Bambang Sriyanto Eko Prakoso
Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PERANCANGAN SISTEM INFORMASI DRAINASE KOTA SURABAYA Bambang Sriyanto Eko Prakoso
Majalah Geografi Indonesia Vol 16, No 1 (2002): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (619.671 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13229

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian adalah melakukan identifikasi basis data dan “software” yang digunakan untuk mengelola basis data tersebut di daerah penelitian, dan mengembangkan atau merancang Sistem Informasi Drainase di daerah penelitian. Hasil identifikasi basis data dan “software” pengelolanya menunjukkan adanya dua jenis basis data yang telah dikembangkan di Kota Surabaya. Basis data yang pertama bersifat umum dan kurang lengkap serta dikelola dengan program Autocad. Sedangkan basis data yang kedua sudah memadai, bahkan struktur basis data dan tata letak data sudah baik yang dikelola dengan program ArcView versi 3.1. Oleh karena itu, pilihan basis data dijatuhkan pada basis data yang kedua dengan program pengelolanya adalah ArcView. Mengingat adanya, beberapa kekurangan pada basis data tersebut maka diperlukan penambahan dan pengurangan data serta dilakukan beberapa perubahan pada struktur data yakni untuk kepentingan hubungan dengan kenampakan lain. Aplikasi Sistem Informasi Drainase Kota Surabaya dikembangkan dengan program Visual Basic 6.0 dan ArcView versi 3.2. Dengan aplikasi ini memungkinkan pengguna akhir yang kurang ahli dapat mengoperasikan dengan cepat dan mudah dalam menghasilkan informasi yang dapat digunakan oleh para pengambil kebijakan untuk perencanaan dan pengelolaan sistem drainase Kota Surabaya.
DEPOPULASI DAN TEKANAN PENDUDUK TERHADAP LAHAN DI DAERAH PERDESAAN : STUDI DETERMINAN REGIONAL DEPOPULASI PERDESAAN DAN KONSEKUENSINYA PADA TEKANAN PENDUDUK ATAS LAHAN DI PERDESAAN KABUPATEN BANTUL R. Rijanta; Bambang Sriyanto Eko Prakoso
Majalah Geografi Indonesia Vol 16, No 2 (2002): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.13242

