan lainnya dalam jaringan yang luas karena perkawinan antar o rapu etnik-etnik dan menyatakan komitmen untuk saling memelihara, saling memajukan dan saling melindungi baik ancaman dari dalam maupun luar. Kata kunci: hubungan, kekerabatan, o rapu
REVITALISASI WARISAN NILAI BUDAYA BUTON DALAM FILOSOFI SARA PATAANGUNA (ADAT YANG EMPAT) SEBAGAI WUJUD KEARIFAN LOKAL La Ode Dirman
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 5 No 2 (2016): Volume 5 Nomor 2, Juni 2016
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8441.958 KB) | DOI: 10.33772/etnoreflika.v5i2.297

Abstract

The legacy of value is not automatically embedded in the minds of every individual but through the process. Individuals since childhood instill the feelings, desires, passions, and emotions that are needed throughout his life. Through the process of learning about patterns of action in relationships with all kinds of individuals who have a variety of positions and roles. In this process, a person will learn all kinds of norms, rules that exist in the customs that live in the community which then becomes a steady pattern. Similarly, the ideology of the customary norms of the sultanate of Buton inherited from the generation of generation up to now, but also in its development under threat of inheritance. Meanwhile, the customary norm of Buton called sara pataanguna contains the value of local wisdom is needed to maintain its existence in every individual activity. Therefore, it is necessary to revitalize constructive cultural values which in this reform era is very useful for the interests of development both for individual self as well as the collectivity of its supporting community especially in the field of social, cultural, political and economic development. Keywords : revitalization, ideology, norm, stereotipe , local wisdom