Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

UPACARA POMALOANA MATE (MALAM KEMATIAN) BAGI ORANG BUTON (Studi di Kelurahan Kadolokatapi Kecamatan Wolio Kota Bau-Bau) Siti Sahrani; La Ode Dirman; Ajeng Kusumawardhani
SANGIA JOURNAL OF ARCHAEOLOGY RESEARCH Vol. 2 No. 1: June 2018
Publisher : Laboratorium Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (513.28 KB) | DOI: 10.33772/sangia.v2i1.569

Abstract

The research questions are (1) how is the process of pomaloana mate ritual for Butonese especially in the village of Kadolokatapi?, (2) what values are contained in the pomaloana mate ritual?, and (3) what is thesymbolic meaning contained in the implementation of the pomaloana mate ritual for the Butonese in the village ofKadolokatapi, town of Bau-Bau? The results of this study show several things. The first is the process ofceremony pomaloana mate for the Butonese, especially in the village of Kadolokatapi. This ceremony is theconductor for someone who entered the last life cycle, that is death. The ceremony includes two stages, namelypreparation and execution. Some things to be prepared in this ritual are, ie Al-Qur'an, incese, and offerings suchas waje, onde-onde, sanggarana hole, sanggarana kauwi-uwi, newasa, and bolu which are prepared in trays.This offer is presented as a requirement to perform a tradition for the grieving family and Buton Wolio communitygroup. Second is the value contained in this ceremony that is the value of education, ethical values, and religiousvalues. The second research result is the meaning of the pomaloana mate ritual symbolized from offerings in the ceremony.
TRADISI RITUAL SUNGKAWIANO SANGIA PADA ETNIS BUTON DI KECAMATAN SIOMPU KABUPATEN BUTON SELATAN Harfita Harfita; La Ode Dirman; samsul samsul
SANGIA JOURNAL OF ARCHAEOLOGY RESEARCH Vol. 3 No. 1: June 2019
Publisher : Laboratorium Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (618.285 KB) | DOI: 10.33772/sangia.v3i1.579

Abstract

This study aims to understand the ritual process of Sungkawiano Sangia in Buton ethnic in Siompu Sub district, South Buton Regency and find out the symbolic meaning contained in the Sungkawiano Sangia Ritual for Buton Ethnic in Siompu sub-district, South Buton Regency. This research was conducted in Siompu District, South Buton Regency. The method in this study is descriptive qualitative. Primary data obtained throughin-depth interviews with parties found using purposive sampling technique, as well as direct observation in thefield. Secondary data obtained from data collection through documents related to the topic of research. The datacollected was analyzed using the theory of symbolic interaction (Herbert Blummer).The results of this study are:The process of carrying out the sungkawiano sangia ritual consists of three stages, namely the stage ofdeliberation, preparation, and procession. The symbolic meaning in this sungkawiano sangia ritual is: white riceas a symbol of chastity, yellow janur as a symbol of beauty, eggs as a symbol of determination, kalumpi askapanaando sumanga, incense as a symbol of bringing spirits, young coconut water as a symbol of calm seawater.
TRADISI KAHAWOTINO LAMBU (MENEMPATI RUMAH BARU) PADA ETNIS MUNA DI DESA KORIHI, KECAMATAN LOHIA, KABUPATEN MUNA Samsul Samsul; La Ode Dirman; Rahman Samusu; Sitti Hermina
Journal Idea of History Vol 4 No 2 (2021): Volume 4 Nomor 2, Juli - Desember 2021
Publisher : Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/history.v4i2.1458

