Buha Aritonang
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PENGGUNAAN BAHASA DAERAH GENERASI MUDA PROVINSI MALUKU UTARA DALAM RANAH KETETANGGAAN DAN PENDIDIKAN Buha Aritonang
tuahtalino Vol 15, No 2 (2021): TUAH TALINO
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/tt.v15i2.3520

Abstract

Penggunaan bahasa daerah dalam ranah ketetanggaan dan pendidikan di kalangan generasi muda Provinsi Maluku Utara merupakan fenomena kebahasaan yang perlu diteliti. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan persentase dan posisi rentang skala Likert dalam garis kontinum penggunaan bahasa daerah generasi muda Provinsi Maluku Utara dalam ranah ketetanggaan dan pendidikan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan sosiolinguistik. Teknik analisis data menggunakan teknik penghitungan persentase, rata-rata berbobot, dan skala Likert untuk menunjukkan posisi rentang skala dalam garis kontinum dan kemudian menginterpretasikannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketika generasi muda Provinsi Maluku berbicara dengan mitra tutur dalam ranah ketetanggaan/pertemanan dan pendidikan sama-sama tergolong tidak baik. Hal itu disebabkan kecenderungan generasi muda Provinsi Maluku Utara tidak pernah menggunakan bahasa daerah kepada mitra tutur seperti kepada guru yang sesuku di sekolah, guru yang tidak sesuku di sekolah, siswa yang sesuku di sekolah (di luar kelas), siswa yang sesuku di sekolah (di dalam kelas), siswa yang tidak sesuku di sekolah (di dalam kelas), dan siswa sesuku di sekolah (di luar kelas).
Klitik Klausa Pasif Bahasa Manggarai Dialek Barat Buha Aritonang Buha Aritonang
Buletin Al-Turas Vol 24, No 1 (2018): Buletin Al-Turas
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (725.575 KB) | DOI: 10.15408/bat.v24i1.7191

Abstract

Clitics is one of the language systems retained in the Western dialect of Manggarai. The clitics in that language is a bound form that phonologically has no stress and its form can not be regarded as a bound morpheme. To analyze it is used clitics theory. The purpose of this study is to describe the type of clitics, the proclitics form, and its manifestation in the passive clause of Western dialect of Manggarai language. The research method used is descriptive-qualitative method. The results of this study indicate that (1) the type of clitics in the Manggarai language of the Western dialect is classified into a prestigious prestigious proclitics, pronominal genetic encryption, and the pronominal enclosure of the subject; (2) the proximal pronounced pronominal form de= alomorfed with d= and belongs to the prestigious pronominal possessive. The form of de proclitics follows the / h / consonant, whereas d= follows the vowel form; proximal pronominal to the proper noun in the form of di=; the name of pronoun is de =, and the name of office (social status) is de =; and (3) the pronominal and genetic encryption of pronominal subjects can be manifested in the construction of the Western Manggarai dialect's passive clause.---Klitik merupakan salah satu sistem bahasa yang terdapat dalam bahasa Manggarai dialek Barat. Klitik dalam bahasa itu merupakan bentuk terikat yang secara fonologis tidak memiliki tekanan sendiri dan bentuknya tidak dapat dianggap sebagai  morfem terikat. Untuk menganalisinya digunakan teori morfologi. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan jenis klitik, bentuk proklitik, dan perwujudannya dalam klausa pasif bahasa Manggarai dialek Barat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif-kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) jenis klitik dalam bahasa Manggarai dialek Barat diklasifikasikan menjadi proklitik pronominal posesif, enklitik pronominal genetif, dan enklitik pronominal subjek; (2) bentuk proklitik pronominal posesif de= beralomorf dengan d= dan tergolong sebagai proklitik pronominal posesif. Bentuk proklitik de= mengikuti bentuk berawalan konsonan /h/, sedangkan d= mengikuti bentuk vokal; proklitik pronominal posesif untuk nama diri insan berupa di=; nama diri bukan insan berupa de=, dan nama jabatan (status sosial) berupa de=; dan (3) enklitik pronominal genetif dan enklitik pronominal subjek dapat diwujudkan dalam kontruksi klausa pasif bahasa Manggarai dialek Barat. DOI :  10.15408/bat.v24i1.7191
Bentuk Numeralia 1--10 dalam Bahasa-Bahasa Daerah di Kabupaten Kepulauan Yafen Buha Aritonang
Gramatika: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 5 No 1 (2017): Gramatika, Volume V, Nomor 1, Januari--Juni 2017
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31813/gramatika/5.1.2017.88.12--26

