Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

SENANDUNG MENIDURKAN ANAK SEBAGAI UPAYA PENANAMAN NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER TERHADAP ANAK NFN Marlina
tuahtalino Vol 13, No 2 (2019): TUAH TALINO
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/tt.v13i2.1366

Abstract

This study aims to describe and analyze the values of character education contained in the lullaby of Siak Malay community in Riau. The research problem is what character education values contained in the lullaby in the Siak Malay community. To find the values of character education contained in the lullaby, the qualitative descriptive method is used, which is a method that exposes writing based on the content of the lullaby. The result of the study shows that the lullaby contains the value of faith and piety, intelligence, morality and character. From the results of this study, it can be concluded that the lullaby can be used as a tool to implement the value of character education for children.
CERITA RAKYAT INDRAGIRI SEBAGAI BAHAN PENGAJARAN SASTRA DI SEKOLAH DASAR DALAM UPAYA PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK NFN Marlina
SUAR BETANG Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v12i2.25

Abstract

This study discusses three Indragiri folklores as literary teaching materials in elementary school in the effort to build students character. The purpose of this study is to introduce culture and oral tradition through literature in order to build the character of children. The type of this research is descriptive analysis. The three folktales are described and the good characters contained in the story that can be imitated and emulated by children is analyzed. The data were analyzed by applying moral approach. The result shows that the three Indragiri folklores contain good characters that can be imitated and emulated by children. Therefore, base on this study, it can be concluded  that folklore can be used as a teaching material for literary learning at the elementary level in order to build children’s character
Potret Matrilineal dalam “Rumah untuk Kemenakan” Karya Iyut Fitra nfn Marlina
Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol. 9 No. 2 (2018): Jurnal Madah
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31503/madah.v9i2.72

Abstract

Masyarakat Minangkabau merupakan salah satu suku di Indonesia yang memiliki sistem kekerabatan berdasarkan garis keturunan ibu. Sistem kekeraban seperti ini disebut dengan sistem kekerabatan matrilineal, salah satu ciri sistem kekerabatannya, laki-laki Minangkabau tidak memiliki hak atas tanah pusaka.  Hal inilah yang diangkat Iyut Fitra dalam cerpennya yang berjudul “Rumah untuk Kemenakan”. Penelitian ini mencoba mengangkat dampak sistem kekerabatan matrilineal yang terdapat di dalam cerpen tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-analitis. Sementara, untuk menganalisis cerpen digunakan teori sosiologi sastra. Dari hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa budaya matrilineal ternyata memberikan beberapa dampak kurang baik bagi masyarakat pemiliknya, seperti tidak adanya keadilan bagi kaum laki-laki menyangkut tanah pusaka dan hilangnya rasa kemanusiaan karena menjunjung tinggi adat.
TRADISI MERANTAU DALAM “LELAKI DAN TANGKAI SAPU” (Tradition of Wandering in “Lelaki dan Tangkai Sapu”) NFN Marlina
SAWERIGADING Vol 24, No 2 (2018): Sawerigading, Edisi Desember 2018
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v24i2.497

Abstract

The poem “Lelaki dan Tangkai Sapu” (Man and the Broomstick) by Iyut Fitra is story of a man named Malin, starting from the birth, undergoing childhood and adolescence like the Minangkabau children in general. Reciting Holy Quran and also staying overnight at Surau. In addition, Malin also learned martial arts at the arena and sat in Lapau like other Minangkabau men. This research examined the wandering culture contained in the poem “Lelaki dan Tangkai Sapu” by Iyut Fitra. Wandering is an effort to navigate life through a variety of experiences, breadth science to achieve success. The tradition of wandering for the Minangkabau community still persists until now. How does Iyut Fitra describe men and women in her poems? How is the poet’s view concerning the tradition of wandering in Minangkabau culture? Is the culture of wandering always positive to the Minangkabau people? Through the sociological approach of literature, an overview of this will be obtained; while for analyzing each poem the methodology of desciption is used so that it is revealed that men in the Minangkabau community are destined to wander. However, Iyut Fitra has a different view than other Minangkabau people in general concerning the culture of wandering.AbstrakPuisi “Lelaki dan Tangkai Sapu” karya Iyut Fitra bercerita tentang seorang laki-laki bernama Malin,mulai dari lahir, menjalani masakanak-kanak dan remaja seperti anak-anak Minangkabau pada umumnya. Iabelajar mengaji di surau sekaligus tidur dan bermalam di surau. Malin juga belajar ilmu bela diri di gelanggang serta duduk di lapau seperti laki-laki Minangkabau lainnya. Penelitian ini mengkaji budaya merantau yang terdapat di dalam puisi “Lelaki dan Tangkai Sapu” karya Iyut Fitra. Merantau merupakan suatu upaya untuk mengarungi kehidupan melalui keragaman pengalaman, keluasan ilmu pengetahuan untuk meraih kesuksesan.Tradisi merantau pada masyarakat Minangkabau masih bertahan hingga saat sekarang.Lalu bagaimanakah Iyut Fitra menggambarkan lelaki dan rantau di dalam puisipuisinya? Bagaimanakah pandangan penyair ini tentang tradisi merantau dalam budaya Minangkabau? Apakah budaya merantau selalu bernilai positif bagi masyarakat Minangkabau? Melalui pendekatan sosiologis sastra akan diperoleh gambaran tentang hal ini; sementara untuk mengkaji masing-masing puisi digunakan metodologi deskripsi analisis sehingga terkuaklah bahwa lelaki di dalam masyarakat Minangkabau memang ditakdirkan untuk merantau. Namun, Iyut Fitra memiliki pandangan yang berbeda dengan masyarakat Minangkabau pada umumnya tentang budaya merantau.