Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

DEMOKRASI DAN PEREMPUAN DALAM EMPAT CERPEN DAN SATU NOVEL DIGITAL Erlis Nur Mujiningsih; Erli Yetti
tuahtalino Vol 15, No 2 (2021): TUAH TALINO
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/tt.v15i2.4011

Abstract

Penelitian terhadap cerpen “Pamitan”, “Perempuan Balian”, “Siri di Ujung Badik”, dan “Wajah dalam Cermin”, serta novel digital Distance Between Us bertujuan menemukan bagaimana dan seperti apa tokoh-tokoh perempuan dalam kelima karya tersebut bersuara, mengeluarkan pendapat sebagai salah satu praktik berperilaku demokrasi. Untuk dapat mengungkapkan hal tersebut digunakan metode kualitatif dengan pendekatan wacana kritis. Sementara itu, teori yang digunakan adalah sosiologi sastra. Hasil pembahasan ditemukan bahwa tokoh-tokoh perempuan dalam kelima karya tersebut masih belum dapat dengan bebas menyatakan pendapatnya, sikap mereka masih belum menunjukkan kemandirian, kecuali dalam satu karya novel digital yang sudah menunjukkan kemandirian. Hal ini menandai bahwa perilaku berdemokrasi masih belum hadir dalam kelima karya tersebut. Dengan demikian, juga menandai bahwa kehidupan berdemokrasi di Indonesia sebagaimana tercermin dalam kelima karya tersebut belum sampai pada tahap perilaku. 
MOTIF ASAL-USUL TANAMAN PADI DALAM TIGA CERITA RAKYAT INDONESIA Erli Yetti
Kandai Vol 10, No 1 (2014): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (976.533 KB) | DOI: 10.26499/jk.v10i1.312

Abstract

Sastra yang dihasilkan kelompok etnik merupakan produk budaya yang disatukan oleh geobudaya (kesatuan budaya) dan wilayah. Kekayaan sastra seperti ini saling memiliki kekerabatan sastra antar kelompok lain. Masalah yang terdapat dalam penelitian ini adalah 1) motif apa saja yang terdapat pada ketiga cerita rakyat tersebut, dan 2)   adakah persamaan dan perbedaan motif dalam memperteguh budaya bangsa. Tujuan penelitian  ini untuk melihat motif apa saja yang terdapat pada ketiga cerita rakyat dan bagaimana perbandingan motifnya. Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif  dan pustaka. Data yang terkumpul kemudian diedit ulang untuk keterbacaan dan terakhir analisis motif dirujuk melalui teori motif indeks yang dibuat oleh Stith Thompson. Hasil analisis data  menunjukkan adanya lima motif cerita, yakni (1) Asal-usul pohon dan tanaman (A 2600—2899); (2) Bagian tubuh manusia atau hewan berubah menjadi tanaman (A 2611.0.5) dan  penjelmaan manusia jadi objek lain (D200—299); (3) hukuman melanggar tabu/larangan (C900-C999); (4) menentukan masa depan;  penawaran dan perjanjian (M200-M299); dan (5) muslihat/penipuan (K300-400)
STRUKTUR NARATIF TUTER CERITA “TONGTONGE” DARI SUMBAWA (Narrative Structure of “Tongtonge” Tuter Story from Sumbawa Island) Erli Yetti
SAWERIGADING Vol 21, No 3 (2015): Sawerigading
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v21i3.88

Abstract

Indonesian regions are very rich with a variety of oral tradition. One is Batutir tradition from Sumbawa. Batutir is a relaxed story-telling tradition which tells while drink coffee. The story that’s still told today is Tongtonge, a humorous story. Indonesian regions are very rich with a variety of oral tradition. One is Batutir tradition from Sumbawa. Batutir is a relaxed story-telling tradition which tells while drink coffee. The story that’s still told today is Tongtonge, a humorous story. Tongtonge tale has a typical narrative structure whichis chanted in the form of poetry. The chant is similar to to the structure of the children’s song “Makan Apa” which in one sentence to another sentence continue to connect. In addition, Tongtone as a humorous story in Sumbawa story is called Gesah. The concerns i expressed in this research are 1) how is the narrative structure of the “Tongtonge” story, and 2) what values contained in the folk story? The purpose of this study is to investigate the narrative structure of the story “Tongtonge” as a way to make sense of the story so that the moral values and education into local wisdom in the story can be revealed. The method used is qualitative method. The theory used in this research is the theory of Axel Olrix. The expected result is the course of a study in which talking about the value of local knowledge of Sumbawa.