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menggambarkan eksistensi tradisi kahawotino lambu pada etnis Muna di Desa Korihi Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna; 2) menjelaskan pola pewarisan tradisi kahawotino lambu di Desa Korihi Kecamatan Lohia Kabupaten Muna. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi atau pengamatan, yaitu peneliti terjun langsung ke lapangan untuk memperoleh data dan mengumpulkan data. Proses pada kegiatan ini lebih ditekankan pada ketelitian dalam eksistensi dan pola pewarisan tradisi kahawotino lambu. Wawancara dilakukan dengan menggali informasi secara mendalam tentang eksistensi dan pola pewarisan tradisi kahawotino lambu di Desa Korihi, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna dengan informan yang telah ditentukan. Dokementasi dilakukan agar dapat memperkuat data hasil dari wawancara dan observasi. Teknik penentuan informan dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik purposive sampling. Data dianalisis dengan teknik reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi kahawotino lambu merupakan tradisi memasuki rumah baru yang dilakukan oleh suku Muna ketika hendak menempati rumah baru. Tradisi ini oleh suku Muna dianggap sebagai salah satu bentuk rasa syukur kepada Allah Swt., atas rahmat dan rezeki. Tanggapan generasi muda terhadap tradisi kahawotino lambu saat ini, yaitu generasi muda sudah tidak terlalu mempercayai adanya kepercayaan terhadap nenek moyang, mereka beranggapan bahwa tradisi tersebut sudah tidak penting lagi dan mereka lebih mengikuti perkembangan zaman dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Adapun pola pewarisan tradisi kahawotino lambu di Desa Korihi Kecamatan Lohia Kabupaten Muna terdiri dari tiga cara, yaitu (1) melalui keluarga, (2) dengan berguru, dan (3) pewarisan dalam pertunjukan.
PERANAN MAOLA DAUD DALAM PEMBANGUNAN KABUPATEN MUNA 1986-1994 La Ode Jodi Hernanda; Aswati; La Ode Dirman; Salebaran
Journal Idea of History Vol 6 No 1 (2023): Volume 6 Nomor 1, Januari - Juni 2023
Publisher : Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang Peranan Maola Daud dalam Pembangunan Kabupaten Muna 1986-1994 dengan tujuan untuk: (1) menjelaskan peran Maola Daud dalam pembangunan Kabupaten Muna. (2) menjelaskan kendala yang dihadapi Maola Daud selama memimpin Kabupaten Muna. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari lima tahapan, yakni: Pemilihan topik, heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Maola Daud merupakan Bupati Muna ke-VII yang menjabat sejak tahun 1986-1994. Di masa kepemimpinan Maola Daud, Kabupaten Muna mengalami berbagai macam pembangunan dari berbagai bidang baik mulai bidang perekonomian, pendidikan dan infrastruktur. Pada pengembangan bidang perekonomian, Maola Daud melakukannya dengan mengeluarkan berbagai program dalam sektor pertanian serta pembagian alat sebagai pendukung kreativitas masyarakat Muna. Dalam pengembangan bidang pendidikan, Maola Daud melakukannya dengan mempelopori beberapa pembangunan sarana belajar mengajar di beberapa wilayah Kabupaten Muna dari Sekolah Dasar sampai dengan Perguruan Tinggi Swasta. (2) Dalam rangka melaksanakan pembangunan Kabupaten Muna, Maola Daud menghadapi berbagai kendala. Pada umumnya yang menjadi kendala Maola Daud selama menjabat sebagai Bupati Muna adalah status Kabupaten Muna yang pada saat itu belum otonomi daerah sehingga segala jenis pembangunan yang akan dilaksanakan bergantung pada Pendapatan Asli Daerah. Kata Kunci: Maola Daud, Pemerintahan, Pembangunan
TUTURAN RITUAL MO’OOLI PADA PEMBUKAAN LAHAN BARU PERLADANGAN MASYARAKAT MORONENE DESA HUKAEA-LAEYA KECAMATAN LANTARI JAYA KABUPATEN BOMBANA Asep Sunandar; La Ode Dirman; Nurtikawati Nurtikawati
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 1 No 2 (2018): Volume 1 Nomor 2, Juli-Desember 2018
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v1i2.852

