Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

HUBUNGAN ANTARA HbA1C DENGAN TINGKAT KEPARAHAN RETINOPATI DIABETIKA PADA PASIEN DM DI KLINIK MATA NUSANTARA JAKARTA Pipit Chandra; Sri Rejeki Budi Rahayu; Ela Melani MS
Jurnal Sains Kesehatan Vol 28, No 2 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Tri Mandiri Sakti Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37638/jsk.28.2.44-51

Abstract

Retinopati diabetika merupakan komplikasi mikrovaskuler Diabetes Melitus (DM) ditimbulkan oleh pembuluh darah yang rusak dan bisa mengakibatkan kebutaan. Faktor yang paling sering menyebabkan Retinopati adalah buruknya kontrol glikemik. Pemeriksaan HbA1C adalah salah satu indikator untuk mengidentifikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara HbA1C dengan tingkat keparahan retinopati diabetika pada pasien DM di Klinik Mata Nusantara Jakarta periode April-Juni 2021. Penelitian ini menggunakan metode pengambilan data sekunder pada rekam medis pasien positif DM, pasien dengan diagnosa retinopati diabetik. Dengan jumlah sampel 40 pasien yang melakukan pemeriksaan HbA1C di Klinik Mata Nusantara.Cara pengambilan data dianalisis menggunakan uji Spearman. Kadar HbA1C buruk 8% sebanyak 5 orang 12,5% yang mengalami Non-Proliferative Diabetic Retinopthy (NPDR) dan 17 orang 42,5% yang mengalami Proliferative Diabetic  Retinopthy (PDR). Kadar HbA1C dengan tingkat keparahan retinopati diabetika pada pasien DM memiliki korelasi yang tinggi yaitu 0,61-0,80 dengan korelasi koefisien 0,690. Dari Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa adanya hubungan antara HbA1C dengan tingkat keparahan retinopati diabetika pada pasien DM di Klinik Mata Nusantara Jakarta, yang secara klinis data pasien DM yang menderita penyakit komplikasi retinopati diabetik mempunyai kadar HbA1C yang buruk.
PERBANDINGAN HASIL PEMERIKSAAN KADAR ASAM URAT MENGGUNAKAN METODE POCT (Point of Care) DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI PADA LANSIA Maudiva Hafsyah Maryani; Nurul Hanifah Fadhillah; Ela Melani MS
Media Bina Ilmiah Vol. 17 No. 3: Oktober 2022
Publisher : LPSDI Bina Patria

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.04 KB) | DOI: 10.33578/mbi.v17i3.164

Abstract

Examination of uric acid can be tested through the spectrophotometric method and the point of care testing (POCT) method. Given that Spectrophotometry has high sensitivity and specificity, while POCT has poor accuracy. POCT is usually used if there is an urgent situation such as damage to the Spectrophotometry tool. In this study, the POCT tool with the Autocheck brand was used. . The purpose of study: To compare the results of uric acid using a POCT device that uses capillary blood with spectrophotometry that uses serum in the elderly. Methods: Examination using an autocheck tool with the principle of POCT (Point of care Testing) where when blood is dripped on a strip, the uric acid catalyst triggers the oxidation of uric acid in the blood and Spectrophotometry with the principle of absorption of light at a certain wavelength region. Sampling was carried out on men and women starting at the age of 50 years. Results: The results of uric acid levels using strips (POCT) ranged from 3.9-9.2 mg/dl with a median value of 6.15 mg/dl and the results on a spectrophotometer ranged between 3.44-8.91 with a mean value of 5.12 mg/dl. Conclusion : The differences in the measurements POCT and spectrophotometry can be caused by several factors
Analisa Perubahan Kadar Hemoglobin Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik (GGK) yang Menjalani Hemodialisa di Rumah Sakit Annisa Cikarang Syari Mislina; Aries Purwaningsih; Ela Melani MS
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 2 No. 2 (2022): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.25 KB) | DOI: 10.59141/cerdika.v2i2.335

Abstract

Latar Belakang: Gagal ginjal kronis (GGK) didefinisikan sebagai kerusakan ginjal yang terjadi lebih dari 3 bulan, berupa kelainan struktural atau fungsional dengan atau tanpa penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG). Hemodialisis rutin dilakukan sebagai terapi pengganti fungsi ginjal pada penderita gagal ginjal. Anemia sering ditemukan pada pasien GGK dan dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup. Tujuan: Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar hemoglobin sebelum dan sesudah hemodialisa pada pasien gagal ginjal kronis di Rumah Sakit Annisa Cikarang. Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian analitik observasional dengan menggunakan data sekunder dan teknik Total Sampling. Sampel yang didapatkan berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi pada penelitian ini berjumlah 30 pasien. Data diambil dan dicatat dari rekam medis pasien GGK di RS Annisa Cikarang periode Juni – Juli 2021. Hasil: Rata-rata kadar hemoglobin pada pasien GGK sebelum diberikan terapi hemodialisis mengalami penurunan yaitu sebesar 8,480mg/dL. Rata-rata kadar hemoglobin setelah diberikan terapi hemodialisis mengalami peningkatan dari sebelum diberikan terapi hemodialisis yaitu 8,857 mg/dL. Terdapat perubahan kadar hemoglobin pada pasien GGK setelah diberikan terapi hemodialysis, dengan nilai P = 0,037 < 0,05. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian bahwa menunjukkan bahwa kadar hemoglobin pada pasien GGK sangat rendah dan dibawah batas normal kadar hemoglobin, meskipun terdapat peningkatan kadar hemoglobin setelah diberi terapi hemodialisis namun nilai tersebut masih dibawah batas normal kadar hemoglobin, nilai p lebih rendah dari nilai alpha (batas kemaknaan) dengan demikian H0 gagal diterima yang berarti terdapat perbedaan kadar hemoglobin pada pasien GGK sebelum dan sesudah diberikan terapi hemodialisis.