Abstract

ABSTRAK Depopulasi perdesaan atau menurunnya jumlah absolut penduduk perdesaan merupakan fenomena baru dalam sejarah kependudukan Indonesia. Fenomena ini mulai terlihat nyata di DIY sejak tahun 1990an. Sejauh ini belum ada penelitian yang menelaah hubungan antara depopulasi perdesaan sebagai wujud perubahan perilaku reproduksi dan migrasi penduduk di satu pihak dengan arah dan intensitas penggunaan lahan perdesaan di lain pihak sebagai wujud perubahan lingkungan binaan. Selanjutnya pertanyaan tentang konsekuensi depopulasi terhadap perbaikan kesejahteraan penduduk perdesaan juga penting dicari jawabannya, sebab selama ini berbagai kebijakan kependudukan umumnya berasumsi jumlah penduduk yang kecil merupakan prakondisi untuk meningkatkan kesejahteraan. Tujuan penelitian ini adalah untuk (1)menyusun tipologi daerah perdesaan menurut tingkat depopulasinya, (2)mengenal determinan-determinan depopulasi perdesaan pada tingkat regional. Selanjutnya berdasarkan tipologi yang tersusun akan dilakukan penelitian pada tingkat rumahtangga untuk mengetahui (1)faktor-faktor internal pada tingkat rumahtangga yang mendorong terjadinya depopulasi, (2)konsekuensi depopulasi perdesaan pada intensitas dan orientasi penggunaan lahan perdesaan pada tingkat rumahtangga, dan (3) konsekuensi depopulasi perdesaan pada tingkat kesejahtraan rumahtangga. Studi penyusunan tipologi perdesaan menurut tingkat depopulasinya akan memanfaatkan data sekunder BPS dan data primer disertai observasi lapangan dengan teknik rapid rural appraisal (RRA). Dalam penyusunan tipologi perdesaan dan pengenalan determinan depopulasi perdesaan pada tingkat regional digunakan metode pemetaan dan tumpang-susun peta dalam rangka mengenali hbungan relasional secara spasial dengan bantuan teknologi Sistem Informasi Geografi (GIS). Survai rumahtangga dilakukan pada desa-desa yang dipilih berdasarkan hasil tipologi di atas. Survai rumahtangga ini diperlukan untuk menjelaskan berbagai faktor internal yang mendorong rumahtangga perdesaan mengalami depopulasi dan mengenali konsekuensi depopulasi perdesaan pada intensitas dan orientasi penggunaan lahan. Analisis statistic baik yang bersifat deskriptif maupun relasional akan dipergunakan untuk mencapai tujuan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keruangan wilayah perdesaan di Kabupaten Bantul yang mengalami depopulasi berbentuk dua buah gugus, yaitu : (a)satu gugus besar di wilayah dataran rendah yang meliputi Kecamatan Tirtohargo, Srigading, Bambanglipuro, Srandakan, Pundong, dan sebagian Imogiri dan (b)satu buah gugus kecil di sekitar Kecamatan Dlingo. Terdapat empat macam faktor yang menentukan fisik alamiah yang berupa kerentanan wilayah terhadap bencana alam banjir dan kekeringan, (b) tingkat pendidikan masyarakat yang relatif tinggi, (c)isolasi wilayah yang tercermin dari sulitnya interaksi dengan Kota Yogyakarta sebagai pusat penyedia kesempatan kerja non-pertanian serta, (d)terjadinya migrasi keluar yang besar sebagai akibat dari sempitnya kemungkinan melakukan mobilitas non-permanen ke kota secara efisien. Depopulasi perdesaan pada tingkat rumahtangga terjadi karena rendahnya tingkat kelahiran dan kematian selama lima belas tahun terakhir disertai dengan tingkat migrasi keluar yang tinggi pula. Menurunnya jumlah absolut penduduk perdesaan pada tingkat rumahtangga ditangkap sebagai peluang untuk melonggarkan tekanan subsistensi dalam rangka menuju komersialiasi pertanian pada skala usaha yang amat kecil. Konsekuensinya depopulasi perdesaan tidak diikuti dengan penurunan tekanan penduduk atas lahan, tetapi sebaliknya justru diikuti dengan peningkatan intensitas tanam penggunaan masukan dan teknologi modern serta pemanfaatan tenaga kerja luar keluarga sebagai suplemen kecilnya jumlah tenaga kerja rumahtangga. Meskipun secara sosial-ekonomi depopulasi telah mampu mengantarkan masyarakat pada tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi, namun keberlanjutan kegiatan komersialiasi ini perlu dipertanyakan. 
Distribusi Keruangan Penanaman Modal di Kabupaten Bantul Aprilia Prasmudika Sighita; Bambang Sriyanto Eko Prakoso
Majalah Geografi Indonesia Vol 34, No 1 (2020): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.51561

Abstract

Kabupaten Bantul meraih prestasi tingkat nasional di tahun 2008 yakni memperoleh penghargaan dalam KPPOD Award. Penghargaan yang diperoleh menjadi awal yang baik bagi Kabupaten Bantul dalam memperbaiki iklim penanaman modal. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi dan menganalisis distribusi keruangan penanaman modal dan pengaruh karakteristik wilayah terhadap pemilihan lokasi penanaman modal. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis tetangga terdekat, dan analisis regresi berganda. Berdasarkan hasil kajian dapat disimpulkan bahwa distribusi keruangan penanaman modal di Kabupaten Bantul terdistribusi di 10 kecamatan, sedangkan 7 kecamatan lainnya belum menjadi destinasi penanaman modal. Untuk lokasi perusahaan penanaman modal membentuk pola dispersed atau merata dengan nilai R sebesar 5,920887 (R>1). Sebagian dari lokasi penanaman modal berada di tepi jalan raya. Pemilihan lokasi penanaman modal di Kabupaten Bantul dipengaruhi oleh faktor daya tarik karakteristik wilayah seperti pertumbuhan ekonomi dan jumlah objek wisata. Bantul Regency won the national award of KPPOD in 2008. That award was a good commencement to improve Bantul Regency’s investment climate. The aims of this research were to identify and analyse the spatial distribution of investment and the effect of regional characteristics on the selection of investment site. The analytical techniques used in the research are descriptive analysis, nearest neighbour analysis, and multiple regression analysis. Based on the analysis, it can be concluded that distribution of investment in Bantul Regency distributed in 10 sub-districts, while 7 others are not yet be destination of investment. For the location of investment firms forms a dispersed pattern with R value 5,920887 (R>1). Some investment firm are located on the edge of highway. The selection of investment sites in Bantul regency is affected by the attraction factors of the region characteristics such as economic growth and number of tourism objects.