This Author published in this journals
All Journal JURNAL WALENNAE
Basran Burhan
Jurusan Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KONFLIK KEPENTINGAN DALAM REVITALISASI LAPANGAN KAREBOSI Basran Burhan
WalennaE Vol 12 No 1 (2010)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2144.871 KB) | DOI: 10.24832/wln.v12i1.229

Abstract

City as center of agglomeration is an important parameter to measure the growth of a region. The completion of facilities and infrastructure will invite people to stay. So that, the annual population growth become unaviodable. By the growth of population, the public utility and settlement requirement also progressively increase which also implicatese on wider land re­quirement level. Karebosi's Revitalization Project as the answer of Makassar's City Government on society's the need on facilities, in its implementation apparently ignore contained historical points at in it. Since its early development on 16th October 2007, have evoked conflicts of a variety the interested parties. Makassar's City Government who give management rights to PT. Tosan Permai up to 30 year gets lampooning of a variety party, such from the public, academician, NGOs, Cultural Concerned Institution (Provincial Beurau of Tourism and BPPP) and environment observer. This writing tries to see Karebosi as one place which have historical point but haven't gotten law protection corresponds to that affixed on Law No. 5 years 1992 about Cultural Pledge Object.Kota sebagai pusat aglomerasi adalah parameter penting untuk mengukur pertumbuhan suatu daerah. Selesainya fasilitas dan infrastruktur akan mengundang orang untuk berkunjung. Dengan demikian, pertumbuhan populasi tahunan menjadi tidak dapat diubah. Dengan pertumbuhan populasi, kebutuhan utilitas publik dan pemukiman juga semakin meningkat yang juga berimplikasi pada tingkat permintaan lahan yang lebih luas. Proyek Revitalisasi Karebosi sebagai jawaban Pemerintah Kota Makassar tentang kebutuhan masyarakat akan fasilitas, dalam implementasinya nampaknya mengabaikan poin sejarah yang terkandung di dalamnya. Sejak awal pengembangannya pada 16 Oktober 2007, telah menimbulkan konflik dari berbagai pihak yang berkepentingan. Pemerintah Kota Makassar yang memberikan hak pengelolaan kepada PT. Tosan Permai hingga 30 tahun mendapatkan lamponing dari berbagai pihak, seperti dari publik, akademisi, LSM, Lembaga Peduli Budaya (Beurau Pariwisata dan BPPP) dan pengamat lingkungan. Tulisan ini mencoba melihat Karebosi sebagai salah satu tempat yang memiliki titik sejarah tetapi belum mendapatkan perlindungan hukum sesuai dengan yang tercantum pada UU No. 5 tahun 1992 tentang Objek Sumpah Budaya.
BENTUK DAN RAGAM HIAS MAKAM ISLAM KUNO DI KABUPATEN JENEPONTO SULAWESI SELATAN nfn Hasanuddin; Basran Burhan
WalennaE Vol 13 No 1 (2011)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6356.794 KB) | DOI: 10.24832/wln.v13i1.254

Abstract

Eksplorasi yang telah dilakukan di Jeneponto diperoleh sebaran makam Islam kuno pada sepuluh situs dengan variabilitas temuan makam yang sangat kompleks. Hubungan yang tampak jelas antara bentuk jirat, nisan dan ragam hias menunjukkan bahwa semakin besar dan tinggi ukuran jirat dan semakin variatif ragam hias suatu makam, maka tokoh yang dimakamkan memiliki strata yang tinggi pula. Bentuk jirat dengan varian ragam hias tidak berkorelasi positif terhadap bentuk jirat untuk melihat strata sosial orang yang dimakamkan. Hubungan bentuk jirat dengan bentuk nisan memperlihatkan bahwa pemakaian bentuk nisan paling banyak pada jirat monolit bersusun dua disusul dengan jirat bersusun tiga. Khusus untuk nisan menhir hanya digunakan pada makam tanpa jirat atau jirat yang tersusun dari batu-batu alam. Tampaknya tidak ada pola yang jelas mengenai penggunaan bentuk-bentuk nisan terhadap bentuk-bentuk jirat. Demikian pula dengan sistem ideologi, terlihat bahwa di daerah Jeaeponto, walaupun kepercayaan yang dianut sebelum adanya Islam, namun masih terlihat adanya unsur-unsur pra-Islam yang teraktualisasi pada bentuk makam, nisan dan ragam hias sebagai akibat adanya proses akulturasi dua unsur budaya. Exploration has been done in Jeneponto was obtained distributions of moslem ancient tombs at ten sites with variability of the tomb findings are very complex. The apparent relationship between the form of sepulcher, tombstones and ornaments show that the larger and height and the more varied decoration of a tomb, then the figures are buried have a higher strata as well. Sepulcher with a variant form of ornamentation is not positively correlated with the form of sepulcher to see the social strata of people are buried. Relationship of sepulcher and tombstone shows that the use of tombstones are most on a monolithic with composition of two, followed with a three one. Especially for menhir, it is used only for tombs without sepulcher or sepulcher that is composed of natural stones. It seems there is no clear pattern regarding the use of grave forms on sepulcher forms. Similarly with ideological system, shows that in Jeneponto area, although the beliefs held prior to Islam, but still visible presence of elements of pre-Islamic which actualized in the form of graves, tombstones and various ornaments as a result of the acculturation process of the two elements of culture.