Abstract

Penelitian ini dianalisis menggunakan metode penelitian kualitatif. Data dalam penelitian ini diperoleh melalui pengamatan dan wawancara mendalam yang didukung dengan dokumentasi dan perekaman/video. Teknik penentuan informan dalam penelitian ini adalah tokoh adat dan Tumpuroo (dukun). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ritual adat Mo’ooli dilaksanakan oleh beberapa orang di sebuah tempat yang dianggap keramat karena terdapat makam leluhur. Beberapa hal yang harus disiapkan sebagai pe’oli adalah dua pasang sarung (sarung laki-laki dan sarung perempuan), dua pasang pakaian (pakaian laki-laki dan pakaian perempuan), daun sirih (bite), buah pinang (wua), kapur sirih (ngapi), tembakau (ahu), kulit jagung (kulimpuhu). Pe’oli dipersembahkan sebagai syarat untuk melaksanakan sebuah hajat baik pribadi maupun kelompok masyarakat Moronene agar mendapat restu dari Sangia/Ntiwonua sehingga terhindar dari marabahaya. Pesan disampaikan secara langsung dalam bentuk tuturan mantra. Jenis serangga yang datang di sekitar tempat pelaksanaan ritual adat Mo’ooli menjadi pertanda diterima atau tidaknya permohonan izin/restu. Proses yang dilalui dalam pelaksanaan ritual adat Mo’ooli memperlihatkan harmoni komunikasi antara hamba dan gustinya.
UPACARA HAROA BHANTEA PADA MASYARAKAT KULISUSU Naswati Naswati; La Ode Dirman; Rahmat Sewa Suraya
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 1 No 2 (2018): Volume 1 Nomor 2, Juli-Desember 2018
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v1i2.854

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan proses, fungsi dan makna dalam pelaksanaan upacara haroa bhantea pada masyarakat Kulisusu di desa Tomoahi Kecamatan Kulisusu Kabupaten Buton Utara. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2018. Metode penelitian yang digunakan adalah metode analisis deskriptif kualitatif. Dalam penelitian ini dihadirkan informan yang berasal dari pemimpin upacara (Moji), dan tokoh masyarakat, yang diambil secara sengaja (purposive sampling). Pengumpulan data dilakukan melalui teknik observasi (pengamatan), wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pelaksanaan Haroa Bhantea pada masyarakat Tomoahi, masih melakukan Haroa Bhantea dengan menyiapkan sesajen seperti ketupat, rokok, kapur, daun sirih, buah pinang, dan salea, untuk dipersembahkan kepada rumah jaga (Bhantea) dan para Sangia. Serta fungsi upacara sebagai bentuk sosialisasi antara sesama masyarakat Tomoahi maupun Moji dengan roh-roh halus Sedangkan makna upacara terdiri dari tiga cakupan yaitu makna religi yang percaya kepada adanya roh-roh halus yang memiliki kesaktian, makna sosial sebagai bentuk terjalinnya sosialisasi antara satu dengan yang lain, dan makna simbolik yang terdapat dalam setiap sesajen maupun benda-benda dalam Haroa Bhantea.
TRADISI HERAPO-RAPO PADA ORANG WANCI DESA WAHA KECAMATAN WANGI-WANGI KABUPATEN WAKATOBI Faris Faris Faris; La Ode Dirman; Sitti Hermina
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 3 No 1 (2020): Volume 3 Nomor 1, Januari-Juni 2020
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v3i1.1013

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Waha Kecamatan Wangi-wangi Kabupaten Wakatobi dengan tujuan untuk mengetahui proses pelaksanaan dan makna simbolik yang terkandung dalam tradisi Herapo-rapo pada suku Buton di Desa Waham Kecamatan Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik pengamatan (observasi), wawancara mendalam dan studi dokumentasi. Tradisi Herapo-rapo dilakukan pada saat bulan Ramadhan. Proses pelaksanaan tradisi Herapo-rapo memiliki beberapa tahap yaitu (1) tahap persiapan, (2) tahap pelaksanaan, dan (3) tahap perempuan menjual kacang yang sudah disangrai sambil menunggu laki-laki yang singgah membeli kacang tersebut. Makna simbolik dalam tradisi Herapo-rapo ini yaitu makna alat dan bahan tradisi Herapo-rapo tersebut berupa kacang sangrai, meja, kursi, lampu pelita. Secara umum makna tradisi Herapo-rapo yaitu agar cepat mendapatkan jodoh atau pasangan hidup.
TRADISI KALOSARA DALAM PENYELESAIAN SENGKETA TANAH DI KECAMATAN BAITO KABUPATEN KONAWE SELATAN shinta arjunita saputri; La Ode Dirman; La Ode Ta'alami; Arie Toursino Hadi
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 3 No 2 (2020): Volume 3 Nomor 2, Juli-Desember 2020
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v3i2.1112

