This Author published in this journals
All Journal FITRA
Rusdi Kurnia, M.Pd
Unknown Affiliation

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

KONSEP MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH (MBS) DAN IMPLEMENTASINYA Rusdi Kurnia, M.Pd
FITRA Vol 2, No 2 (2016): Vol. 2 No. 2 Juli - Desember 2016
Publisher : STAI Tapaktuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan karena adanya temuan bahwa program manajemen berbasis sekolah (MBS) kurang berjalan efektif di sekolah, sehingga berpengaruh pada peningkatan mutu. Semestinya, dengan adanya program MBS dapat mempermudah peningkatan mutu pendidikan, sehingga dapat memberikan kontribusi yang baik bagi pihak sekolah. Untuk kepentingan tersebut, diperlukan adanya kajian, untuk melihat tentang pelaksanaan MBS di sekolah. Hasil kajian menunjukkan bahwa pelaksanaan program manajemen berbasis sekolah pada umumnya sudah berjalan, walaupun dalam penerapan MBS memerlukan dana dan prasarana sebagai persyaratan mutlak di antara persyaratan lainnya. Karena itu, perlu adanya sosialisasi yang baik  yang diberikan oleh pihak sekolah terhadap masyarakat dan stakholders dalam penerapan MBS di sekolah. Hasil kajian ini dapat dijadikan kebijakan dalam mengambil sebuah keputusan yang tepat tentang pentingnya peran MBS dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Kata Kunci : Konsep, MBS dan Implementasinya
KONSEP PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PERSPEKTIF PEMIKIRAN ZAKIAH DARADJAT Rusdi Kurnia, M.Pd; Mira Sulfia, S.Pd
FITRA Vol 3, No 2 (2017): Vol. 3 No. 2 Juli - Desember 2017
Publisher : STAI Tapaktuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nilai-nilai dalam sebuah pendidikan lantas tidak membuat seseorang mampu menjadi manusia yang memiliki karakter, banyak yang menyebut bahwa pendidikan telah “gagal,” karena banyak lulusan lembaga pendidikan, termasuk yang pandai dan mahir dalam menjawab ujian, berotak cerdas, tetapi kurang memiliki mental yang kuat, bahkan mereka cenderung lebih mengesampingkan nilai-nilai moral. Untuk itu, pendidikan nasional harus berfokus pada penguatan karakter disamping pembentukan kompetensi. Penguatan karakter bangsa menjadi salah satu butir Nawacita yang dicanangkan Presiden Joko Widodo melalui Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). Pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam seluruh pembelajaran pada setiap bidang studi yang terdapat dalam kurikulum, sehingga pendidikan itulah yang menentukan masa depan seseorang. Apakah ia akan menderita atau bahagia, apakah ia akan menjadi orang baik ataukah akan menjadi jelatang masyarakat. Kata Kunci : Pemikiran Zakiah Daradjat
PENANAMAN NILAI-NILAI AGAMA ISLAM DI KALANGAN KELUARGA MUALLAF Rusdi Kurnia, M.Pd; Sani Khadijah, S.Pd
FITRA Vol 4, No 1 (2018): Vol. 4 No. 1 Januari - Juni 2018
Publisher : STAI Tapaktuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berupaya memberikan informasi kepada tokoh agama dan masyarakat tentang banyaknya kalangan non-muslim di Kecamatan Tapaktuan yang melakukan konversi ke agama Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang bagaimana para muallaf menanamkan nilai-nilai agama Islam dalam keluarganya. Aspek pendidikan agama Islam dan metode-metode apa saja yang digunakan dalam menanamkan nilai-nilai agama Islam tersebut  serta peran orang tua sebagai pemimpin dalam keluarganya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Data yang diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan yaitu ada dua faktor yang membuat para muallaf melakukan konversi agama, yaitu faktor kesadaran sendiri dan pernikahan. Penanaman