abdul wachid bambang suharto
Institut Agama Islam Negeri Purwokerto

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

SUMBER TASAWUF, SYAHADAT, DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMAKNAAN TERHADAP REALITAS abdul wachid bambang suharto
Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Department of Indonesia Language and Literature Teaching, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/dialektika.v8i1.17545

Abstract

Abstract: This research is motivated by the vital words of shahada and the cleanliness of the human heart or in Islamic mysticism that is called Sufism. Apart from Sufism, there are also terms “esotericism” and “spirituality” whose alignment of philosophies and concepts are often vague. Therefore, the purpose of this study is to identify the source of Sufism, the concept of the shahada, and the implications for the reality of life. The data source used is documentation through the process of reading, analyzing, observing, and describing information related to the object of research. The results of this study indicate that there are many meanings of the term Sufism, those are purified people, goat hair that Sufis commonly used as clothing, the name of a room near Medina, rows of saf when praying, and wisdom. The source of Sufism comes from Islamic values. Sufism is associated with awareness and feeling. Sufism is also related to Islamic morals. Therefore, the principal reference sources are al-Qur'an and as-Sunnah (Hadith). The reality in the perspective of Sufism is "Everything perishes except His Face" (QS al-Qashas / 28: 8), as the substance of all faiths, "There is no essence except Allah".  Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingya ucapan syahadat dan kebersihan hati manusia atau pada wilayah mistisisme Islam yang disebut sebagai tasawuf.  Selain tasawuf, terdapat juga istilah “esoterisme” dan “spiritualitas” yang kerap kabur penyejajaran filosofi dan konsepnya. Oleh sebab itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi sumber tasawuf, konsep syahadat dan implikasinya terhadap realitas kehidupan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian pustaka (library research). Objek penelitian digali lewat beragam informasi kepustakaan. Pendekatan penelitian menggunakan penelitian kualitatif yang mengarah pada penjelasan deskriptif. Sumber data yang digunakan berupa dokumentasi melalui proses membaca, menganalisis, mencermati, dan menguraikan informasi-informasi yang berhubungan dengan objek penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan banyak makna dari istilah tasawuf, antara lain: orang yang disucikan, bulu kambing yang biasa digunakan sebagai bahan pakaian kaum sufi, nama suatu ruang dekat Madinah, baris-baris saf ketika shalat, serta hikmah. Sumber tasawuf berasal dari nilai-nilai keislaman. Tasawuf dikaitkan dengan kesadaran dan perasaan. Tasawuf juga berhubungan dengan moralitas Islam. Maka dari itu, sumber rujukan utamanya adalah al-Qur’an dan as-Sunnah (Hadis). Realitas dalam perspektif tasawuf ialah “Segala sesuatu binasa kecuali wajah-Nya” (Q.S. al-Qashas/ 28: 8), sebagaimana substansi dari keseluruhan syahadat, “Tidak ada hakikat kecuali Allah”.
Misunderstanding in the Interpretation of the Poem "Cinta Kepayang" in Gandrung by A. Mustofa Bisri Abdul Wachid Bambang Suharto
BAHASTRA Vol 41, No 2 (2021): Bahastra
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26555/bahastra.v41i2.20523

Abstract

This research aimed to reveal misunderstanding in the interpretation of the poem “Cinta Kepayang” in the poetry book Gandrung by A. Mustofa Bisri. The characteristic of A. Mustofa Bisri poems in Gandrung is that his poems are very rich in symbols related to the thought of Islamic mysticism (Sufism). The mind is a blend of mystical experience and aesthetic experience. This study uses a qualitative approach to interpretate the poem “Cinta Kepayang”. It is library research by collecting primary and secondary data related to Gandrung by A. Mustofa Bisri. The results revealed that the interpretation of “Love” (Cinta) was represented in two styles; first, positioning the symbolic image of women as the presence of divine beauty, second, positioning the symbolic image of women as the most perfect expression of divine love fusion.
PENERAPAN DISIPLIN POSITIF DALAM PEMBELAJARAN JARAK JAUH DI SMP NEGERI 1 BANYUMAS Mistina Hidayati; Abdul Wachid Bambang Suharto
Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial Vol 31, No 1 (2021): JURNAL PENDIDIKAN ILMU SOSIAL
Publisher : Department of Accounting Education, Faculty of Teacher Training and Education Universitas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jpis.v31i1.13360

Abstract

The issue with distance learning in social studies subjects at SMP Negeri 1 Banyumas is students' lack of discipline in responding to and completing assignments assigned by the teacher. According to observations made during the first three months of the odd semester of 2020/2021, the average student attendance rate in distance learning is 75%. Meanwhile, students have an average of 70% discipline when it comes to collecting assignments or responding to the teacher. It is possible because the teacher has not instilled positive discipline in the students, resulting in subpar results. The goal of this research is to describe an overview of positive discipline implementation in the classroom, including the preparation of class agreements, implementation, and results. The findings revealed that implementing positive discipline through class agreement had a positive impact on both teachers and students. The student discipline level in the assignment is 86%, and the average attendance is 90%; the qualifications are excellent. The results of interviews with students conducted via Google Forms and distributed by the teacher regarding the use of positive discipline received a very positive response, with 96.73 percent responding positively. As a result, teachers should use positive discipline during distance learning. This clearly demonstrates that, even when learning is done at a distance, critical assessment of learning can still be conducted.
FILSAFAT SEBAGAI ILMU YANG MENJADI LANDASASAN BAGI ILMUWAN DALAM MENGEMBANGKAN SAINS Imro'atun Istikhomah; Abdul Wachid Bambang Suharto
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v4i1.31192

