Iswadi Bahardur
STKIP PGRI Sumatera Barat

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search
Journal : KEMBARA

Subaltern jugun ianfu dalam cerpen Kapotjes dan Batu yang Terapung karya Faisal Oddang: Tinjauan poskolonial Gayatri Spivak Iswadi Bahardur
KEMBARA: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol. 6 No. 2 (2020): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/kembara.v6i2.13545

Abstract

Eksploitasi seksual dan kekerasan fisik yang dilakukan tentara Jepang terhadap perempuan pribumi di era penjajahan tahun 1942-1945 yang direpresentasikan kembali dalam teks-teks sastra pascakolonial, menjadi satu hal yang menarik untuk dikaji. Relevan dengan latar belakang tersebut, tujuan penelitian ini adalah menganalisis dan mengungkapkan permasalahan perempuan pribumi yang mengalami subaltern karena  dipaksa oleh tentara Jepang menjadi  jugun ianfu. Sumber data untuk mengungkapkan permasalah tersebut adalah cerpen karya Faisal Oddang berjudul Kapotjes dan Batu yang Terapung.  Data dalam penelitian ini adalah satuan kata, frasa, serta kalimat-kalimat dalam bentuk narasi dalam sudut pandang pengarang, maupun dialog antartokoh yang menggambarkan permasalahan subaltern jugun ianfu. Metode penelitian kualitatif dan pendekatan analisis isi digunakan untuk mengungkapkan masalah perempuan pribumi subaltern yang menjadi jugun ianfu dalam cerpen Kapotjes dan batu Yang Terapung dilakukan melalui telaah penokohan jugun ianfu bernama Suriani atau Hana. Telaah terhadap penokohan Suriani meliputi gambaran fisik, psikis, tindakan, kepribadian, dan relasi dominasi superior tokoh lain terhadap Suriani yang tergambar dalam teks dialog dan monolog cerpen. Tahapan analisis isi yang diterapkan adalah metode analisis hermeneutika, sesuai dengan pandangan Krippendoff. Hasil penelitian menunjukkan subalternisasi terhadap jugun ianfu dalam cerpen Kapotjes dan Batu yang Terapung terjadi karena dominasi kekuasaan tentara Jepang yang diwujudkan dalam (1) tindakan pelecehan fisik, (2) perkosaan, (3) eksploitasi dan perdagangan seksual, (4) penggantian identitas, (5) paksaan menghormati lagu kebangsaan Jepang, serta (6) penghilangan hak-hak kebebasan perempuan yang dipaksa menjadi jugun ianfu. Dominasi tersebut berdampak pada kerusakan fisik serta trauma psikis yang bermuara pada upaya perlawanan.