nilai-nilai agama Islam dalam keluarga muallaf mencakup empat aspek yaitu pendidikan akidah, ibadah, sosial, dan akhlak. Penanaman nilai-nilai agama Islam tersebut diberikan melalui beberapa metode dalam kehidupan sehari-hari dan metode yang dominan diterapkan adalah metode nasehat, teladan, dan pembiasaan. Pengamalan ajaran agama Islam pada masing-masing keluarga muallaf berbeda-beda. Sebagian muallaf dalam mengamalkan ajaran agama Islam biasa-biasa saja, tetapi ada sebagian yang lain mengamalkan ajaran agama Islam dengan penuh keyakinan dan ketaatan. Kata Kunci : Penanaman, Ajaran Islam dan Keluarga Muallaf
KONSEP PENDIDIKAN TAZKIYATUN NAFSI DALAM PERSPEKTIF PEMIKIRAN SYEKH MUHAMMAD WALI AL-KHALIDI Rusdi Kurnia, M.Pd; Sumanidar, S.Pd
FITRA Vol 3, No 1 (2017): Vol. 3 No. 1 Januari - Juni 2017
Publisher : STAI Tapaktuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh degradasi moral yang sudah merajalela di kalangan manusia saat ini, di antara penyebabnya adalah dimensi kejiwaan yang rapuh, karena problem kehidupan yang dialaminya yang terkadang berbuat hal yang di luar kendali rasionalnya, karena lebih mementingkan hawa nafsunya. Karena itu, jiwa yang buruk tersebut perlu adanya penyucian jiwa (tazkiyatun nafsi), agar jiwa kita bisa tenang dan selalu menjalankan perbuatan terpuji. Karena itu, Syekh Muḥammad Walī, menawarkan konsep suluk atau khalwah yang merupakan salah satu cara untuk menyucikan jiwa. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian content analisis (kajian tokoh) dengan sumber data primer dan sekunder. Sedangkan pendekatan yang digunakan adalah histories-filosofis guna merumuskan secara jelas hakikat konsep-konsep pemikirannya. Syekh Muḥammad Walī menawarkan konsep menyucikan jiwa (tazkiyatun nafsi), yaitu dengan melaksanakan suluk atau tawajuh. Suluk yang dimaksud adalah mengasingkan diri di bawah bimbingan mursyid untuk mendekatkan diri pada Allah, untuk dapat mengenal diri, memahami esensi kehidupan, pencarian Tuhan dan pencarian kebenaran sejati, sedangkan tawajuh adalah menghadap Tuhan, di mana tawajuh dan suluk adalah sama-sama ikhtiar dalam menempuh jalan untuk mencapai tujuan ṭarīqah, sedangkan yang membedakan waktu pelaksanaannya, di mana suluk dikerjakan dalam keadaan berpuasa dengan waktu yang lama, sedangkan tawajuh boleh dilaksanakan dalam keadaan tidak berpuasa dan biasanya dilaksanakan seminggu sekali. Kata Kunci : Konsep dan Tazkiyatun Nafsi
TRANSFORMASI INTELEKTUAL DALAM KONTEKS PEMBARUAN PENDIDIKAN ISLAM Rusdi Kurnia, M.Pd
FITRA Vol 1, No 2 (2015): Vol. 1 No. 2 Juli - Desember 2015
Publisher : STAI Tapaktuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembaruan Islam bagaimanapun yang mau dilakukan sekarang ini, mestilah dimulai dengan pendidikan, sebab pendidikan merupakan kunci yang membuka pintu ke arah modernisasi. Karena itu, para pemikir pendidikan Islam, perlu menelaah kembali pendidikan Islam baik secara restropektif maupun prospektif. Retrospektif yakni tentang proses perubahan-perubahan bentuk kependidikan pada masa lampau. Sedangkan prospektif yakni tentang proses perubahan-perubahan bentuk kependidikan pada masa yang akan datang, yaitu gagasan dan program pembaruan pendidikan Islam yang memiliki akar keterkaitan dengan modernisasi pemikiran dan peradaban Islam secara keseluruhan. Ia memiliki  keterkaitan dan keterikatan dengan tajdīd yaitu tentang upaya menghidupkan kembali keimanan Islam. Ia merupakan dasar bagi keyakinan bahwa gerakan-gerakan pembaruan tetap merupakan bagian asli dan sah dari penjabaran Islam di panggung sejarah. Kata Kunci : Pembaharuan dan Pendidikan Islam