Abstract

Penelitian ini membahas bagaimana tradisi Kalosara digunakan dalam penyelesaian sengketa tanah pada masyarakat kecamatan Baito dengan fokus pada makna dan fungsinya. Penelitian ini merupakan tipe penelitian kualitatif dengan metode wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna Kalosara dalam penyelesaian sengketa tersebut dilihat dalam hubungan analogi antara makna benda-benda penyusun Kalosara (anyaman segiempat, rotan, kain putih, daun sirih, dan buah pinang) dengan realitas yang ada, dalam hal ini sengketa tanah. Makna benda-benda tersebut merepresentasikan gagasan ideal dalam kehidupan masyarakat Tolaki termasuk dalam mencari resolusi dalam sengketa tanah. Adapun fungsi yang ditemukan adalah media pemaksa, media pemersatu, dan media perdamaian.
TRADISI PENGOBATAN SAPULEI PADA MASYARAKAT DESA GUNUNG SEJUK: KAJIAN BENTUK, FUNGSI, DAN EKSISTENSI PENGOBATAN Ayyuh S Ayyuh S; La Ode Dirman; Rahmat Sewa Suraya
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 4 No 1 (2021): Volume 4 Nomor 1, Januari-Juni 2021
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v4i1.1172

Abstract

Tradisi sapulei adalah tradisi yang berasal dari Desa Gunung Sejuk yang digunakan untuk mengobati penyakit kulit yang disebut humendeno. Adapun bentuk dari humendeno yaitu kalumera, kukusewa, dan kawincu yang disebabkan olweh pergantian musim dan rewu (kesalahan atau kotoran) orang tua di masa lalu atau saat mengandung si pasien selama Sembilan bulan, dengan tujuan untuk mengeluarkan penyakit dari tubuh pasien sehingga tidak menetap dalam tubuh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk, fungsi, dan menganalisis eksistensi pengobatan sapulei pada masyarakat Desa Gunung Sejuk Kecamatan Sampolawa Kabupaten Buton Selatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskripsi dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk pengobatan sapulei yaitu pelaksanaannya menggunakan beberapa media seperti air (e’e), santan kelapa (santa kunde’e), dan minyak tawon (mina goso). Eksistensi sapulei memiliki aspek bertahan yaitu fungsi solidaritas dan fungsi religi yang menjadi faktor sapulei dapat bertahan. Aspek terancam punah yaitu adanya sistem pengobatan modern yang menyebabkan perubahan pola pikir masyarakat.
RITUAL SINGKU SARIGAPADA MASYARAKAT KELURAHAN KADOLOKATAPI KECAMATAN WOLIO KOTA BAUBAU adrita adrita; La Ode Dirman; Rahmat Sewa Suraya
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 3 No 2 (2020): Volume 3 Nomor 2, Juli-Desember 2020
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v3i2.1347

Abstract

ADRITA (N1E1 16 003 ): telah melakukan penelitian deangan judul “Ritual Singku Sariga (doa selamat ) pada mayarakat Kelurahan Kadolokatapi Kecamatan Wolio Kota Baubau”. Dibimbing oleh Bapak Dr. La Ode Dirman.,M.Si dan Rahmat Sewa Suraya, S.Sos., M.Si Penelitian dilakukan di Kelurahan Kadolokatapi Kecamatan Wolio Kota Baubau dengan tujuan untuk mengetahui proses pelaksanaan dan makna simbolik yang terkandung dalam ritual singku sariga pada suku buton di Kelurahan Kadolokatapi Kecamatan Wolio Kota Baubau Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskripsi.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses pelaksanaan ritual singku sariga memiliki beberapa tahap yaitu (1) tahap persiapan bahan ritual singku sariga (2) tahap pelaksanaan (3) tahap akhir. Makna simbolok dalam ritual singku sariga yaitu makna alat dan bahan sesajin berupa dupa,telur,waje,cucur,pisang,tuli-tuli. Secara umum makna ritual singku sariga yaitu meminta perlindungan kepada Allah SWT, supaya dilindungi dari gangguan mahluk hajus/ mahluk gaib serta memudahkan pertumbuhan bayi. Makna yang terkandung dalam pelaksanaan singku sariga (doa selamat) adalah harapan lahirnya bayi bisa tumbuh dengan normal dan sempurna seperti anak lainya serta di berikan umur pannjang dan kesehatan