This Author published in this journals
All Journal JURNAL WALENNAE
Andi Muhammad Saiful
Balai Arkeologi Makassar

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MEMAKNAI LUKISAN GUA UHALIE: PENDEKATAN STRUKTURALISME LÉVI STRAUSS Andi Muhammad Saiful
WalennaE Vol 16 No 1 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1344.763 KB) | DOI: 10.24832/wln.v16i1.316

Abstract

South Sulawesi is an area that has many prehistoric painting sites. Research on the meaning of the painting is still very limited. Therefore this paper attempts to examine the meaning contained the Uhalie Cave site by Lévi Strauss structuralism approach. The issues raised in this paper are how the meaning of Uhalie Cave paintings and why anoa and pigs became the object of paintings in the Uhalie Cave. The answer obtained from the issues will explain the behavior of a group of painters located in the village. The methods used in this study are collecting secondary data of Uhalie Cave Research, then doing analysis of painting classiffication, finding the pattern of painting in the cave, finding sintagmatic, paradigmatic, transformation, determining signified-signifer, and distinctive feature. The result of this study explain that the happines and grief manifestation of Uhalie Cave human in hunting.Sulawesi Selatan merupakan wilayah yang memiliki banyak situs lukisan prasejarah. Penelitian terhadap makna lukisan tersebut masih sangat terbatas, oleh karena itu karya tulis ini mencoba mengkaji makna yang terkandung pada situs Gua Uhalie dengan menggunakan pendekatan strukturalisme Lévi Strauss. Masalah yang diangkat dalam tulisan ini adalah bagaimana makna lukisan Gua Uhalie dan mengapa anoa dan babi menjadi objek lukis di Gua Uhalie. Jawaban yang didapatkan dari permasalahan tersebut akan menjelaskan tingkahlaku kelompok pelukis yang terletak di daerah pedalaman. Metode yang digunakan dalam penelitian ini mengumpulkan data sekunder hasil penelitian Gua Uhalie kemudian melakukan analisis klasifikasi lukisan, menemukan pola keletakannya, menetukan tanda-penanda (signified-signifer), sintagmatik, paradigmatik dan transformasi, serta menentukan ciri pembedanya (distictive feature). Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa lukisan tersebut merupakan perwujudan suka duka manusia pendukung Gua Uhalie dalam melakukan perburuan.
MANGNGADE: CIRI TRADISI MEGALITIK DI DESA WANUAWARU, MALLAWA, MAROS Andi Muhammad Saiful
WalennaE Vol 16 No 2 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1377.396 KB) | DOI: 10.24832/wln.v16i2.341

Abstract

Mangngade or ‘performing custom’ is a common activity in Wanuawaru Village, Mallawa District, Maros Regency, which is conducted in December and January. The problem in this research is how Wanuawaru villagers doing it and how position Manggade to Wanuawaru Villagers. There are three stages during the Mangngade procession namely visiting salo, gathering in Saoraja, and gathering in Bulu Posso. In Mangngade, the community performs prayers related to agriculture to avoid natural disasters, to beg for peace, safety, and success of personal life. The methods of data collection are ethnographic method and archaeological data recording. The results of data recording are then analyzed using concept in megalithic culture. Based on those data, it is finally concluded that Mangngade is the character of a megalithic tradition that is still carried out by the Wanuawaru villagers from generation to generation for confession about their community.Mangngade atau ‘menjalankan adat’ merupakan kegiatan masyarakat di Desa Wanuawaru, Kecamatan Mallawa, Kabupaten Maros, yang dilakukan pada bulan Desember dan Januari. Masalah yang diangkat dalam penelitian ini, yaitu bagaimana proses acara Mangngade dan kedudukannya dalam masyarakat Desa Wanuawaru. Terdapat tiga tahap saat prosesi Mangngade, yaitu mengunjungi salo, berkumpul di Saoraja, dan berkumpul di Bulu Posso. Dalam Mangngade, masyarakat melakukan doa-doa yang berkaitan dengan pertanian, terhindar dari bencana alam, kedamaian, keselamatan dan kesuksesan kehidupan pribadi. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan yaitu, metode etnografi dan perekaman data arkeologi. Hasil perekaman data kemudian dianalisis dengan menggunakan konsep dalam kebudayaan megalitik. Berdasarkan data tersebut akhirnya disimpulkan bahwa Mangngade merupakan ciri tradisi megalitik yang masih dijalankan masyarakat Desa Wanuawaru secara turun temurun dari leluhurnya dalam membangun pengakuan keberadaan kelompoknya.