Abstract

Pada hakikatnya, manusia akan selalu berusaha meningkatkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Hal ini dilakukan karena dengan pengetahuan akan menimbulkan kepuasan tersendiri sesuai tuntutan zaman. Tidak hanya sebatas pengetahuan semata, tetapi lebih kepada pengetahuan dan kebenarannya. Mempelajari segala sesuatu dengan ilmu, pada dasarnya merupakan upaya yang dilakukan manusia untuk mendapatkan suatu kebenaran. Kebenaran merupakan keadaan dimana sesuatu sesuai dengan objek yang sesungguhnya. Dengan demikian, mempelajari sesuatu hal melalui pengetahuan (filsafat) merupakan sebuah lankah untuk mendapatkan pengetahuan yang benar dan objektif. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui hakikat filsafat sebagai landasan ilmu dalam pengembangan sains. Kebenaran merupakan inti dari filsafat menjadi pijakan atau landasan bagi setiap ilmu pengetahuan. Seperti ilmu fisika pada awalnya adalah filsafat alam, ilmu ekonomi yang mulanya adalah filsafat moral. IPA atau sains yang di dalamnya meliputi fisika, kimia, biologi menggunakan langkah ilmiah, berfikir ilmiah, dan menggunakan kerangka-kerangka ilmiah. Dari sinilah filsafat sains digunakan untuk mempelajari, mengungkap, dan menyelesaikan permasalahan sains bagi kehidupan manusia. Penelitian ini membahas perihal keharusan seorang ilmuan dalam mengembangkan sains agar; 1) menguasai pengetahuan dasar tentang sains sebagai ilmu penegetahuan bidang garapannya, 2) memahami keterkaitan ilmu sains dengan ilmu-ilmu yang lain, 3). memahami dengan sepenuhnya bahwa sikap ilmiah merupakan komponen dalam sains yang harus dipatuhi 
SUMBER TASAWUF, SYAHADAT, DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMAKNAAN TERHADAP REALITAS abdul wachid bambang suharto
Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Department of Indonesia Language and Literature Teaching, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/dialektika.v8i1.17545

Abstract

Abstract: This research is motivated by the vital words of shahada and the cleanliness of the human heart or in Islamic mysticism that is called Sufism. Apart from Sufism, there are also terms “esotericism” and “spirituality” whose alignment of philosophies and concepts are often vague. Therefore, the purpose of this study is to identify the source of Sufism, the concept of the shahada, and the implications for the reality of life. The data source used is documentation through the process of reading, analyzing, observing, and describing information related to the object of research. The results of this study indicate that there are many meanings of the term Sufism, those are purified people, goat hair that Sufis commonly used as clothing, the name of a room near Medina, rows of saf when praying, and wisdom. The source of Sufism comes from Islamic values. Sufism is associated with awareness and feeling. Sufism is also related to Islamic morals. Therefore, the principal reference sources are al-Qur'an and as-Sunnah (Hadith). The reality in the perspective of Sufism is "Everything perishes except His Face" (QS al-Qashas / 28: 8), as the substance of all faiths, "There is no essence except Allah".  Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingya ucapan syahadat dan kebersihan hati manusia atau pada wilayah mistisisme Islam yang disebut sebagai tasawuf.  Selain tasawuf, terdapat juga istilah “esoterisme” dan “spiritualitas” yang kerap kabur penyejajaran filosofi dan konsepnya. Oleh sebab itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi sumber tasawuf, konsep syahadat dan implikasinya terhadap realitas kehidupan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian pustaka (library research). Objek penelitian digali lewat beragam informasi kepustakaan. Pendekatan penelitian menggunakan penelitian kualitatif yang mengarah pada penjelasan deskriptif. Sumber data yang digunakan berupa dokumentasi melalui proses membaca, menganalisis, mencermati, dan menguraikan informasi-informasi yang berhubungan dengan objek penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan banyak makna dari istilah tasawuf, antara lain: orang yang disucikan, bulu kambing yang biasa digunakan sebagai bahan pakaian kaum sufi, nama suatu ruang dekat Madinah, baris-baris saf ketika shalat, serta hikmah. Sumber tasawuf berasal dari nilai-nilai keislaman. Tasawuf dikaitkan dengan kesadaran dan perasaan. Tasawuf juga berhubungan dengan moralitas Islam. Maka dari itu, sumber rujukan utamanya adalah al-Qur’an dan as-Sunnah (Hadis). Realitas dalam perspektif tasawuf ialah “Segala sesuatu binasa kecuali wajah-Nya” (Q.S. al-Qashas/ 28: 8), sebagaimana substansi dari keseluruhan syahadat, “Tidak ada hakikat kecuali Allah”.