This Author published in this journals
All Journal MABASAN
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

KOSAKATA BUDAYA TRADISI PENANGKAPAN KOTEKLEMA DI LAMALERA DALAM NOVEL “SUARA SAMUDRA, CATATAN DARI LAMALERA” SEBAGAI SALAH SATU ALTERNATIF PENGAYAAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA Nining Nur Alaini
MABASAN Vol. 12 No. 2 (2018): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (849.985 KB) | DOI: 10.26499/mab.v12i2.56

Abstract

The three local languages mentioned in the National Language Policy formulated in the Language Politics seminar organized by the Language Center (now the Agency for Language Development and Development) in 1999 function as a language symbols including a symbol of regional identity, and a symbol of regional pride; a mean of communication in the family and local communities, and a mean of supporting regional culture and as a supporter of regional literature and Indonesian literature. As a means of supporting the Indonesian language, regional languages have a dominant role in enriching the Indonesian vocabulary. This paper will describe the cultural vocabulary in the tradition of capturing the koteklema in Lamalera in the novel of "Suara Samudra, Catatan dari Lamalera", as one of the alternative of Indonesian vocabulary enrichment. The novel of "Suara Samudra, Catatan dari Lamalera", by Maria Matildis Banda, reveals a cliché theme often appears and is raised in Indonesian novels about the relationship of two lovers due to social status differences. The novel is interesting as it is written in a traditional village setting, tradition and culture of fishing and whaling in Lamalera. This novel is an ethnographic novel that presents the traditions and culture of Lamalera through the physical and cultural background of fishermen in Lamalera. Maria Matildis Banda conveys local color through literature. His language, diction, and power of speaking in a local dialect enrich the literary treasures of Indonesia. This condition is one of the reasons for the importance of 'adopting' the registers in the novel into the Indonesian vocabulary, so that Indonesian language can further develop itself in order to play a maximum role as a means of communication in various domains of the usage, as well as play an increasingly steady role as a language amplifier for an identity and character of the nation.
PERANG CINE: CARA PANDANG ETNIS SASAK YANG TERCERMIN DALAM FOLKLOR LISANNYA Nining Nur Alaini
MABASAN Vol. 7 No. 1 (2013): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.895 KB) | DOI: 10.26499/mab.v7i1.169

Abstract

 Karya sastra diciptakan bukan hanya demi karya sastra itu sendiri, tetapi digunakan untuk berbagai tujuan yang dikehendaki manusia, memberi sugesti, sindiran, kritik, pendidikan, dan lain-lain. Karya sastra merupakan sebuah fakta yang terlahir sebagai bagian dari berbagai permasalahan dan situasi kongkret yang dihadapi manusia. Melalui karya sastra, proses pewarisan nilai moral dan karakter kelompoknya biasanya dilakukan. Salah satu wujud sastra yang berkembang dalam masyarakat adalah sastra lisan. Lombok, wilayah asal suku Sasak,  merupakan wilayah yang sangat kaya dengan sastra lisan, yang salah satunya berwujud nyanyian rakyat. Dengan mengkaji sastra lisannya yang merupakan bagian dari kebudayaan mereka, akan dapat diungkapkan sikap, perbuatan, pikiran, perasaan, kepercayaan, dan cita-cita etnis Sasak yang merupakan salah satu unsur identitas bangsa Indonesia yang sangat berharga. Salah satu nyanyian rakyat Sasak yang sarat dengan nilai-nilai yang layak diwariskan guna mereka ulang identitas bangsa adalah “Perang Cine”. Kearifan lokal yang merupakan salah satu identitas bangsa ini tidak selayaknya dibiarkan hilang seiring dengan menghilangnya dendangan nyanyian rakyat “Perang Cine” dari pendengaran kita. Kajian ini mencoba menggali kembali kearifan lokal yang terkandung dalam nyanyian rakyat Sasak “Perang Cine”.
KARYA SASTRA YANG TUMBUH DAN BERKEMBANG DALAM MASYARAKATTUTUR BAHASA BALI DI LOMBOK: SUATU KAJIAN BANDINGAN GEOGRAFIS Nining Nur Alaini
MABASAN Vol. 7 No. 2 (2013): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.456 KB) | DOI: 10.26499/mab.v7i2.179

Abstract

Masyarakat yang mendiami wilayah-wilayah di Provinsi Nusa Tenggara Barat sangat majemuk. Pulau Lombok didiami oleh empat suku bangsa yang besar, di samping berbagai kelompok suku bangsa pendatang baru. Keempat suku tersebut adalah suku bangsa Sasak, Bima, Sumbawa dan suku bangsa Bali. Keberadaan masing-masing komunitas ditandai oleh identitas yang berbeda, yang salah satunya berwujud bahasa dan sastra. Dapat dikatakan bahwa setiap daerah yang mempunyai bahasa daerah sangat mungkin mempunyai sastra daerah. Adanya variasi-variasi bahasa yang digunakan di masing-masing wilayah sangat memungkinkan hidupnya karya-karya sastra yang juga khas di wilayah bahasa tersebut. Demikian juga dengan komunitas Bali yang menetap di Pulau Lombok. Keberadaan suku Bali di Lombok memperkaya khazanah kesastraan Lombok dengan dibawanya sastra Bali ke Lombok oleh pendatang-pendatang dari Bali tersebut. Perbedaaan sosial budaya dan geografis, menuntut masyarakat pendatang untuk menyesuaikan diri dengan kondisi wilayah baru yang ditempatinya. Dalam beberapa jangka waktu, kita akan menemukan beberapa perbedaan sebagai hasil adaptasi sosial budaya dan lingkungan baru. Hasil adaptasi yang disebut sebagai variasi ini, biasanya juga terjadi dalam karya sastranya. Adanya variasi sosial budaya dan geografis akan diikuti pula dengan munculnya variasi sastra. Dengan melakukan kajian bandingan geografis diharapkan dapat diperoleh gambaran tentang wujud kontak sastra Bali selama masa perjalanannya yang tumbuh dan berkembang dalam komunitas Sasak. 
Refleksi Konsep Kekuasaan dan Gender Orang Jawa dalam Teks “Babad Kedhiri” Nining Nur Alaini
MABASAN Vol. 5 No. 1 (2011): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.594 KB) | DOI: 10.26499/mab.v5i1.201

Abstract

Babad Kedhiri merupakan karya yang merekam kerajaan Kedhiri dalam bentuk karya sastra. Munculnya eksemplar-eksemplar Babad Kedhiri menunjukkan bahwa karya ini memperoleh penerimaan sekaligus sambutan dari masyarakatnya. Meskipun menggunakan peristiwa sejarah sebagai bahannya, babad Kedhiri merupakan sebuah mitos yang diciptakan secara sadar oleh masyarakatnya, tetapi memuat unsur-unsur tak sadar yang syarat makna. Aspek tak sadar tersebut merupakan human mind masyarakat penciptanya. Dengan menggunakan teori struktural Levi-Strauss, penelitian ini menginterprestasi human mind orang Jawa yang terefleksi dalam BK. Melalui interprestasi ini dapat diketahui bahwa konsep orang Jawa yang dominan yang terefleksi dalam Babad Kedhiri adalah kekuasaan dan gender. Dari fokus pemikiran tentang unsur gender tercermin pemikiran bahwa masyarakat Jawa menempatkan wanita dan pria dalam kedudukan yang sama karena pola pikir yang mendominasi bukanlah unsur gender, melainkan unsur keturunan atau darah.