Abstract

Numeralia are not as easy as counting one, two, three, and so on and its form in every language is different. The purpose of this studi was to discribe numeral forms 1 to 10 in the regional languages of Yfen Island district. The research was condukted in 12 different villages who has different language.The research method was using qualitative method.The result of this ressearch are (1) numeralia form from 1--10 is classified into (a) basic numeralia such as number from 1--5 in Ambai's, Saweru's, Yawa Onate's, Serui Laut's, Warari Onate's, Busami's, Marau's, Munggui's, Ansus-Papuma's, Poom's, Wabo's, and Wooi Dumani's langauge; number 6-7 in Ambai language; dan 6—9 in Marau's, Munggui's, Ansus-Papuma's, Poom's, Wabo's, dan Wooi Dumani's and (b)combined numeralia such as 8 and 9 in Ambai's dan 6—9 Saweru's, Yawa Onate's, Serui Laut's, and Warari Onate's; (ii) some of the derived numeralia in Yapen Isle local languages use linker rei/iji for add such as six in Saweru's dan Yawa's; (iii) linker ko 'add' is an important part to combine the derived numeralia from muner 6--9; (iv) derived numeralia has no linker if it describe number 6-9 in Warari Onate's, and (v) combined numeralia could be in the form of reduction such as number 10 in Ambai Language.
BAHASA INDONESIA, DAERAH, DAN ASING DI WILAYAH PERBATASAN: Studi pada Bahasa Walsa dan Muyu Buha Aritonang
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 2 No. 2 (2017)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v2i2.661

Abstract

People’s perception in border area toward bahasa Indonesia, local and foreign languages is still relevant to be observed. In this regard, the study purpose is to  describe the characteristics of Banda and Kombut respondents who live in the border areas of Indonesia and Papua New Guinea and their perceptions toward bahasa Indonesia (language of Indonesian people), local languages (Walsa and Muyu), and foreign language   (Papua New Guinea language) which related to the policy on Indonesian and local assistance. To reach that goal, this research model is using quantitative model with descriptive method. This research is classified as field research with primary and secondary data types. The sample consists of 108 respondents of Kampung Banda and 110 of Kampung Kombut. The data were processed by simple tabulation analysis and Likert scale with reference to the average score formula. The results of this research indicate that Banda people’s perception is very positive towards bahasa Indonesia, positive to Walsa language, and not positive to Papua New Guinea language. Kombut people’s perception is positive towards bahasa Indonesia, quite positive both towards Muyu and of Papua New Guinea language. The perceptions of those two communities toward bahasa Indonesia, and their local languages due to loyalty, proudness, and awareness of bahasa Indonesia, Walsa, and Muyu norms. The results of people’s perception toward Papua New Guinea language which are Banda is not positive and Kombut is quite positive as they do not use the language as a medium of daily communication. Abstrak: Masyarakat tutur di wilayah perbatasan terhadap bahasa Indonesia, daerah, dan asing masih relevan untuk dicermati. Sehubungan dengah hal itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik responden masyarakat Banda dan Kombut yang berdomisili di wilayah perbatasan Indonesia dan Papua Nugini dan persepsi mereka terhadap bahasa Indonesia, daerah (bahasa Walsa dan Muyu), dan asing (bahasa Negara Papua Nugini) yang berkaitan dengan kebijakan pembinaan bahasa Indonesia dan daerah. Untuk mencapai tujuan itu, model penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan metode deskriptif. Penelitian ini tergolong penelitian lapangan dengan jenis data primer dan sekunder. Sampel terdiri atas 108 masyarakat tutur Kampung Banda dan 110 Kampung Kombut. Data diolah dengan analisis tabulasi sederhana dan skala Likert dengan  mengacu pada rumus skor rata-rata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi masyarakat Banda  adalah sangat positif terhadap bahasa Indonesia, positif terhadap bahasa Walsa, dan tidak positif terhadap bahasa Negara Papua Nugini. Persepsi masyarakat Kombut adalah positif terhadap bahasa Indonesia, cukup positif terhadap bahasa Muyu, dan cukup positif terhadap bahasa Negara Papua Nugini. Kedua kelompok masyarakat tersebut berpersepsi demikian terhadap bahasa Indonesia dan bahasa daerah masing-masing karena mereka setia, bangga, dan sadar adanya norma bahasa Indonesia, Walsa, dan Muyu. Persepsi masyarakat Banda adalah  tidak positif dan masyarakat Kombut cukup positif terhadap bahasa Negara Papua Nugini karena mereka tidak menggunakan bahasa Negara itu sebagai media komunikasi sehari-hari.
Struktur Klausa Bahasa Dayak Tagol Buha Aritonang
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 15, No 2 (2017): METALINGUA EDISI DESEMBER 2017
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (924.396 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v15i2.116

