Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Rekomendasi Pemupukan Padi Sawah (Oryza sativa L.) Spesifik Lokasi di Kecamatan Malinau - Kabupaten Malinau Hidayanto Hidayanto
Jurnal Agroekoteknologi Tropika Lembab Vol 2, No 1 (2019): Agroekoteknologi Tropika Lembab Volume 2 No 1 Agustus 2019
Publisher : Mulawarman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35941/jatl.2.1.2019.2533.1-7

Abstract

The area of paddy fields in Malinau Kota District is around 463 ha or 10.29 percent of the productive paddy in Malinau Regency which reaches 4,500 ha. The productivity of rice in the area is still low, which is around 3-4 ton ha-1, its caused by the use of fertilizers that are not yet suitable for plant growth requirement. Therefore, in order to improve rice productivity, it is necessary to do soil analysis to formulate spesific location fertilizer recommendations based on soil nutrient status. The assessment was carried out in Malinau District, Malinau Regency, on September-November 2017. The purpose of the asseement was to develop recommendations for fertilizing specific location lowland rice based on soil nutrient status. The assessment method is to take composite soil samples from several representative locations, then analyze in the laboratory, and the results of the analysis are used to formulate recommendations for specific location lowland rice fertilization. The results of soil analysis showed that soil pH was acid, organic C-content was low, N-tot was low, P was medium and K was medium. Recommendations of N fertilization with Urea as the basic fertilizer 50-100 kg ha-1 and subsequent N fertilization based on leaf color chart (LCC), P fertilization with SP-36 as much as 100 kg ha-1, and K fertilization with KCl as much as 50 kg ha-1.
ANALISIS PEKERJAAN YANG MENGALAMI REWORK PADA PROYEK PERUMAHAN DI BANDUNG Hidayanto Hidayanto
Akselerasi : Jurnal Ilmiah Teknik Sipil Vol 4, No 2 (2023): Februari
Publisher : Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37058/aks.v4i2.6516

Abstract

AbstrakKebutuhan rumah pada tahun 2013 mencapai 12 juta unit, sedangkan suplai produksi rumah hanya 250.000 - 400.000 unit/tahun dan ada sekitar 900.000 rumah tangga baru per tahun ada di Indonesia, sehingga perlu haruslah meningkatkan produktivitas pembangunan rumah untuk mengimbanginya. Ada sekitar 102 perumahan menengah dan perumahan mewah yang tersebar di Bandung raya yang sedang aktif dibangun pada tahun 2016. Namun demikian, dalam pelaksanaan pembangunannya tidak jarang atau sering terjadi rework (pekerjaan ulang), yang menyebabkan terjadinya pembengkakan biaya, waktu dan turunnya produktivitas. Kesalahan-kesalahan yang terjadi pada pekerjaan dapat terjadi pada tahap appraisal, internal failure maupun ekternal failure, karena adanya pekerjaan salah yang lolos pada saat kontrol kualitas. Untuk mengetahui pekerjaan mana saja yang paling sering terjadi rework pada saat konstruksi rumah maka dilakukan observasi lapangan pada perumahan menengah dan perumahan mewah, pada saat observasi lapangan akan dicatat pekerjaan apa saja yang tidak sesuai dengan spesifikasi yang dilakukan rework dan yang tidak dilakukan rework kemudian menganalisis faktor penyebabnya, posisi pekerjaan pada work breakdown structure dan yang lainnya yang dirasa perlu untuk penelitian. Studi literatur digunakan untuk mendukung penelitian terhadap pekerjaan paling sering terjadi rework di lapangan. Dari data observasi lapangan tersebut kemudian dijadikan kuesioner untuk mengetahui rework pada pekerjaan, faktor penyebab rework dan cara untuk meminimalisir rework. Berdasarkan hasil kuesioner, pekerjaan yang paling besar mengalami dampak rework adalah pekerjaan arsitektur dan pekerjaan plumbing dan ME. Untuk dapat mengurangi rework, responden pada rumah menengah dan rumah mewah sepakat bahwa meningkatkan pengawasan di lapangan dan melakukan perencanaan yang matang pada fase desain adalah cara yang paling efektif, mengingat juga bahwa faktor managerial dan faktor desain merupakan faktor yang paling sering menyebabkan rework sehingga pengawasan dan perencanaan sangat penting untuk mengurangi rework.