This Author published in this journals
All Journal MABASAN
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

PERBANDINGAN CERITA RAKYAT SASAK DAN SAMAWA: UPAYA MEMAHAMI MASYARAKAT SASAK DAN SAMAWA Syaiful Bahri
MABASAN Vol. 12 No. 2 (2018): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (680.549 KB) | DOI: 10.26499/mab.v12i2.58

Abstract

In this paper, there are two problems to be answered, namely are (1) the comparison between Sasak and Samawa folktales and (2) the description of Sasak and Samawa people based on the folktales. The folktales used as data are (1) Batu Goloq (Sasak) and Batu Plantolan (Samawa); Mandalika (Sasak) and Lala Buntar (Samawa); and (3) Tegodek dait Tetuntel (Sasak) and Ne Bote Ne Kakura (Samawa). Data are gathered through library research. Problems are answered using Levi-Strauss structural theory saying that tale is the gate of understanding the people. It is found that the relation of each group of tales shows a consistency in similarities and differences. Batu Goloq and Batu Plantolan give a description that Sasak people tend to solve problems by themselves as a consequence of being closed people, while Samawa people tend to invite others in solving their problems as a consequence of  being  opened people. The similar characters found in Mandalika and Lala Buntar specifically in miteme processing, in taking decision, and solving problems. Mandalika is characterized as a closed figure, while Lala Buntar is an opened one in deciding and solving the problems. The comparison between Tegodek dait Tetuntel and Ne Bote Ne Kakura shows that Sasak and Samawa people tend to protest any mistreatment from high class community toward a lower class community. It is the manifestation of the same view toward refusal and disagreement to the oppression done by high status people.
ANALISIS STRUKTURAL FABEL TEGODEK DAIT TETUNTEL: REPRESENTASI PERILAKU DALAM MASYARAKAT SASAK Syaiful Bahri
MABASAN Vol. 8 No. 2 (2014): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (811.392 KB) | DOI: 10.26499/mab.v8i2.94

Abstract

This study analyzed structure of Tegodek Dait Tetuntel fable. Through these structures, it will be seen the role of each character in relationto the behavior of Sasak community based on the social levels . By using the structural analysis methods of Levi-Strau,it is shown that Tegodek and Tetuntel fable is not only presenting two main characters,  ‘Godek’ (monkey) and Tuntel (frogs/toads), but it is also presenting some phenomena of opposition figures such as ‘Godek’ is always insuperior position, while figures of Tuntel is always in inferior position. This indicates that ‘Godek’ figure is representation of a higher social class, while Tuntel is representation of a lower social class. Relating to the behavior, the ‘Godek’ character has a more active behavior, while the Tuntel figure tends to bea  passive behavior. If it is related to "working" activities, Tuntel figures have more knowledge than the characters of Tuntel. In relation to the behavior of revealing facts, the Tuntel figures tend to reveal something accordance with the facts, while the ‘Godek’ figures tend to precede the prestige that sometimes they do not meet the facts. When it is dealt with a problem solving, ‘Godek’ figures are more like doing intervention, whereas Tuntel figures to be relentless.
Identifikasi Mantra Suku Sasak di Lombok Syaiful Bahri
MABASAN Vol. 3 No. 1 (2009): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (669.36 KB) | DOI: 10.26499/mab.v3i1.105

Abstract

Mantra (uni kodèq, base beciq, kerante kodèq) dalam masyarakat suku Sasak terdiri atas sebelas jenis, yaitu senggègèr, senteguh, sengasih-asih, sengadang-adang, senjerit, sembongkem, sengkalis, sembalik/sempalik, sempoter, begik, dan jejampi. Sebelas jenis mantra tersebut diperoleh dengan melakukan wawancara secara langsung kepada orang yang mengetahui, terlepas dari masih atau tidaknya memercayai atau menggunakan mantra tersebut. Dari wawancara tersebut kadang didapatkan data-data tertulis berupa mantra-mantra. Setelah dilakukan pengidentifikasian, struktur mantra dalam masyarakat suku sasak terdiri dari judul, pembuka, pengandaian atau perumpamaan, tujuan, dan penutup.
Distribusi dan Pemetaan Bentuk/Jenis Karya Sastra yang Tumbuh dan Berkembang pada Masyarakat Tutur Bahasa Bugis di Kabupaten Sumbawa Syaiful Bahri
MABASAN Vol. 2 No. 2 (2008): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.554 KB) | DOI: 10.26499/mab.v2i2.138