Abstract

The problem of this research is the structure of the clause Dayak Tagol the languange which spoken by people in Tau Lumbis Village, Subdistrict Lumbis Ogong, Nunukan Regency, North Kalimantan Province. This research aim to describe a general overview of the life Dayak Tagol people and the structure of the clause the languange of Dayak Tagol.  This research used a qualitative research method. The results of this research shows that the structure of the clause Dayak Tagol can be classified into (1) the structure of the clause predicated of non-verb and (2) the structure of the clause predicated of verb. The structure of the clause predicated of non-verbal can be intangible (1) clause predicate nominal, (2) clause adjectival, (3) numeralia, and (4) clause the phrase prepositional. Based on the research data, the structure of the clause verbal consists of (1) clause intransitive, (2) clause ekatransitif (the clause argued the core two), and (3) clause be dwitransitive (the clause argued the core three)
KRITERIA VITALITAS BAHASA TALONDO Buha Aritonang
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 5, No 1 (2016): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (739.08 KB) | DOI: 10.26499/rnh.v5i1.34

Abstract

This research was conducted in the village of Talondo Kondo, District Bonehau, Mamuju, West Sulawesi province with the aim to determine the  vitality of the Talondo languages criteria.The methods of the research was done by doing the field research and the literature study.A fieldwork was conducted to obtain primary data while the library research obtaining secondary data. The sources of data in this study were 81 respondents from Talondo language native speakers. The datas are obtained from observations and questionnaires.To determine the vitality of Talondo language criteria the research used Likert scale models to test and compare the mean index of vitality. The calculation result of subindex groups with respondent characteristics (based on gender, age group, education level, and occupation) showed that the vitality of a Talondo language was setbacks. Because the average value addition and division of the total index of the four variables with the variables gender, age group, education level, and type of work is 0.58. The range value of its included in the index line 3—4 based on visualization in a spider diagram. ABSTRAKPenelitian ini dilaksanakan di Desa Talondo Kondo, Kecamatan Bonehau, Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat dengan tujuan untuk menentukan kriteria vitalitas bahasa Talondo. Metode pengumpulan data dilakukan dengan penelitian lapangan dan pustidaka. Penelitian lapangan dilakukan untuk memperoleh data primer, sedangkan penelitian pustidaka untuk memperoleh data sekunder. Sumber data dalam penelitian ini adalah 81 responden penutur bahasa Talondo. Data diperoleh dari hasil pengamatan dan kuesioner. Untuk menentukan kriteria vitalitas bahasa Talondo digunakan model skala Likert dan indeks dengan uji compare mean. Hasil perhitungan kelompok subindeks dengan karakteristik responden (jenis kelamin, kelompok usia, jenjang pendidikan, dan jenis pekerjaan) menunjukkan bahwa vitalitas bahasa Talondo masuk kriteria mengalami kemunduran. Hal itu disebabkan karena nilai penjumlahan dan pembagian rerata indeks total keempat variabel dengan variabel jenis kelamin, kelompok usia, jenjang pendidikan, dan jenis pekerjaan adalah 0,58. Nilai 0,58 termasuk pada garis indeks 3—4 berdasarkan visualisasinya pada diagram laba-laba.