Abstract

Tulisan ini akan menggambarkan dua hal, yaitu: (1) deskripsi bentuk dan jenis karya sastra yang tumbuh dan berkembang pada masyarakat tutur bahasa Bugis di KabupatenSumbawa; (2) distribusi dan penyebaran karya sastra tersebut.Dari hasil analisis data ditemukan dua ragam karya sastra, yaitu prosa dan puisi. Dari ragam prosa ditemukan dua jenis karya sastra, yaitu dongeng dan legenda yang kesemuanya ditemukan di kedua daerah pengamatan. Pengelompokan lebih khusus menunjukkan, di Teluk Santong hanya ditemukan jenis dongeng lelucon, sedangkan di Labuan Mapin ditemukan tiga jenis dongeng, yaitu lelucon, fabel, dan dongeng biasa. Jenis legenda di Teluk Santong hanya legenda setempat, sedangkan di Labuan Mapin ditemukan legenda perorangan, keagamaan, dan alam gaib.Ragam puisi ditemukan jenis pantun (kélong) dan mantra (jappi). Jenis pantun ditemukan di kedua daerah pengamatan, sedangkan jenis Mantra hanya ditemukan di Labuan Mapin.
IDENTIFIKASI KEBIMBANGAN TOKOH HASAN DALAM ROMAN ATHEIS KARYA ACHDIAT KARTA MIHARDJA Syaiful Bahri
MABASAN Vol. 7 No. 1 (2013): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.313 KB) | DOI: 10.26499/mab.v7i1.172

Abstract

Tokoh Hasan berada dalam posisi tarik-menarik antara dunia lama dan dunia baru. Dengan kata lain, Hasan berada di dunia “antara”, antara dunia lama dan dunia baru. Dunia tersebut menjadikan Hasan bergumul dengan kebimbangan. Kebimbangan tersebut dibongkar menggunakan identifikasi struktur kepribadian psikoanalisis Sigmund Freud. Pengidentifikasian tersebut lebih difokuskan beberapa insting yang terdapat pada tataran id. Insting kasih sayang, penghargaan, dan kebebasan yang ingin direalisasikan dibenturkan dengan pertimbangan-pertimbangan yang ada pada tataran ego maupun superego. Pertimbangan-pertimbangan tersebut memunculkan pengaktualisasian insting yang tidak dapat direalisasikan dalam dunia lama, tetapi dimunculkan kembali dan direalisasikan dalam dunia baru. Sebaliknya, terdapat pula insting yang tak dapat direalisasikan dalam dunia baru, tetapi memungkinkan untuk direalisasikan dalam dunia lama.
TARGET BACA: ALTERNATIF PENUMBUHAN MINAT BACA SASTRA Syaiful Bahri
MABASAN Vol. 6 No. 2 (2012): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.176 KB) | DOI: 10.26499/mab.v6i2.230

Abstract

Kebekuan pembelajaran sastra tidak terlepas dari faktor lemahnya budaya baca. Artinya, guna memecahkan kebekuan pembelajaran sastra, kegiatan membaca (khususnya sastra) harus dibudayakan.Target baca.Merupakan salah satu alternatif bagi upaya pembudayaan membaca di kalangan siswa.Kegiatan tawaran bagi guru Bahasa dan Sastra Indonesia ini dilaksanakan melalui proses membuat kesepakatan, penyetoran, dan penulisan. Masing-masing proses tersebut akan terlaksana dengan baik jika guru yang bertindak sebagai motivator juga mencintai sastra.
MANDALIKA, LALA BUNTAR, DAN LA HILLA: PERBANDINGAN CERITA RAKYAT SASAK, SAMAWA, DAN MBOJO Syaiful Bahri
MABASAN Vol. 13 No. 2 (2019): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/mab.v13i2.262

Abstract

Artikel ini mengkaji cerita rakyat Sasak, Samawa, dan Mbojo, yakni Mandalika, Lala Buntar, dan La Hila. Ketiga cerita rakyat tersebut diambil melalui studi pustaka terhadap hasil penelitian dan kumpulan cerita rakyat. Ketiga cerita rakyat sebagai sumber data dibandingkan untuk melihat bagian-bagian yang menunjukkan persamaan dan perbedaan. Dengan melakukan perbandingan terhadap unsur intrinsik pembangun karya sastra, ditemukan adanya perbedaan ketiga cerita terdapat pada unsur tokoh dan penokohan serta cara penyelesaian konflik atau permasalahan yang dihadapi. Adanya bagian-bagian yang menunjukkan perbedaan tersebut pada tahap yang lebih jauh menunjukkan persamaan. Perbedaan pada bagian tokoh dan penokohan disamakan oleh rupa tokoh yang sama-sama cantik sehingga menghadapi permasalah yang sama. Perbedaan cara penyelesaian konflik atau permasalahan disatukan oleh tujuan yang sama, yakni sama-sama bermaksud menjadikan diri mereka sebagai milik orang banyak, bukan orang tertentu. Adanya perbedaan pada beberapa unsur pembangun karya sastra mengarah pada maksud dan tujuan yang sama.